Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Orang kampung


"Sok bijak," cibir Mami Bian pada menantunya itu. Tapi Ia diam, ketika Rayan menatapnya tajam. Mereka melanjutkan sarapan dengan tenang, seperti yang selama ini diajarkan dalam keluarga mereka.


"Astaga, Ai. Sumpah, makanannya enak banget. Mei jadi pengen belajar masak sama koki disini." racau Mei, dengan menikmati semua hidangan yang ada.


Rayan dan Aida hanya tersenyum melihatnya.


"Makan jangan berbicara, Mei. Tak sopan." tegur Sam. Mei hanya tertunduk malu, dan melanjutkan sarapannya.


"Ya, seperti itulah orang kampung. Berbicara saat makan, dan suka berantakan. Lihat, tampaknya Aida tak pernah makan enak. Sampai-sampai, belepotan begitu." lirik sinis Mami Bian pada Aida.


Aida menyadarinya. Ia lalu menoleh ke Rayan, "Mas, Aida belepotan?" tanya nya.


Rayan bergeming. Hanya menoleh dan melihat sedikit sisa makanan di bibir Aida. Ia mengusap dengan ibu jarinya, lalu ********** hingga bersih.


"Sudah, bersih." jawabnya datar.


Sam hanya tersenyum, Mei bahkan tertawa. Apalagi, melihat ekspresi Mami Bian yang tampak begitu jengah dengan pemandangan yang ada di depan nya. Menatap kegelisahan yang begitu merasuk dalam hati nya. Hingga nafasnya terasa begitu sesak.


"Ray, nanti malam ada sebuah acara. Kita di undang kesana." Sam menetralkan keadaan.


"Acara apa? Boleh Nur ikut?"


"Jangan main-main, Ray. Itu acara penting," Mami Bian memotong pembicaraan.


"Sekalian, aku memperkenalkan dia ke publick." jawab Ray.


"Baiklah, kau boleh ajak Aida. Nanti, Mona akan mengantar gaun nya." jawab Sam.


"Mei?" gadis itu ikut dalam obrolan. Ia terlalu amanah, hingga ingin ikut kemanapun Aida pergi.


"Kau mau mencantik dengan gaun? Baiklah, akan ku pinjamkan gaun untukmu. Terlalu mewah, jika kau juga harus beli gaun sendiri."tukas Mami Bian. Mei hanya membalas, dengan memanyunkan bibirnya Lima centi.


" Ya, apa boleh buat." jawabnya, setengah mencibir. Aida hanya mengangguk. Ia tak ingin memperkeruh keadaan saat ini.


" Sam, apa lagi jadwal hari ini? Adakah pertemuan dengan dokter?" sambung Ray dengan pertanyaan nya.


"Tidak ada. Hanya ke kantor, dan kembali memeriksa semua dokumen perusahaan. Hanya itu terapimu, Ray."


"Baiklah... Ayo kita berangkat." ajak Ray, lalu beranjak dari kursinya. Aida mengikuti, dan mengantar nya hingga ke depan. Rutinitas nya sama, seperti ketika Rayan masih menjadi Tono. Dan meski, Aida masih memanggilnya Tono hingga sekarang.


"Hati-hati dirumah," kecup Tono di keningnya.


"Iya, Mas juga hati-hati. Jangan lupa vitamin nya." ucap Aida.


Ia pun melangkahkan kakinya masuk, menghampiri Mei yang tengah membantu para pelayan membereskan meja makan.


"Biar sajmya saja, Kak Mei."


"Ngga papa, Mba. Mei udah biasa beres-beres. Nanti kalau terlalu santai duduk, malah ngga enak badan nya." balas Mei pada pelayan itu.


"Nyonya, ada yang di inginkan? Biar saya carikan."tawar salah seorang diantara para pelayan itu.


"Engga, Mba... Rima. Nanti kalau ada perlu, Aida panggil." balas Aida dengan ramah.


Para pelayan disana, dengan gampang menyesuaikan diri. Membuat Aida dan Mei pun nyaman diantara mereka. Membuatnya lupa, dengan ketegangan yang ditimbulkan si pengintai di kursi besarnya.


" Nyonya Mami, memang suka duduk disana setelah sarapan. Ia akan disana, setidaknya satu jam untuk membaca."


"Oh, jadi begitu? Terimakasih infonya." ucap Aida. Semua pelayan undur diri, untuk kembali pada pekerjaan nya masing-masing.