
"Nur, aku pergi." pamit Tono pada sang istri. Aida mengulurkan tangan, meski Tono belum tahu apa maksudnya, dan Ia pun santai meninggalkan Aida pergi begitu saja.
"Eh, ini orang. Mas!" panggil Aida, yang juga berlari menghampiri suaminya.
"Iya, Nur? Ada apa lagi?"
"Cium tangan nya belum."
"Oh, pakai cium tangan kah?"
"Astaga, Mas Tono." Aida geregetan.
"Iya, maaf. Nih," Tono mengulurkan tangan, lalu Aida meraih dan menciumnya. Tono membalas dengan usapan lembut di rambut kusut Aida yang bahkan belum mandi.
"Maaf, aku belum terbiasa."
"Iya," jawab Aida. Tono pun kembali melangkah, untuk menemui Om Edo diluar.
"Kalian aneh." ucap Mei, sembari mengunyah sarapannya.
"Hanya belum terbiasa, mae."
"Mei, Aida. Astaga, kumat lagi." kesal Mei yang kembali di jahili sahabatnya itu.
Tapi seperti yang di katakan Nenek pada Tono, jika semarah dan separah apapun mereka berkelahi, mereka akan segera kembali seperti biasa. Sahabat yang kompak, dan selalu berjalan berdua menghadapi kerasnya kehidupan. Dan kini, mereka bersiap menemani Nenek Mis berangkat ke warungnya..
"Ngga pakai motor, Ai?"
"Engga, Mei. Males. Motor itu justru mengingatkan terus sama Ayah. Bawaannya sedih jadinya."
"Terus, kalau Mas Tono yang bawa. Masih sedih?"
"Engga," geleng Aida. Mei tersenyum, yang tandanya Aida dapat melebur rasa sedih nya ketika bersama Tono.
*
"Om, Rumah sakit nya jauh?"
"Ah, engga. Kamu kan pernah di rawat disana. Ingat?"
"Nur?"
"Eng... Aida, Om. Saya, lebih nyaman memanggilnya, Nur." jawab Tono, polos.
"Tumben mau? Kamu ngga di omelin, manggil nama itu ke dia?" tanya Om Edo, yang tahu watak keponakannya itu.
"Awalnya sih, iya. Tapi, mungkin kesel dan makin terbiasa."
Om Edo makin tertawa lebar. Di tambah menggelengkan kepala membayangkan tingkah dua pasangaj baru itu. Andai keadaan tak begini, pasti mereka akan lebih ramai dan penuh canda tawa bersama. Apalagi Nek Mis, pasti akan semakin bahagia di hari tuanya.
Tiba di tempat kerja. Rumah Sakit Medika yang memang tengah dalam renovasi besar-besaran. Hanya saja, dilakukan sebagian demi sebagian, mengingat itu Rumah sakit satu-satunya di kota kecil itu. Apalagi swasta, dan sangat di butuhkan masayarakat.
"Ini dulu milik pemerintah. Tapi, karena hampir bangkrut dan terindikasi korup, maka di beli oleh seorang pengusaha besar."
"Hmmm? Pasti kaya raya sekali."
"Ya, jangan ditanya. Keluarga Hartono dan Sutopo, adalah dua pengusaha besar yang tak perlu di ragukan lagi kiprahnya. Satu lagi, Suryono. Udah, kalau di gabungin, udah ngga kebayang seberapa kaya rayanya" puji Om Edo. "Kemarin, beliau kemari. Mengecek kondisi proyek. Tapi ya itu, belum om kerjain gara-gara gambar."
"Iya, Om. Lalu, saya kerja apa disini?"
"Nguli dulu, bisa? Soalnya, ya identitas kamu, Ton."
"Iya, saya mengerti." jawab Tono.
Om Edo membawanya ke dalam ruang ganti. Ia memberi sebuah seragam untuk Tono bekerja, lengkap dengan topi dan maskernya. Disana penuh debu, dan kondisi Tono memang belum sehat betul saat ini.
"Nanti, akan saya beritahu pengawas mengenai kamu. Aplagi keadaan kamu. Pasti dia mengerti."
"Iya, terimakasih."
Tono mulai berbaur. Tak butuh waktu lama, karena semua pekerja juga adalah tetangga Nek Mis. Ia sudah sering lihat, dan hanya tinggal menyapa dan mengakrabkan diri.
Hanya, tampaknya beban masih begitu berat untuk Tono saat ini. Faktor kesehatan, atau memang Ia yang tak pernah bekerja seberat itu. Om Edo selalu mengawasinya, memperhatikan setiap langkah yang diambil Tono.
"Kamu, seperti berasal dari orang mampu. Seperti tak pantas, melakukan pekerjaan berat dan kasar seperti ini." ucap Om Edo, yang duduk di sudut ruangannya.