Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Cinta segitiga


"Nur, kenapa?" tanya Ray, ketika melihat sang cahaya tampak redup dan tak seterang biasanya.


"Ngga tahu, Mas. Cuma.... Ada sesuatu yang Aida fikirkan."


"Apa, katakan. Kau mau sesuatu? Kita akan membeli nya, besok."


"Kalau Aida mau sekarang?" tantangnya..


Ray hanya memainkan bibirnya. Ia menghampiri Aida yang tengah duduk manis di tepi ranjang. Ia membungkukkan badan, mendekatkan wajahnya pada sang istri. Tatapan itu begitu dekat, seolah tak ada jarak lagi diantara mereka.


" Mau apa?" tanya nya lagi. Aida hanya menggeleng, menatap jakun Ray yang naik turun. Ia pun membelainya dengan begitu gemas. Namun sayang, itu adalah sesuatu yang teramat sangat sensitif bagi Ray.


"Nur," panggilnya. Tampak jelas, jika Ia tengah menelan saliva nya. Apalagi, ketika menatap sesuatu yang seolah menantangnya di depan mata.


"Jangan gerak, Aida suka mainin ini. Lucu." jawabnya gemas.


Ray seolah hilang kendali. Ia langsung menyerang Aida dengan brutal membuatnya terjatuh dan terlentang diatas ranjang mereka. Aida hanya tertawa, merasakan geli dan nikmaat di sekujur tubuh, yang seolah tak tertinggal oleh jejak Ray.


"Kau menantangku. Aku tak bisa ditantang," bisiknya, menyesaap ceruk leher Aida dengan banyak tanda disana.


Aida hanya tertawa renyah, menggeliat dengan serangan yang indah itu. Namun, kali ini Ia tak tinggal diam. Ia mengimbangi permainan yang Ray berikan. Ray, yang kini berada dalam kungkungan Aida, mencoba pasrah mengikuti segala permainannya. Tersenyum puas, dengan membelai rambutnya yang indah, ketika Aida tengah bermain dengan adik kesayangannya.


"Nur!" panggilnya, sembari mengerang dengan kuat.


Aida pun merangkak menghampirinya menghampirinya lagi, menggeliat diatas tubuh kekar itu dengan segala aktifitasnya.


"Katakan, Mas cinta sama Aida." pintanya dengan lembut.


"Aku mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu." Ray meraih wajah dan tubuh itu, lalu kembali membalik posisi mereka. Aida terpekik, Ray pun semakin menatap gemas padanya.


**


Di sebuah makam, di malam hari yang dingin. Seorang pria berjalan dengan sebuah buket bunga besar di tangannya. Ia duduk di makam itu, mengganti semua bunga yang layu, dengan bunga yang baru.


"Hay sayang, bagaimana kabarmu? Pasti dingin kan, malan ini? Ya, aku pun merasakannya. Ini, jaket untukmu." pria itu, memasangkan jaket di batu nisan itu.


"Kau pasti tahu, jika dia sudah mendapat yang baru. Mereka saling mencintai. Bahkan, sangat sulit untuk dipisahkan. Aku sudah berusaha, tapi memang tak bisa." ucapnya.


Air matanya mengalir, meski tak begitu deras. Ia mengusapnya dengan sehelai sapu tangan putih, pemberian gadis itu padanya. Sapu tangan, yang selalu ada dalam saku jasnya. Sapu tangan, yang tak akan pernah Ia pinjamkan pada siapapun. Meski seorang gadis menangis berlinang air mata di dekatnya.


Sam, Fany dan Ray. Terlibat sebuah cinta segitiga kala itu. Fany begitu menggilai Ray, sedang Sam begitu mencintai Fany. Semua, apapun Fany lakukan untuk Ray, dan Sam selalu membantu nya dari belakang. Ya, semua demi cinta Sam padanya. Ia sanggup menahan sakit nya sendiri, asalkan Fany bisa tertawa bahagia, meski bukan karenanya.


"Aku rindu senyum mu lagi, Fan. Aku rindu ceria dan semua harapanmu tentang hari esok. Meski, senyum dan ceria itu bukan untuk ku. Dan semua harapanmu, adalah ketika kau bahagia bersamanya, Fan. Kau tahu, aku juga sudah berusaha, agar Ray tak pernah melupakanmu. Agar Ray, selalu memberikan cintannya untukmu, tanpa pernah membuka hati pada yang lain. Tapi gagal," sesalnya.


*Mampir karya baru Mak Otor lagi, Gaes😘


Malam hadir dengan bintang yang gemerlap. Begitu cerah, secerah hati Abi kali ini. Ia tengah mengunggu Rere, kekasih yang telah di pacarinya Tiga tahun ini. Tak hanya bertemu, bahkan Abi telah menyiapkan sebuah cincin untuk melamarnya.


"Bi, Re lagi di jalan. Bentar lagi sampai, tunggu ya?" jawabnya dengan begitu ceria.


"Ya, sayang. I Love You," ucapnya lembut.


"I Love You, Bi." Rere langsung mematikan ponselnya.


Kala itu, Rere memang tengah berjalan kaki dari kantornya menuju Abi. Perjalanan lebih dirasa cepat dan bebas dari hambatan macet. Ya, hari ini tepat Tiga tahun Aniversary mereka. Dan keduanya ingin merayakan nya berdua. Abi tak bilang, jika ingin melamar Rere malam ini.


Abi awalnya duduk di taman itu. Taman yang tengah dalam keadaan ramai, karena memang tepat di malam minggu. Abi gelisah, duduk dan berdiri terus tanpa henti. Bahkan duduk pun, kaki nya di goyang-goyangkan tanpa henti.


"Aaarrh, ****! Se parah ini kah, cemas ketika akan melamar?" gerutunya. Apalagi, yang di tunggu tak kunjung datang.


Hatinya semakin gelisah, dan berdiri di dekat tiang listrik agar kakinya tak semakin gemetar menunggu.


"Abi!" pekik seorang wanita dari sebrang jalan. Abi menoleh, tersenyum dengan tatapan penuh rindu. Wajar, karena memang mereka seminggu tak bertemu.


Rere melambaikan tangan. Menengok kana kiri dan mulai melangkahkan kakinya menyebrang jalan. Senyum Abi semakin lebar, membalas lambaian tangan nya. Namun, sebuah cahaya lampu mengganggu pandangannya. Begitu terang, bahkan membuatnya tak dapat melihat langkah Rere yang harusnya semakin dekat dengan nya.


Bunyi klakson beberapa kali memekakan telinga. Abi beberapa kali berusaha mengatur fokus matanya. Menyipitkan matanya agar cahaya yang tertangkap tak begitu terang. Tapi, yang tampak justru lain.


Braaak!! Abi begitu jelas melihat Rere tertabrak mobil itu. Rere pun langsung jatuh di aspal dengan tubuh penuh darah di dahi nya. Tubuh aabi mematung. Kaki dan tangannya gemetar hebat, terasa begitu lemas, seolah tak ada darah yang mengalir.


"Rere," lirihnya dalam diam.


"Tolooong! Toloooong!" pekik seseorang disana. Seorang wanita yang dengan sigap menolong Rere dan membungkus lukanya agar tak semakin banyak darah mengalir.


Buuugh! Seorang pria berlari dan menabrak Abi. Saat itulah, Abi mulai sadar dari syoknya. Ia langsung berlari menghampiri Rere disana.


"Re, Rere. Bangun, Re. Ini aku, Abi. Aku datang ke kamu, Re. Bangun."


Tubuh Abi bergetar, menggenggam erat tangan Rere yang lemah. Air mata jatuh tanpa perintah, mengalir ke pipi pria itu hingga membasahi tangan Rere dalam genggaman nya.


"Abi," panggilnya lirih, di sisa tenaga yang ada. "Maafin, Rere telat. Abi ngga marah?"


"Mana bisa aku marah sama kamu, sayang. Ayo bangun, kita ke Rumah Sakit. A-aku mau lamar kamu, ini cincin nya." ucap Abi, mengeluarkan cincin itu dari saku jasnya. Ia lalu memasangkan nya di jari manis Rere yang penuh darah itu.


Rere tampak tersenyum meski begitu lemah. Wanita tadi pun memberi pertolongan seadanya, karena Ia juga menunggu kendaraan yang datang. Mobil penabrak, lari secepat kilat meninggalkan Rere yang terbaring lemah.


"Bi, jaga diri, ya? Abi harus hidup bahagia, meski tanpa Rere. Rere (menghela nafas panjang)"


"Re, engga, Re. Bangun, sebentar lagi mobil datang. Maaf, Aku hanya bawa motor malam ini. Biasanya, kamu suka jalan pakai motor." tangis Abi.