
"Mei, tutup aja yuk, Mei." ajak Aida.
"Ini baru jam berapa loh, Ai."
"Tapi ngga nyaman. Pengen cepet tutup. Ayo," rengek Aida.
"Yaudah, ayok." Mei menurutinya kali ini.
Perlahan mereka menutup warunh itu. Aida pun pulang terlebih dulu, dan meninggalkan Mei yang masih dalam pengawasan untuk pantainya.
Aida berjalan kaki, menolak ketika Mei akan mengantarnya pulang. Sepanjang jalan hanya diam, larut dalam lamunan kosongnya.
"Ada apa sih, Mas?" fikirnya kacau. Ia segera masuk ketika sampai dirumah. Mengurung diri dengan segala kegalauannya.
**
"Mei! Mei!" panggil seseorang dari kejauhan..
"Itu siapa? Kok rame-rame pakai mobil mewah? Mei ngga ada kenalan orang kaya loh." gumamnya, sembari menatap pada arah suara.
Ia Tono. Atau yang kini sudah menjadi Rayan. Ia telah berganti pakaian dengan yang lebih rapi. Mengenakan jas, dasi, dan setelan serba hitamnya.
"Wow, tamvan." kagum Mei. Ia terus memperhatikan, hingga yakin jika yang Ia lihat itu adalah Tono.
"Eh, Mas Tono nyewa baju dimana?" tanya Mei, polos. Mona hanya tersenyum, menunduk dan menyapa Mei dengan ramah.
"Saya, Mona. Asisten Tuan Rayan."
"Tuan Rayan? Dia?" tunjuk Mei pada Tono.
"Iya, rupanya Aku Rayan. Arrayan Bima Hartono. Nur, menemukan identitasku yang nyaris terhapus, dan hanya tersisa nama belakangku."
"Hartono, jadi, Tono?" ucap Mei, masih ikut bingung.
"Aku masih belum terlalu ingat, hanya sesekali seperti melihat sesuatu yang familiar bagiku. Sam dan Mona selalu membing." jelasnya. "Oh iya, Nur mana?"
"Aida pulang. Galau agaknya, tapi tak tahu galau kenapa."
"Aku akan menyusulnya, pinjam motormu." pinta Tono.
Mei memberikan kunci motor yang terparkir di sebelah warung itu. Tono pun segera menyetirnya dan menyusul Aida pulang.
"Pak, terus saya gimana?" pekik Mona.
"Nyusul, Pak Rayan."
"Yaudah, sama saya aja." ajak Mei.
Mona mengajak Mei naik ke mobil, dan menyusul Tono yang telah mendahului. Mei pun menceritakan semua yang Ia ketahui, tentang Tono dan Aida.
"Mereka saling cinta?" tanya Mona, menelusuri lebih lanjut.
"Dulu mungkin belum. Tapi Mei yakin, kau sekarang mereka saling cinta."
"Ah, baiklah." angguk Mona.
***
Tok... Tok... Tok..!
"Nur," panggil Tono. "Aku pulang, Nur. Buka pintunya,"
"Aida yang daritadi di kamar, akhirnya keluar untuk membuka kan pintu untuk suaminya."
"Mas, kok udah....." ucapan terpotong, pintu kembali ditutup rapat.
"Loh, kenapa ditutup lagi? Kamu ngga bolehin aku masuk?"
"Kamu Mas Tono apa bukan? Kenapa beda?" tanya Aida.
"Nur, ini suamimu, Tono. Coba perhatikan baik-baik." bujuknya.
Aida membuka kembali pintunya. Secara perlahan, sedikit demi sedikit. Ia pun memperhatikan penampilan baru Tono, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kenapa beda banget? Mas pakai jas siapa?" cenberut nya.
Tapi Tono tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan masuk dengan tergesa-gesa. Meraih wajah Aida dan mengecuupinya secara bertubi-tubi. Bibir, dahi, pipi. Dan bahkah hidung mancungnya tak lepas dari sasaran pria yang tengah begitu gemas padanya itu.
"Mas, Aida nanya." tahan nya di bahu Tono.
"Nur, Aku sudah bertemu keluargaku, Nur. Aku rupanya adalah pemilik Rumah sakit itu. Aku Arrayan Bima Hartono."
Ada perasaan senang, namun juga datang perasaan sedih. Ketika Tono telah menemukan keluarganya, Ia pun kembali terfikir nasibnya sendiri.
"Lalu, Aida bagaimana? Mas, akan kembali kesana, bukan? Mereka orang kaya, sedangkan Aida?"