Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Isi hati Mami Bianca


Mami Bianca datang. Menatap semua orang diam dan tegang. Tak terkecuali Mei yang biasanya paling ceria disana.


"Tumben, diem?" tatapnya pada Mei.


"Ntar giliran cerewet, ditegur lagi."


"Hiiish! Aida mana?"


"Pergi, sebentar. Besok pulang."


"Rayan?"


"Cari sendiri bisa, ngga? Kepala lagi pusing, ditanya mulu. Kesel deh." tukas Mei. Membuat Mami memundurkan kepala dan menatapnya heran. Tak lupa dengan matanya yang melotot bulat.


Mei meninggalkannya. Ia pergi bersama beberapa pelayan wanita untuk mencari kebaya dan gaun pernikahannya, yang mungkin akan di gelar beberapa hari lagi. Bahkan mungkin, besok. Semua yang serba terburu-buru dan mepet, membuat mereka semua mengeluarkan tenaga ekstra kali ini.


"Sederhana aja, yang penting sah. Kalau kelamaan, kasihan Mas Ray sama Aida."


"Iya, aku mengerti, Mei. Berikan semua datamu, biar yang di kampung menguruskan semuanya disana. Nanti, tinggal diantar lagi kemari bersamaan dengan mengantar Ibu," pinta Sam dengan begitu tenang. Atau, bisa dibilang terpaksa tenang demi kelancaran semuanya.


" Iya, udah Mei persiapkan. Nanti, Amir akan membawanya ke Kakak. "


" Baiklah, ku tunggu," Sam menutup teleponnya. 'Andai persiapan pernikahan tak se rumit ini. Pasti tak akan ada banyak pengorbanan.'


Sam tengah di sebuah pusat perbelanjaan. Ia mencari cincin untuk Mei. Tak mahal, hanya semampunya saja karena masa depan mereka lebih penting. Ia berjalan sendirian, tanpa sengaja melihat Aida dan Dev tengah berbelanja berdua.


"Aida?" Sam lalu menguntitnya dari kejauhan. Ya, Sam faham benar jika Aida merasa tertekan. Ia yang biasanya begitu ramah, bahkan tatapannya kosong dan nyaris tak pernah mengulur senyum. Memilih beberapa pakaian dengan Dev yang selalu ada di belakangnya.


"Maaf, hanya foto tanpa sengaja." kirimnya. Ia pun pergi, karena begitu banyak urusan yang akan Ia selesaikan saat itu. Harus cepat, dan semakin cepat sebisa tenaganya bekerja.


*


"Rayan, kamu kenapa? Kok lesu." Mami Bianca menghampirinya.


"Hanya lelah, kenapa?"


"Aida mana? Tumben, Ia tak ada disampingmu. Biasanya, Dia itu kayak perekat, yang mau nya deketan sama kamu." tanya sang Mami, dengan sesekali memijit bahu Ray yang tengah duduk di meja kerjanya.


"Jangan mempertanyakan yang sedang tidak ada," jawab Ray. Tampak dingin dan tak seperti biasanya. Membuat fikiran Mami lantar melayang entah kemana. Sangat jarang, bahkan tak pernah ketika Ray datar jika ditanya akan sang istri.


"Wow, ada apa ini? Hot news kah?" halu nya. Akhirnya Mami pamit kembali ke kamarnya, meski pada kenyataannya Ia hanya pamit untuk mengorek info dari para pelayan yang ada disana.


"Tadi, saya lihat Nyonya Aida di bawa Tuan Dev, Nyonya." lapor sang pelayan.


"Lalu, apa yang terjadi?"


"Saya kurang tahu. Tapi, Nyonya Aida sendiri yang ikut. Dan setelah itu Tuan Ray pulang. Tak tahu, berunding apa dengan Tuan Sam dan Nona Mei. Mereka, tampak sedang bingung."


Senyum devil terulas dari bibir Mami Bianca, sembari memainkan bibirnya dengan gemas. Isi fikiran jahatnya benar-benar sempurna, seolah ingin memanfaatkan keadaan yang tengah berantakan. Ia pun kembali berjalan, dan berjalan naik menuju kamarnya. Kamar yang berada tepat di samping kamar Ray. Bersenandung dengan begitu bahagia seolah tanpa beban dalam hidupnya.


Cling! Sebuah pesan masuk ke Hp Ray. Ia pun segera membukanya, dan menatap foto Aida disana. Ia zoom, dan Ia usap dengan penuh rasa rindu meski memang baru beberapa jam berpisah.


Ia pun segera meraih blezernya, dan berlari dengan cepat meninggalkan rumah.