Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Aida kemana?


"Rul, lepasin aku, Rul. Kamu ngga bisa begini sama aku. Apa mau mu?"


"Menikahimu. Nanti siang, kita menikah. Aku sudah persiapkan semuanya. Ini...." Amrul mengeluarkan selembar kebaya putih untuk Aida.


"Kamu gila! Aku udah punya suami. Kami belum cerai, dan ngga akan pernah cerai."


"Kalian hanya nikah siri, Da. Ngga perlu cerai. Kalian juga sudah pisah, hampir sebulan. Tak pernah berhubungan, kan?" cibir Amrul, dengan mencoba terus menyentuh tubuh Aida. Tampaknya, Ia tengah berhasrat tinggi kali ini.


"Kamu sudah punya istri. Istrimu ngga akan..."


"Dia menyetujuinya. Kenapa? Dia menuruti semua inginku, Da. Dia tak akan bisa menentangnya." tawanya jahat.


"Amrul!" teriak Aida dengan begitu kuat. Amrul pun langsung menutup mulut Aida dengan lakban nya. Agar Aida tak dapat berbicara lagi.


"Hp ku... Hp ku dibuang dia. Gimana? Ngga bisa hubungi Mei. Tolong, Mei. Mas.... Nur di sekap, Mas." tangisnya kali ini.


Ia bahkan lemas, karena belum sarapan pagi tadi. Ia gemetar dan sulit untuk melakukan perlawanan. Apalagi sendirian. Hanya air mata, dan segala harapan agar Ia selamat.


**


"Mimpi itu ibarat petunjuk. Tak apa, lanjutkan saja. Kata Anda, itu bagai sesuatu yang berhubungan, tapi bergerak mundur, bukan?" tanya Dokter, pada keduanya.


"Iya, Dok." angguk Rayan. "Semua saling bersahutan. Pantai, dingin, badai, dan gelap. Suara-suara itu pun selalu terngiang. Sulit untuk di lupakan."


"Baiklah. Simpan dalam memory. Nanti, baru ceritakan kembali jika kemungkinan sudah utuh. Kita tengah mengumpulkan puzle kali ini."


"Apa, tak perlu obat penenag, Dok? Rayan, selalu cemas ketika itu terjadi." tanya Sam.


"Tak perlu. Justru trauma itu harus Ia lawan. Ketenangan, hanya ada pada dirinya sendiri. Itu stimulus, untuk memancing semua memorinya kembali." jawab dokter.


Sam hanya mengangguk. Ia menatap Rayan, yang wajahnya tampak tak tenang..


"Tidak. Entah kenapa, aku juga tak tahu." jawab Rayan, berusaha mengontrol perasaannya.


Hari ini, jadwal sedikit padat. Sam mengajak Rayan berkeliling ke semua cabang nya di kota. Ia berusaha, agar memori itu kembali perlahan karena selalu di rangsang dengan baik. Jika lelah, Rayan akan segera Ia bawa istirahat di hotel terdekat.


"Sam?"


"Ya?"


"Perusahaan kita, bergerak di bidang ekspor impor. Tapi, kenapa aku membeli Rumah sakit itu?" tanya Rayan, ketika dalam perjalanannya.


"Jiwa sosialmu tinggi, Ray. Dan entah apa, aku juga tak faham." ujar Sam.


Rayan membuka Tabnya, dan kembali fokus untuk berusaha mengingat. Membuka semua foto yang ada disana. Samar, tapi terngiang. Entah, hanya itu yang Ia rasakan saat ini. Di sela semua rasa galaunya yang belum terjawab...


**


" Loh, kok warungnya masih tutup? Aida ngga jadi jualan, hari ini?" gumam Mei, yang baru datang dan memarkirkan motornya.


Ia menghampiri warung yang masih terkunci itu, sembari menelpon Aida. Tapi, nomornya pun tak aktif hingga beberapa kali panggilan.


"Kemana lagi, nih anak? Ngga biasanya deh." gerutunya.


Ia pun terus menunggu hingga lama. Berjalan sejenak menelusuri pantai, hingga menemukan sebuah kotak bekal tumpah.


"Loh, ini punya Nek Mis. Aida yang pakai? Kenapa tumpah? Aida kemana?"


Sejuta tanya, bertabur rasa cemas. Bahkan, tas Aida pun tertinggal dengan talinya yang putus di antara pasir yang ada.


"Ai! Ya Allah, Ai kemana? Maafin Mei, Ai. Mei ninggalin kamu. Mei ngga amanah." sesalnya begitu dalam.