Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Mami tiri Over protektif


"Ai, ayo masuk." ajak Mei. Tapi Aida masih bertahan duduk diteras dengan pemandangan sore yang cerah.


"Bentar, Mei." balasnya lembut. Ia kemudian menatap langit. Ada sebuah pesawat, terbang persis di atas nya saat ini. Meski begitu jauh diatas sana.


"Mei, itu Mas Tono." panggil Aida.


"Iya mungkin. Jadwalnya barengan, tapi Mei ngga tahu pastinya." jawabnya dari dalam. Aida menghela nafas, lalu turun dari tempat duduknya.


Aida berusaha tampak biasa saja. Ia malah mengajak Mei ke pasar, untuk menebus cincin peninggalan Ibunya. Rencananya bersama Tono, tapi terhalang keadaan.


Tiba di pasar. Seperti yang Aida duga, jika semua orang menjadikan Ia pusat perhatian. Entah apa gosip yang telah tersebar. Ada yang mencibir, ada juga yang menatap sedih. Tapi Aida cuek, fokus ke toko emas yang Ia tuju.


"Da?" panggil pemilik toko padanya.


"Iya, Koh. Kenapa?"


"Suamimu, kemana?"


"Ada gosip apa, tentang Aida?" tanya nya lugas.


"Mereka bilang, suamimu orang kaya. Mereka diambil kembali oleh keluarganya. Kamu bagaimana?"


"Iyain aja, apa yang mereka bilang. Nanti mereka akan diem jika tahu kenyataannya." balas Aida, dengan senyum pahitnya. Tak lupa, Aida mengode agar Mei tak banyak bicara kali ini.


Usai belanja, Aida pun langsung pulang. Entah, ini seperti sebuah kebiasaan. Ia harus dirumah, sebelum suaminya pulang bekerja. Itu salah satu pesan Nek Mis padanya.


*


Tiba di Bandara. Rayan di temani Sam, berjalan menuju mobil jemputan mereka. Sudah banyak wartawan yang menunggu, bahkan tak segan mengambil fotonya. Bagi mereka, itu adalah sebuah pekerjaan berat, karena selama ini memang Rayan selalu tertutup.


"Pak Ray, Pak Ray. Boleh kami wawancara sebentar? Bagaimana kondisi Anda saat ini. Dan dimana Anda ditemukan?" pertanyaan yang sama, keluar dari pada reporter itu.


Rayan pun di gandeng Sam, untuk masuk ke dalam mobil mereka.


"Gila! Sudah ku bilang, rahasiakan. Kenapa masih saja banyak berita?" omel Sam.


"Maaf, mungkin ada yang tanpa sadar bicara ke publick." balas Mona. Dan satu-satunya orang yang Sam curigai, adalah Mami Bian, Tantenya.


"Mami Bian, Mami tirimu." Sam menunjukkan foto wanita itu.


"Masih muda, dan cantik." puji Rayan.


"Dia menemanimu, sepuluh tahun ini. Apalagi, setelah Papi meninggal Lima tahun lalu. Dia selalu ada di sampingmu. Dan alasan aku meminta Nur tinggal, adalah agar Ia tak kaget atas pernikahanmu."


"Kenapa? Bahaya?"


"Percaya atau tidak... Perhatian nya terlalu over padamu. Bahkan, tak ada wanita yang berani mendekatimu." balas Sam, yang kesal ketika mengingat Tante gambrengnya itu.


Bahkan, Rayan sedikit merinding mendengar penjelasan dari sepupunya itu.


"Aku pernah bertemu Dev." tunjuk Rayan pada foto itu.


"Ya, aku sudah dengar. Kau pakai masker kala itu." balas Sam, dijawab anggukan Tono.


Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah mewah. Rayan masih teecengan, padahal itu rumahnya sendiri. Sam kembali membawaya masuk, dan mempersiapkan telinganya agar semakin tebal dengan segala ocehan Mami Bian.


" Rayan! Rayan nya Mami." Mami Bian datang, dengan mengulurkan tangannya dan langsung memeluk Rayan. "Kamu bagaimana? Kamu apa kabar, dan kamu... Astaga, tangan kamu kenapa kasar begini? Apa kamu tersiksa di luar sana?"


"Mami?" Rayan memicingkan mata, menatap wanita yang ternyata lebih cantik dari fotonya itu.