
Motor telah di jalankan. Tono dan Aida berangkat bersama dengan meninggalkan Mei dirumah. Beberapa tamu masih datang, dan harus di sambut meski sederhana.
Aida ingin segera membeli cincin itu, karena Ia sudah mantap. Ia memantapkan hati untuk tak lagi berhubungan dengan Tante Rum dan Om Edo. Ia lelah, bahkan sudah mati rasa pada kedua orang itu.
Motor terparkir dengan rapi. Aida berjalan di depan, dan Tono mengikutinya. Beberapa orang langsung datang dan kembali memberi bela sungkawa pada Aida dan Tono.
"Yang sabar, Da. Maaf, kami tak bisa langsung kesana."
"Iya, Pak, Bu. Terimakasih doanya. Nenek sudah tenang, dan Aida memang dituntut kuat untuk sekarang." jawabnya.
Tak lupa, beberapa orang pun mempertanyakan Om Edo kala itu. Tapi, Aida memilih diam tanpa sedikitpun jawaban. Ia memilih pamit, dan melanjutkan tujuan mereka.
" Pak, Emas berapa, sekarang?" tanya Aida, pada pemilik toko emas langganannya.
"Segram Delapan setengah. Cari apa, Da?" tanya sang pemilik toko, yang juga sangat mengenalnya.
"Cincin polos, Dua gram." pinta Aida, dengan melihat-lihat beberapa model. Dan, tak sengaja menatap cincin peninggalan sang Ibu.
"Kamu, mau ambil itu aja?" tanya sang pemilik toko itu.
"Ah, engga. Aida mau beli yang baru. Ada perlu soalnya." balasnya, dengan sedikit gugup.
Tono terus menatapnya dalam diam. Mengerti sekali, jika Aida begitu menginginkan nya kembali.
"Besok, kita ambil lagi ya, Nur." ucap Tono dengan lembut. Aida mengangguk, dan membalas nya dengan senyum. Meski masih sedikit berat.
Tak perlu waktu lama. Cincin yang sudah dipesan, langsung dibuatkan surat resmi. Jari Tante Rum masih sama seperti Aida, meski tubuhnya sedikit gempal. Hingga tak perlu banyak pertimbangan dalam pemilihan. Mereka hanya tinggal membayar, kemudian segera pulang.
Sampai, seseorang menyapa mereka.
"Hai, Aida." rupanya Amrul, dengan seorang gadis.
"Ngapain Aida disini? Beli cincin?" tanya gadis bernama Tasya itu.
"Ehm, iya. Beli cincin buat Tante Rum, yang....."
"Itu cincin, mahar pernikahan mereka." bisik Amrul dengan tawa cibirannya. "Masa, nikah aja cincin nya ngutang sama Tantenya. Ngga modal banget jadi cowok." cibirnya lagi.
Tono tampak kesal. Ia ingin maju dan melawan, tapi Aida mencegahnya. Padahal, Amrul sudah mundur satu langkah bak ingin kabur terbirit-birit karenanya.
"Tasya, mau apa kemari?" tanya Aida dengan ramah.
"Mau cari cincin juga, Kak. Tasya, mau menikah sama Kak Amrul." jawabnya lembut.
"Hah, menikah?" kaget Aida. "Padahal, baru beberapa hari lalu mohon-mohon cinta ke aku."
"Iya lah. Move on dari kamu. Kamu sih, sok nolak aku. Coba kalau terima, sudah ku buatkan pesta mewah untuk pernikahan kita. Bahkan, tak hanya cincin, tapi kalung emas yang besar." racau Amrul dengan begitu sombongnya.
Aida menatap gadis itu dalam-dalam. Dari ujung kepala, hingga ujung kaki. Bukan untuk julid. Tapi, naluri kebidanannya pun muncul kala itu.
" Kenapa, Nur?" tanya Tono, lirih.
" Tasya, Amrul. Kalian, nabung duluan kah?" tanya Aida tanpa segan. Apalagi, melihat wajah Tasya yang memang begitu pucat.
"I-iya, Kak." jawab Tasya, canggung.
"Ooooh," ucap Aida panjang.
"Mending aku, dah nabung. Daripada kamu, yang udah lama nikah tapi ngga nabung juga. Paling, belum disentuh." cibir Amrul, dengan menggoyang-goyangkan kaki, dan terus menggelengkan kepalanya dengan begitu bangga.