
"Tante Rum!"
"A-Amrul. Ada apa nyariin?"
"Ngga nyariin. Kebetulan ketemu. Kalau di cari, ngga akan ktemu. Iya kan?" tatapnya tajam.
Tante Rum hanya bisa tertunduk. Ia memegang erat tali tas selempangnya dengan raut wajah yang begitu tegang.
"Bapak nagih duit nya. Udah lama, juga. Kemarin lolos karena katanya mau jodohin aku sama Yayang Aida. Tapi, kan gagal." imbuhnya.
"Tante belum ada uang, Rul. Besok saja." balasnya gugup.
"Besok? Besok kapan? Udah Empat bulan katanya besok mulu. Lumayan nih, buat lahiran si Tasya. Operasi Caesar, biayanya gede."
"No-normal lah. Kenapa harus operasi?"
"Ogah. Jangan normal. Nanti ngga enak lagi. Udah cukup, dapet dia bekas orang. Lumayan, gantiin Yayang Ai." balasnya.
"Nanti, kalau ada uang. Tante, akan balikin, Rul. Sekarang belum ada." tunduk Tante Rum, tanpa mau menatap wajah Amrul. Serba salah, dan terjepit. Ia pun tak dapat lari, karena Amrul pasti dapat mengejarnya meski tubuh mereka sama-sama gempal.
Amrul tertawa menyeringai. Ia menghampiri Tante Rum, merangkul dan berbisik padanya.
"Amrul dengar, Aida janda? Suaminya pergi."
"I-iya, suaminya berobat ke kota besar. Katanya, Dia juga balik ke keluarganya. Ngga tahu, bagaimana Aida selanjutnya. Ta-tapi, mereka belum cerai."
"Berikan Aida sama Amrul, bagaimana?" bujuknya.
"Jangan ngawur. Dia belum cerai sama suami nya. Ngga boleh."
"Udah pisah lama, bahkan ngga pernah di jengukin. Dikasih nafkah lahir pun entah. Apalagi nafkah batin. Bahkan, Amrul yakin kalau Aida masih suci."
"Jangan ngaco kamu, Rul. Bisa mati kamu nanti. Mereka, keluarga orang kaya."
"Sekaya apa? Sekaya Bapakku? Jauh lah." tawanya bangga. Bagi nya, sang Bapak adalah orang terkaya seluruh dunia. Pasalnya, Ia pun tak pernah pergi keluar kota untuk menatap langit yang lain.
"Fikirin tawaran ku, Tante. Hutang lunas, uang utuh. Dan kita sama-sama puas."
"Bisa tercoreng muka ku. Aaah, bagaimana nasibku. Uang simpanan pun, sudah diambil Tiara untuk mengurus skripsinya." gerutu Tante Rum. Fikirannya mulai kacau saat ini. Ia kira, mereka lupa dengan uang itu. Nyatanya, justru menjadi bom waktu untuk nya sendiri.
**
" Hay, sayang. Sedang apa?" sapa Rayan lewat video callnya. Kali ini tja lewat Hp, melainkan lewat laptopnya di kamar.
"Lagi duduk santai, Mas. Belum mandi."
"Mandi, gih. Aku tungguin."
"Heh, kenapa nungguin? Mau ngapain?" Aida memicingkan mata.
"Kenapa masih nanya, sayang. Hanya ingin melihatmu...."
"Ih, Mas Tono. Ngga boleh gitu. Nanti malah jadi ngga baik."
"Ngga baik nya? Aku hanya ingin menatap tubuh istriku, salah?"
"Menatapnya ngga salah. Tapi, nanti kalau malah Mas main sabun, gimana? Dosa. Aida ngga mau begitu."
"Ma-main sabun? Gimana?" tanya Rayan, yang tampak benar-benar tak mengerti dengan penuturan Aida. Terpaksa, Aida menjelaskan dengan gamblang semuanya. Apa yang sering di lakukan, jika pria tengah menahan hasratnya.
Ray tertawa terbahak-bahak. Bahkan hingga mengeluarkan air matanya.
"Bisa-bisanya, Nur mikir Mas bakal begitu?"
"Ya, namanya udah kepancing, gimana lagi." timpalnya.
"Berbulan-bulan pun aku sabar menunggu hingga kau siap. Yang jelas, kau sudah milikku. Dan tinggal menunggu waktu nya tiba, aku akan melampiaskan semuanya padamu. Kamu siap-siap saja." kedipnya genit.
Aida hanya menelan salivanya, jantungnya berdegup sekali, tapi begitu kuat. Ia faham, apa yang di maksud suaminya itu.
" I Miss You, sayang," ucap Ray disana, dengan tatapan nya yang begitu nenahan rindu.