
"Mas, kenapa?" tanya Mei, yang memberanikan masuk ke kamar Ray saat itu.
"Tak apa. Aku hanya butuh kau dirumah ini. Bersiaplah, kita makan malam di bawah." pinta Ray padanya. Mei hanya mengangguk, lalu menuruti semua perintahnya. Ia turun menyusuri setiap anak tangga yang ada. Tampak Mami Bianca dengan baju tidurnya, sedang mempersiapkan segala nya untuk makan malam, dibantu beberapa pelayan lain.
" Astaga! Itu Nenek lampir begitu dandananya? Pantes Mei disuruh pulang. Biaklah... Malam ini Mei akan jaga Mas Tono untuk Nur nya," antusias Mei, dengan mengepalkan tangannya. Ia pun segera masuk ke kamar dan mempersiapkan dirinya.
"Malam, Mam..." sapa Ray, berusaha bersikap baik setelah kejadian tadi. Hanya agar, semua tak semakin rumit.
"Hey sayang..." sambut Mami dengan senyumnya yang semringah. Tapi seketika luntur, menatap Mei yang berjingkrak ceria menghampiri mereka.
"Selamat malam, Mas Tono... Mami," ucap Mei, lalu duduk di kursinya.
"Berhenti panggil Rayan ku, Tono!" bentak Mami Bian, dengan menggebrak meja makannya. Membuat Ray tersentak dan langsung menatapnya dengan tajam. Serasa langsung menembus ke jantungnya. "Iam Sorry, Baby..." ucap nya, lalu kembali duduk dengan manis dan elegan.
Para pelayan kemudian melayani mereka, dan makan malam pun dimulai dengan tenang. Sesekali, Ray membuka percakapan untuk Mei mengenai persiapan pernikahannya.
"Siap, dooong. Tinnggal beberapa surat pengantar dari sana. Sekalian, datang bareng Ibu. Insyaallah, lusa udah bisa nikah." jawab Mei, dengan segala antusiasnya.
"Kelakuan masih kayak bocah, mau nikah. Kayak mana ngurusin suami?" cibir Mami di tempatnya, dengan meminum segelas air ditangannya.
"Gampang... Kayak Aida melayani Mas Ray lah." jawabnya singkat. Mami Bian langsung tersedak sejadi-jadinya, hingga hidungnya perih dan menangis. Bahkan pelayanpun cemas menolongnya.
"Nyonya tak apa?" tepuknya di punggung sang Mami.
"Tahu mu begitu? Pelayanan pada suami, bukan hanya di...."
"Mam... Stop," pinta Ray. Membuat Mami mendengkus kesal.
Ray hanya kembali diam. Menyelesaikan makan malam dan mengakhirinya dengan segelas air putih. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kau membahasnya, dan putraku murung. Kenapa?" tatap sinis Mami pada Mei.
"Lalu, kenapa tak pulang? Kenapa harus pergi dengan Dev? Mereka affair?"
"A-affair, maksudnya? Eh, jangan sembarangan ngomong, ya!" tukas Mei, mulai emosi.
"Aku hanya melihat kenyataan. Kenapa tidak? Pergi tiba-tiba, bersama sepupu suaminya. Untuk apa? Padahal sudah diberi yang sempurna. Tak bersyukur," cibirnya berkali-kali.
Mei hanya bisa menahan emosi. Apalagi? Ia tak ingin menjelaskan, karena Mami hanya akan mencari pembenaran baru menurut versinya sendiri. Mei pun hanya bisa menghentakkan kaki, lalu memutar tubuhnya pergi dari sana.
" Bahkan, sahabatnya tak mampu membela. Apalagi?" tatapnya sinis, begitu bangga ketika Mei tak mampu menentangnya.
Ray di kamarnya. Duduk di tempat kerja dan fokus dengan laptopnya. Terlalu fokus, hingga tak sadar Mami Bian datang dan memeluknya dari belakang.
" Kenapa kemari?" tanya Ray, datar. Namun, belum melepaskan pelukan itu dari tubuhnya.
"Hanya ingin menemani Anak kesayangan Mami. Tak salah kan?"
"Tak perlu... Ray bisa sendiri. Toh, Mami tak mampu membantu." timpalnya, datar.
Mami Bianca beralih. Berdiri dengan tangan mengusap, bahkan memijat bahu Ray disana. Membuat Ray sedikit gelisah dan beberapa kali menyingkirkan tangan itu darinya.
"Mama tahu kamu sedih, sayang. Ditinggal istrimu pergi, dan bahkan tak sama sekali pamit, itu pasti sangat menyakitkan."
"Lalu?"
"Biarkan pergi. Jaalang itu, sangat cocok bersama lelaki tak berguna seperti Dev. Mereka serasi."
Seketika Ray meraih tangan Mami Bian. Menariknya hingga duduk tepat diatas pangkuannya. Namun, bukan senyum yang Ia dapat. Justru tangan Ray yang dengan kuat langsung mencengkram lehernya dengan tatapan yang mematikan.