Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Berantemnya Aida dan Mei


"Arum!" sentak Om Edo pada istrinya. Membuatnya langsung bejalan masuk kembali ke kamar.


"Maaf, Tono. Tante, memang suka begitu."


"Iya, Om. Lama-lama, saya akan biasa."


"Oke, besok mulai kerja. Karena belum tahu lokasi, besok akan Om jemput. Mengenai pakaian, bebas pantas saja."


"Ya, Aida tahu bagaimana mengurus penampilan suami Aida." sela gadis itu dengan wajah masamnya.


"Nur, ngga boleh gitu."


"Pulang," genggam Aida pada lengan Tono. Pria itu hanya mengangguk, lalu permisi pada Om Edo dengan senyuman manisnya.


Aida keluar dengan tergesa-gesa. Bahkan, tas besar berisi pakaian itu Ia bawa sendiri meski harus Ia seret sesekali. Tono hanya berjalan pelan, mengikutinya dari belakang dan tersenyum menatapnya gemas.


"Tolongin! Ish, kenapa diem aja sih? Tahu istrinya kesusahan." omel Aida. Tono menghampirinya, menaikkan tas itu ke atas motor tepat di bagian tank nya.


"Nur, kenapa begitu sama Om sendiri? Itu ngga sopan."


"Kesel," ketusnya.


"Keselnya sama Tante 'kan?"


"Hmmm." balasnya teramat singkat. "Mulutnya selalu lepas kontrol. Pengen rasanya ngelawan, tapi di cegah terus." kesalnya.


"Katanya, ngga mau lama-lama. Kalau kamu tengkar, bakal lebih lama. Kamu yang lebih tahu, Tantemu itu gimana."


"Tahu... Aida tahu. Tapi istri mana yang sabar, kalau suaminya terus di hina dan di rendahin begitu. Kesel lah." cemberutnya, dengan melipat tangannya di dada.


Tono hanya tersnyum tersipu. Tertunduk sejenak menutup bibirnya. Lalu, Ia mencubit pipi Aida dengan gemas.


"Sakit!"


"Terimakasih, atas pembelaannya, Istriku." ucap nya dengan nada yang begitu menggemaskan.


"Lebay lah." tatap Aida dengan mata berkerut. "Ayo pulang. Besok hari pertama kerja, ngga boleh telat. Malu, kalau Om dateng kamu belum bangun."


"Iya," angguk Tono, lalu mulai mengengkol motornya.


Mereka kembali berjalan, menyusuri jalanan di pinggiran pantai. Dengan deburan ombak yang dingin, dan sinar rembulan yang begitu terang. Sayangnya, mereka belum bisa mesra selayaknya pengantin baru yang masih hangat-hangatnya.


"Mei, Aida mana sih. Lama bener?" tanya Nenek Mis, yang menunggu di kursi teras rumahnya.


"Hadeeh, ini nenek kayak ngga tahu aja deh."


"Apa Mei?"


"Astaga, Nenek. Bener-bener dah." Mei menepuk jidatnya. "Itu, mereka pengantin baru. Wajarlah, kali aja mereka mau pacaran dulu. Apalagi, memang mereka ngga pernah pacaran."


"Oh, gitu?"


"Iya, nek. Pake nanya pula."


"Kok kamu engga?"


"Nenek! Astaghfirullah, bener-bener nenek satu ini. Makin di jawab, makin ngelantur lama-lama. Au ah, capek." kesalnya, yang lalu duduk bersila di kursi panjang yang terbuat dari papan itu.


Mereka masih berbincang berdua, hingga beberapa lama. Meski, Mei selalu dibuat emosi oleh Nenek Rum yang pandai mempermainkan moodnya. Hingga, cahaya motor datang tepat menyinari mata Mei yang kesilauan.


"Weh, ngga nenek, ngga cucu. Sama aja, ngeselin. Matiin woy!" pekiknya.


"Apa sih, Mei? Melotot ngga jelas!" tegur Aida.


"Lah, kamu kenapa nyolot? Aku cuma minta matiin lampu motornya."


"Ya ngga usah gitu ngomongnya! Udah kesel, malah di tambah kesel. Pulang sana! Jangan kesini lagi! Ngajak berantem mulu."


"Oke, Fine! Mei pulang. Biar kamu tahu, rasanya ditinggal orang yang perduli sama kamu."


"Ya sono, ngapain lama-lama."


"Nur, kok makin gitu?" tegur Tono yang berdiri diantara mereka.


"Biarkan, Mas. Biarkan! Biarkan Mei pergi. Jangan tahan Mei!" gadis itu lalu membuang muka, meninggalkan Aida yang juga berlari masuk ke kamarnya.


Tono hanya bengong, dengan memeluk tas pakaian Aida di temani Nenek Mis di dekatnya.


"Jangan Heran, Tono. Mereka, ya begitu. Besok juga balik lagi." ucap Nenek Mis dengan santainya.


"Mereka... Unik," tawa Tono, dengan tingkah kedua gadis konyol itu.