Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Welcome Home, Baby...


Hari yang ditunggu itu pun tiba. Hari pernikahan Sam dan Mei. Meski sedikit perih karena Aida tak dapat menepati janji untuk menjadi pendampingnya disana.


"Andai bisa menghubungi, sebentar aja. Pasti Mei tenang saat ini," ucap Mei, dengan perasaan yang terlampau gugup saat ini.


Ia yang telah begitu sempurna, dengan kebaya, sanggul dsn segala riasannya. Hanya tinggal menunggu Sam untuk peresmian cinta mereka.


" Dia datang sedikit terlambat. Yang penting, pernikahan kalian dulu disahkan." ucap Ray, yang menghampirinya di kamar. Meski Ia pun tampak lesu, karena harus menggandeng Mei turun sendirian.


Pengumuman bahwa pengantin pria datang. Mei semakin gemetar, tapi Ray terus menggenggam tangan nya dengan erat. Hingga datang Bu Lastri untuk menjemput sang putri di dalam dan membawanya keluar.


"Kau deg-degan?" tanya Mona, yang hari ini menjadi pendamping untuk Sam. Menggantikan posisi yang seharusnya Dev lakukan..


"Aku tenang... Aku siap," angguk Sam. Mona pun mengusap bahunya untuk memberi kekuatan lebih pada sahabatnya itu.


Suara nan merdu mengiringi kedatangan Mei. Gadis itu begitu cantik dengan kebaya putihnya berhias segala pernak pernik indah diatas kepala dan hiasan wajahnya. Sam seketika terpesona, terdiam dan mematung menatap gadis itu. Mei, yang hanya dalam hitungan menit itu akan sah menjadi istrinya.


Mereka pun disanding kan, untuk melakukan ijab qabul dengan Ray dan Mona sebagai saksinya. Acara sakral dilakukan, di iringi deraian air mata dari kedua mempelai. Tak lepas, dengan Ray yang juga tak mampu menahan air matanya kala itu.


"Aku tahu, air mata itu bukan sekedar air mata haru..." goda Mei, dengan air mata yang sama.


"Sok tahu," tukas Ray.


***


"Tak bisa kah sedikit cepat?" pekik Dev, yang telah menunggu Aida di teras.


"Kenapa harus cepat? Toh, hanya undangan. Datang, duduk, dan makan." ucap Aida, datang dengan begitu santai.


"Ku harap kau tak sedih, karena waktumu bertemu Ray hanya sebentar. Setelah itu, ku tarik kau kembali kemari." ancam Dev dengan mata tajamnya.


"Cantiknya Mama ku," puji Aida, menuntun nya berjalan keluar menghampiri sang putra.


"Eh, Mama lupa."


"Apa?" tanya Aida.


"Tolong, cincin Mama di kotak. Di laci dalam nakas,"


"Ya, baiklah..." jawab Aida, kembali kekamar itu untuk mengambil yang Mama mau.


"Ini?" Aida menemukan selembar foto berukuran kecil. Dan disitu juga, foto seorang anak kecil yang tengah bermain pasir sendirian. Meski usang, tapi Ia tahu jika itu adalah dirinya.


"Masih menyimpan... Bukankah lupa?" senyumnya getir, menyimpan foto itu di gamisnya. Dan cincin itu... Persis seperti cincin yang selalu Aida pakai. Hanya saja, Ia tinggal ketika Ia ikut bersama Ray ke kota.


"Kita akan segera bertemu, Ibu..." ucapnya. Ia pun membawa cincin itu dan memakaiakannya pada Mama Lia. Masih Mama, karena belum jadi Ibunya.


"Sudah semua?" tanya Dev, yang duduk di kursi setirnya.


"Ya, Siap." jawab Aida, dengan jantungnya yang berdebar.


Tak kalah dengan Aida. Debaran jantung pun di rasakan Ray disana. Ia memejamkan mata dan menikmati setiap rasa yang di hadirkan. Akan menyambut sang istri tercinta datang kembali dalam pelukannya.


"Welcome home, Nur..." ucapnya dalam hati.


Mei, Sam dan Mona. Hanya tersenyum bahagia melihat senyum Ray yang begitu lepas dan indah itu.