Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Makin di bahas, makin terngiang


"Kenapa baru datang?" tanya Aida datar.


"Om.... Om ada urusan, Da. Om harus mendadak pergi, kemarin."


"Apakah, bahkan ngga sempat menghubungi? Dan dia?" tunjuk Aida pada Tante Rum. "Dia kemana? Bukankah, yang meninnggal itu mertuanya?"


"Tante juga banyak urusan. Bukan satu doang." balas Tante Nur, tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Ya, Aida tahu. Aida tahu, kalau kalian memang bukan siapa-siapa. Apalagi, setelah Nenek pergi. Jadi, mulai sekarang hubungan kita putus." ucap Aida.


Om Edo langsung terkejut dengan ucapan itu, "Jangan main-main, Aida. Bagaimana hubungan kita bisa putus?"


"Jangan sok bilang putus. Lunasin dulu utangmu." ucap Tante Rum. Dan seketika, Aida melempar cincin emas baru itu pada Tantenya.


"Puas? Emas sudah dibayar, Nenek sudah pergi. Tak ada lagi pengikat antara kita." sergah Aida.


Tante Rum langsung sigap mengambil benda itu. Dengan bangga, Ia langsung memakaikan di jari manisnya. Tampak sangat bahagia, apaalagi itu barang baru. Yang pastinya, lebih mahal dari emas lama nya.


" Puas?" tukas Mei.


" Iri kau ya?"


"Ish, iri. Ogah!" cibir Mei, dengan bibir meleyotnya.


Terjadi pergolatan batin antara kedua Om dan keponakan itu. Aida tampak sudah mati rasa pada Adik ayahnya. Karena Ia sudah tahan ketika Ia yang disakiti. Tapi, tidak dengan Neneknya.


"Aida, Om minta maaf. Kenapa begitu berat? Yang terjadi pada Nenek pun, itu kecelakaan, kan? Kenapa Om yang kamu musuhi. Om saja tak ada disana." mohon Om Edo.


"Yang harusnya dimusuhin itu suamimu. Nenek tenggelam, tapi malah lari-lari cari bantuan. Kenapa ngga dia yang nolong!"


"Tante!" pekik Aida. Dan suasana makin memanas.


Tampak Tono dengan tatapan kosongnya. Tampaknya sadar, jika memang beberapa orang tengah menjadikan Ia bahan pembicaraan.


"Mei," panggil Aida, lalu mengisyaratkan agar Ia membawa Tono pergi dari sana.


"Nur?"


"Mas kebelakang dulu. Jangan dengarkan mereka." ucap Aida.


"Mei, aku......"


"Udah, jangan dengerin. Dia cuma ngga tahu bagaimana Mas Tono. Jadi ngomong nya asal. Dah, diem disini barengĀ  Mei."


*.


"Belain aja terus, suami ngga guna."


"Pergi, atau Aida panggil orang buat usir kalian!" ancam Aida.


"Da, biar bagaimana pun, Om ini Om kandungmu. Tak ada yang dapat menghapus silsilah kita.


"Tapi, Om sendiri sudah menghapus hubungan dengan ibu kandung. Bagaimana dengan Aida yang hanya keponakan. Percampurab antara benih ayah dari nenek, dan orang lain?" tukas Mei.


"Mas, pulang! Dia udah ngga hormati kita lagi..


Tante Rum berdiri dan langsung menggandeng tangan suaminya.


" Duluan, Rum."


" Ayo, pulang sekarang! "seretnya pada sang suami. Om Edo, mau tak mau tertarik dan pergi bersama istrinya.


" Cuma begitu doang? Mana wibawamu sebagai lelaki? Laki kok takut istri, " cibir Aida. Tanpa ingat, jika Tono pun begitu padanya


Selepas mereka pergi, Aida langsung mengambil sapu. Dibersihkannya semua bekas Om Edo dan Tante Rum yang tertetinggal. Bahkan, wangi khas Tantenya yang tajam, dengan parfum yang katanya mahal itu.


" Menciumnya saja, aku ingin muntah." gerutunya, sembari terus menebahi sofa bututnya. Mei pun datang membantu merapikan. Disusul Tono, yang meski entah Ia akan melakukan apa.


"Nur?" panggilnya lembut.


"Apa?"


"Maaf," ucap Tono, yang selalu terngiang ucapan Tante Rum padanya.


"Ngga usah diinget lagi. Makin inget, makin perih. Maka makin banyak pertanyaan di hati Aida." balasnya tenang.