
Helikopter mendarat tepat di tempatnya. Rayan membuka pintu, dan mengajak Aida untuk turunĀ wanita itu masih dengan kebayanya, hingga masih begitu sulit untuk bergerak. Hingga Rayan menggendongnya.
"Thanks, Rocky." ucap Rayan. Aida menatapnya takjub, rupanya Suaminya itu pandai berbahasa inggris.
"Mas, baju Aida?"
"Di bawah, bersama yang lain."
"Yang lain?"
"Ya, mereka menyambutmu. Meski tak sebanyak seharusnya." jawab Ray, yang tak pernah melepas genggaman nya dari sang istri. Sedangkan tangan satunya, terus berada disaku celana.
Mereka turun menggunakan lift dari lantai teratas. Lalu, lift berhenti di tempat yang Rayan tuju. Lantai yang merupakan ruang pribadinya.
"Selamat sore, Nyonya." tunduk beberapa karyawan yang menyambutnya.
Aida tersentak dan mengerem mendadak langkahnya, hingga nyaris jatuh. Untung Rayan cepat menangkapnya.
"Hey, ngga papa?"
"Engga, Mas. Kaget aja. Maaf." jawabnya, berusaha menyesuaikan keadaan.
"Pak, ini pakaian untuk Nyonya. Dan ada pesan dari Pak Sam." ucap Mona, sembari memberikan ponselnya.
Sam berpesan, agar Aida segera di bawa pulang kerumah utama. Agar sebisa mungkin, tak ada yang mengetahui pasal Aida saat ini.
"Baiklah, persiapkan mobil. Mana Dev?"
"Pak Dev, sedang ada pertemuan di luar." jawab Mona.
Rayan hanya mengangguk. Ia membawa tas berisi pakaian Aida itu, dan menggandeng Aida keluar dari kantornya dengan cepat. Melalui pintu belakang, dan supirnya menunggu di sana.
"Aida udah kayak simpenan, yang harus di umpetin." keluhnya, lelah.
"Sabarlah. Setidaknya, kamu sudah disini bersamaku." kecup Rayan di kening istrinya.
Aida hanya mengangguk. Sesekali Ia menatap ke arah luar, melihat keramaian kota besar itu..
"Iya, pernah kesini, dulu. Ketika masih kuliah, dan magang di sebuah Rumah sakit yang besar. Sangat mahal, untuk bisa masuk ke sana kala itu. Aida bahkan ngga berani keluar dan membuang uang." jawabnya jujur.
Rayan hanya bisa kembali tertawa, den meng eratkan genggaman tangannya."Besok, akan ku bawa kau jalan-jalan sepuasnya."
"Besok kapan? Mau keluar aja, lewat pintu belakang. Gimana mau jalan-jalan?" jawabnya, memainkan kaki yang masih juga memakai sepatunya. Padahal, itu kebaya yang di sewa Amrul di salon. Entah, bagaimana nasibnya setelah ini.
Mereka tiba dirumah besar itu. Lagi-lagi, Aida hanya bisa terbelalak menatapnya. Dari sebelum masuk gerbang, hingga sekarang ada tepat di depan pintu masuk.
"Mas, ini rumah Mas?"
"Iya. Ini rumah ku. Sam juga disini. Masuk," gandengnya.
Para pelayan menyambut Rayan. Tak kalah bengong, ketika Ia menggandeng mesra wanita berkebaya putih itu. Rata-rata langsung syok, gugup, dan bahkan sesak nafas. Tapi, mereka seperti takut untuk bertanya.
" Dia Istriku, Nur Aida. Aku akan membawanya istirahat di kamar."
"Baik, Tuan." angguk mereka kompak. Mereka pun semakin kaget, ketika Rayan spontan membopong tubuh wanita itu untuk naik ke kamarnya.
"Astaga... Ini, itu beneran Tuan muda? Itu siapa?"
"Udah dikata, itu istrinya. Masih nanya juga." mereka saling membalas pertanyaan masing-masing.
"Mas, turunin. Aida gerah, mau mandi." rengeknya manja.
Rayan menurunkan nya. Tapi, Ia menarik tubuh Aida kembali, hingga jatuh tepat ke dalam pangkuannya.
"Gerah, ganti baju dulu." ucap Aida. Ia tampak begitu gugup. Apalagi, tatapan Rayan begitu intens, seolah ingin segera menerkamnya.
"Ini dulu," pinta Rayan, menunjuk bibirnya.
"Massss...." belum selesai Aida bicara, Rayan langsung menyerangnya. Tak ada cara lain, yaitu Aida harus menurutinya. Aida pun mengalungkan lengan nya di leher Rayan. Menambah kemesraan mereka.
"Sayang, kok jam segini udah.... Arrrrrrgggggghhh! Rayaaaan!" Mami Bianca terpekik begitu kuat. Ia terkejut, melihat seorang wanita di dalam kamar Rayan. Apalagi, dengan posisi mereka yang seperti itu.
Aida pun seketika meloncat, turun dari pangkuan Rayan dan duduk normal di ranjangnya.