
"Nyonya! Nyonya Aida?" panggil salah seorang pelayan wanita padanya. Pelayan itu mengetuk kamar Aida, tapi Aida sendiri berlari keluar dari kamar Mei.
"Iya, ada apa?"
"Ini, kiriman gaun dari Mba Mona. Katanya, untuk nanti malam."
"Ah, iya. Terimakasih." jawab Aida, memeluk gaun yang tampaknya mewah itu. "Oh iya. Apa, disini ada peralatan jahit?"
"Kenapa, Nyonya? Ada di bawah, bisa kami ambilkan jika mau." tawar sang pelayan. "Dan, ada beberapa perlengkapan lagi. Seperti mutiara, manik-manik, dan banyak. Saya kurang faham."
Sebuah kebetulan, yang membuat hati Aida begitu bahagia. Ia pun meminta pelayan itu untuk membawanya ke kamar Mei.
"Ai mau apa?" tanya Mei, ketika sebuah mesin jahit mini masuk ke kamarnya.
"Mei lupa, cita-cita Aida itu apa?" tanya Aida, yang mulai memilih beberapa accesoris yang ada.
"Iya, tahu. Tapi....." Mei langsung menutup mulutnya. Menatap Aida yang mulai bermain benang dan jarum di tangan nya."Ai mau jahit baju ini?"
"Iya, di modifikasi. Pasti cantik." ujarnya. Aida yang telah mempersiapkan bahan, lalu mulai fokus dengan jahitan nya. Mei membantu, untuk memasang beberapa manik-manik setelah Aida selesai memotong dan merapikan beberapa bagian.
"Dah, selesai. Modifikasi, hanya satu jam, semua selesai." ucap Aida dengan bangga.
Mei pun tampak begitu senang. Gaun jadul itu, berubah menjadi lebih indah.
"Maaf, belum bisa belikan yang bagus. Aku aja di urusin sama Mba Mona. Jujur, ngga faham." ucap Aida. Mei hanya mengangguk, tersenyum, lalu memeluk Aida dengan begitu erat.
"Istirahat, nanti malam pasti lama acaranya."
"Ngapain aja di kamar Mei seharian? Gibah saya?"
"Seneng bener, Mami kami gibahin? Tapi maaf, Aida bukan type suka gibah." tukas Aida.
Mami Bianca cemberut, melotot menatap perlawanan Aida padanya.
"Kamu itu istri siri, jangan sok kuasa disini. Saya masih tetap jadi Nyonya besar disini." sergahnya.
"Terserah. Aida mah masa bodo sama kuasa rumah. Bagi Aida, yang terpenting adalah Mas Rayan. Mas Rayan itu suami Aida. Jadi, Aida harus melayani nya dengan sebaik mungkin. Daripada gibahin Mami, mending Aida bobok. Karena apa?" tatapnya genit. Ia pun menghampiri Mami Bianca, dan berbisik licik di telinganya.
" Ka-karena apa? "tanya Mami Bian, tampak gugup.
" Karena, Mas Rayan itu suka bangunin Aida tengah malem." bisiknya."Tahu lah pasti, namanya pengantin baru. Suka banget, kalau pas dia belai lembut, tatapan nya, suaranya yang...."
"Aaaaarrrghh! Stop! Stop, Aida." tukas Mami Bianca, menutup telinga dari segala ucapan Aida. "Keterlaluan, kamu!"
Aida hanya mengedik kan bahu, lalu masuk ke kamarnya. Pintu pun Ia tutup rapat, sengaja tak menguncinya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang itu, memejamkan mata selagi menunggu suaminya pulang.
*
"Keterlaluan! Bisa-bisanya bicara seperti itu denganku. Dan Rayan? Aaargh! Rayan apa sudah benar-benar sejauh itu dengan istrinya? Mereka hanya nikah siri. Dan katanya, karena terpaksa. Tidak! Pasti Aida duluan yang menggodanya."
Mami Bian overthinking. Membayangkan yang tidak-tidak terhadap Rayan nya. Baginya, anak lelakinya itu polos dan tak terlalu perduli dengan wanita. Ia tak tahu, jika sepolos apapun Pria, tak akan bertahan dengan naluri dewasanya. Apalagi, mereka yang sah sebagai suami istri selama ini..