Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Aku lah korbannya.


"Kenapa kau tak sedih?"


"Sedih karena apa?" tanya Aida, yang tengah menyiram bunga Mama Lia di teras.


"Kau, sudah berpisah darinya."


"Baru Tiga hari. Kami pernah terpisah seminggu. Bahkan, dengan bayangan ketakutan. Takut Ia melupakan aku setelah ingat semuanya. Kami bahkan nyaris dipaksa berpisah, karena aku dipaksa menikah dengan orang lain disana. Tapi nyatanya, takdir membawa kami kembali, bagaimana pun caranya. "


" Takdir, lagi-lagi takdir. Selalu semua beralasan pada takdir. Kematian takdir, kehidupan, perpisahan, semuanya takdir. Bagaimana dengan aku!" Dev tampak memulai kembali rasa putus asanya.


" Adik ku meninggal, ketika baru akan mencari takdirnya. Apakah sekejam itu takdir? "


"Dev?"


"Jangan halangi aku bicara, Aida. Kau tahu? Bagaimana Sam membawa takdir. Sam memanfaatkan semua nya atas nama Fany. Menyakiti Rayan demi menjaga Fany. Bahkan, dia sengaja memperburuk keadaan Rayan denganku. Membuatku selalu menjadi olokan diantara semuanya. Kenapa takdir masih berpihak pada Dia? Bisa kau jelaskan, bagaimana takdir berlaku di hidupku? "


" Aku yang menjadi korban terpedih disini, Aida. Ray, telah mendapat gantinya dengan cepat. Yaitu, Kau. Bahkan, Sam yang sejahat itu pun, segera mendapat gantinya, yaitu Mei. Mereka bahagia dengan takdir barunya. Aku bagaimana? Bagaimana Aida! Aku sudah kehilangan semuanya. Adik ku, posisiku. Dan kau lihat Mama? Mama sampai seperti itu. Karena semuanya. Adil kah?" tatap Dev nanar.


Aida diam. Berjalan perlahan mengusap air mata Dev yang mengalir dengan deras. Air matanya begitu tulus, apalagi ketika menyangkut hal tentang Mama nya.


"Setidaknya, kau tak pernah merasakan, bagaimana ketika Ibu mu meninggalkanmu. Dan lebih menyayangi orang lain. Dan lebih parahnya... Ia tak pernah mengingatmu sama sekali." ucap Aida, dengan senyumnya.


Nafas Dev naik turun. Menerima apa yang Aida berikan padanya. Tak seperti yang Ia harapkan, ketika Aida tertekan atau menangis. Justru Ia tersenyum dengan segala rasa pahit yang Ia alami.


"Semua kehidupan itu berputar. Bahagia, menderita. Bertemu, dan pergi. Datang, meninggalkan. Hanya itu rute hidup kita, Dev. Kau tak akan tahu hatiku, yang menderita berpisah dari Ray. Dan kau juga tak akan tahu, apa bahagia dibalik semuanya."


*


" Tono... Ini rumah kamu? " tatap takjub Bu Lastri, dan Om Edo pada rumah besar itu.


Di kampung, yang mereka lihat terbesar adalah rumah Amrul semprul. Bahkan, itu pun mereka gadaikan demi membiayai pengobatan Amrul dengan sakit jiwanya pasca di tinggal Aida untuk yang kesekian kalinya. Sementara Tante Rum, mendekam dalam penjara. Bahkan Om Edo begitu enggan untuk menjenguknya.


"Iya, ini rumah Mas Ray. Bagus, mewah, pelayannya banyak. Tenda yang ada, buat pernikahan Mei, besok. Mas Ray yang kasih semuanya." puji Mei, pada kakak angkatnya itu.


"Sederhana saja, Mei." timpal Ray, yang kemudian menggandeng mereka masuk ke rumah.


Diruang tamu. Mereka bertemu dengan Mami Bian. Ia masih dalam posisinya semula. Hanya buku nya yang berubah. Dan Ia pun masih tampak begitu tenang.


"Mami..." panggil Mei, dengan begitu lembut dan sopan.


"Ya, kenapa?" tanya nya. Lagi-lagi tanpa mau menatap lawan bicara.


"Ini, Ibu Mei. Sama Om nya Aida. Mereka dateng, mau nginep disini. Buat, pernikahan Mei, besok."


"Ya, masuk saja. Semoga betah disini," jawabnya tanpa ekspresi.


Dan Mei baru sadar, jika Mami memang aneh sejak tadi.


"Kenapa sih, Dia?" garuk Mei, pada kepalanya yang tak gatal.