
"Hello, kalian kenapa? Pagi-pagi sudah bertengkar?" datang Dev dengan wajah santainya.
"Ini lagi! Kamu nyari Rayan aja ngga bisa. Kamu ngapain aja sih? Pacaran?" tegas Mami Bian pada keponakannya yang satu itu.
"Pacaran? Mana sempet. Memang sih, ada cewek yang aku taksir, tapi...."
"Davish! Pantes kerjaan kamu ngga pernah bener. Kapan kamu bisa seperti Rayan dan Sam? Kamu selalu di bawah mereka. Ngga guna!" cibir Mami Bian padanya.
Dev hanya tersenyum kecut. Ia memang sudah menduga, akan kembali mendapat omelan begitu pedas. Tapi, Ia sudah tak terlalu sakit lagi dengan untaian kata itu.
"Sudah? Jika sudah, aku ada perlu dengan Sam." ucapnya, membalas semua omelan itu dengan santai.
"Kamu!"
"Ada apa, Dev? Mari, keruang kerja ku." ajak Sam, yang kompak meninggalkan Tantenya itu. Tampak Mami Bian menatap sinis pada keduanya, tapi Ia tak perduli.
Mami Bian menikah dengan Papi Hartono sepuluh tahun lalu. Ya, usianya baru Dua puluh lima tahun kala itu, dan Ia menikah dengan pria berusia Empat puluh tahun. Kala itu, Rayan berusia Enam belas tahun.
Orang bilang, perhatian Mami pada anak tirinya itu terlalu berlebihan. Bahkan, terlalu lebai jika dipandang dalam sudut pandang ibu tiri. Terkesan posesif, hingga bahkan Rayan tak pernah pacaran. Karena gadis yang dekat dengannya selalu mundur secara perlahan. Alasannya, adalah sama. Mami Bianca tak suka dengan mereka.
(Nb: jadi jangan heran, kalau Tono polos-polos gimana gitu. Karena dari nalurinya aja belum pernah deket sama awewek.)
Bahkan, sekretaris pribadipun pria. Yaitu Sam, sepupunya sendiri. Tak pernah ada yang bertahan, apalagi dengan segala peraturan yang Mami Bianca berikan.
"Ada apa, Dev?"
"Katanya, kau akan kesana setelah aku kembali. Kenapa belum berangkat?" tanya Dev, yang santai duduk di sofa Sam.
"Entah kapan. Kau tahu, pekerjaan begitu menumpuk. Keplaku ingin pecah rasanya. Apalagi, dengan ocehan wanita itu. Gila aku dibuatnya." keluh Sam, dengan mengacak rambutnya kasar.
"Menurut pendataan, harusnya memang Rey ada didaerah sana, jika Ia selamat. Terombang ambing, dan itu tempat paling mungkin dimana tubuhnya ditemukan." jelas Sam, membicarakan hal yang Ia dengar dari Tim Sar.
"Aku sudah mencarinya. Tapi, memang tak ada. Orang hanyut dan meninggal di pantai itu, rata-rata memang orang yang melanggar batas wilayah renang. Dan tak ada lagi." jelas Sam.
"Ya, aku tahu jika kau sudah berusaha. Aku, hanya masih tak yakin jika Rayan sudah....."
"Aku bahkan sudah ke kantor pusat, untuk menyelidiki lebih lanjut. Tapi, tak ada perkembangan. Justru hatiku, yang mendapatkan sesuatu." elus Dev di dadanya.
"Kau kenapa? Ketemu cewek?" Sam memicingkan mata. Dev hanya mengangguk, dan menatap Sam dengan wajah sok imutnya.
"Kenapa ada-ada saja penemuanmu. Pantas saja, kerjamu tak pernah beres." ledek Sam.
"Kau jangan menambahi. Aku sudah kesal daritadi." tukas Dev.
Mereka melanjutkan pembicaraan. Pekerjaan yang menjadi bahasan kali ini. Memang begitu banyak, dan memusingkan kepala dua pria itu. Semua harusnya adalah pekerjaan Rayan, tapi Ia sendiri masih asyik dengan dunia barunya disana.
*
" Tono, tolong periksa material yang datang. Kamu kan pinter," panggil Pak Habib, seorang mandor disana.
"Iya, Pak. Akan saya periksa." turut Tono padanya.
Pak Habib memang diam-diam sudah memperhatikan Tono sejak lama. Pekerjaannya bagus, gesit. Dan bahkan Ia lebih cerdas dari kuli yang lain. Dan mungkin, keahliannya itu sudah setara mandor atau bahkan arsitek yang harusnya mengawasi semua pembangunan.
"Ngga cocok jadi kuli." gumam Pak Habib. Dan memang, semua mengakui itu.