
Rumah terasa hampa tanpa sambutan sang istri. Ya, biasanya Aida yang selalu datang berlari lalu langsung meminta gendong hingga ke kamar. Kini, Ia tak ada. Hanya Mei, berusaha mencairkan suasana sepi itu.
"Mei, bagaimana mau nya?" Ray tampak pasrah pada perintah Aida.
"Mas, Mei boleh jujur? Maaf juga, karena merahasiakan itu. Aida hanya ingin keluarga ini tak lagi banyak masalah."
"Jelaskan..." pinta Ray dengan wajah begitu datar, ditemani Sam disampingnya.
"Mama Lia, itu Ibu Aida, Mas. Salah satu alasan Aida ngga mau di panggil dengan nama Nur, adalah karena nama mereka berawalan dengan nama yang sama." jelasnya, sedikit gelisah menanti respon Ray.
"Nur Aida Rindayani... Nur Aulia Rismayani? Ya... Astaga, Aku baru ngeh soal ini. Pantas, Aida begitu diam ketika ada di sampingnya." Ray memijat kepalanya yang terasa berat.
"Aida berusaha melupakan, karena Ibu nya pergi tanpa kabar ketika ada dinas di kota. Kala itu, ada musibah dan sang Mama di jadikan relawan. Dan sejak itu, Ibu ngga pernah kembali. Gosip memang bilang, kalau Ibu menikah dengan pria kaya. Makanya, ninggalin Ayah Aida yang miskin."
Sam dan Ray tertunduk lesu. Memikirkan dan mengulang sejenak kisah masa lalu ketika Mama Lia menikah dengan Papa Dev kala itu.
" Tak ada yang salah. Mereka menikah karena memang saling suka. Apalagi, Fany masih membutuhkan sosok Mama kala itu." tutur Sam, dengan segala ingatannya.
"Ai sudah berusaha iklas. Sudah mencoba lupa akan sakitnya masa lalu itu. Okey, Mei tahu jika Mama Lia pasti ngga akan kenalin anaknya yang sudah dewasa. Tapi, Ai dan Mei sangat faham Beliau, Kak."
"Sam, hubungi Boy dan segera antar Ibu Mei kemari. Pernikahan kalian, harus segera di laksanakan. Selama proses, tak ada yang boleh membuat kerusuhan. Akan ku habisi, siapapun yang berani menyentuh istriku." ucap Ray dengan begitu menggebu.
"Jangan khawatirkan aku. Dia baik-baik saja disana." ucap Ray, lalu beranjak ke kamarnya.
"Kau bilang rindu? Aku tahu kau sangat rindu. Aku beri kau kesempatan mengabdi meski Ibu mu sendiri tak kenal kau. Tapi, Ia pun harus tahu kebenarannya, meski nanti." baring Ray di kamarnya.
*
Sesuai janji. Dev hari ini mengantar Aida untuk membeli semua perlengkapannya. Dengan mobil berdua, menuju sebuah butik yang di sarankan Mama Lia padanya. Aida diam seribu bahasa, meski Dev beberapa kali mengajaknya bicara. Hanya, mengeluarkan jawaban seadanya agar Dev tak semakin marah nantinya.
"Kau tak suka, jalan berdua dengan ku?"
"Bukan tak suka, tapi tak pantas. Aku sudah bersuami." jawab Aida tanpa menoleh pada Dev.
"Jika aku bicara, tatap mataku!" sergahnya. Aida pun menatapnya tajam. Bahkan lebih tajam dari tatapan yang Dev inginkan. Tatapan penuh rasa benci padanya, yang telah egois demi dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Aku korban disini!"
"Aku tahu kau korban. Tapi tak lantas berhak dan wajar mengorbankan orang lain demi dirimu sendiri." Aida kembali menatap layar Hpnya, membuat Dev geram. Meraih, lalu membuangnya ke tempat yang jauh.
"Puas?" tatap Aida lagi.