Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Mana Nur ku?


"Pestanya lumayan, untuk sebuah kata dadakan." puji Mama Lia, yang turun dari mobilnya.


"Ya, bagaimana lagi? Tamu pasti akan banyak meski sudah di pangkas-pangkas." jawab Aida, menggenggam tangannya dan berjalan masuk. Sayangnya, sebagai undangan. Semua pelayan mengangguk kan kepalanya penuh hormat. Andai bisa, pasti akan meraih Aida untuk mereka berikan pada Tuannya.


Aida menatap pelaminan. Hanya ada kedua mempelai disana. Ia menoleh kesana dan kemari.


"Cari Ray?" tanya Dev, mendadak ada di sampingnya.


"Wajar, aku rindu." jawab Aida. Ia pun pergi dari Dev menuju kamar nya dan Ray yang ada diatas. Masuk, dan mencari suaminya disana. Hening, hingga sebuah tangan memeluknya dari belakang.


"I Miss You," bisiknya lembut, dengan mengusap wajah di tengkuk Aida. Ia pun mengeratkan pelukan itu, sebagai ungkapan rindunya yang mendalam.


"Cincin nya, ada?" tanya Aida. Membuat Ray menghenduskan nafas nya dengan kesal dsn melepas pelukannya.


"Tak bisakah, aku mencuri kesempatan?" cebiknya.


"Tak ada kesempatan. Semua harus segera selesai. Setelah itu......" Aida datang dan kembali mengincar jakun yang menonjol itu. Membuat Rayan terdiam dan mematung menghadapi godaan terdahsyat dari istrinya.


Cup...! Aida justru mengecup bibirnya. Membuat Ray serasa semakin gemas dan seolah tak ingin lagi mengulur waktunya.


"Udah, mana? Jangan bertele-tele." ucap Aida.


Ray pun memutar matanya, lalu mengambil cincin yang ada di nakas. Ia segera memakaikan nya pada Aida, melepas sementara cincin pernikahan mereka.


"Akan ku ganti dengan berlian,"


"Buktikan. Aida tunggu, berliannya..." tantangnya manja. Ia pun berlari, kembali turun menuju kerumunan orang-orang di pesta itu.


"Entah, kenapa mereka tak ada di pelaminan?" tanya Dev. Ia sudah ingin segera pulang. Tak betah lama-lama disana dengan segala rasa tak nyaman dalam hatinya. Meski, Ia sebenarnya bahagia melihat Mei tersenyum lepas disana. Bergandengan tangan dengan Sam di sebelahnya.


" Mba Nur?" panggil seseorang dari belakang, dengan mengetuk bahunya pelan.


Mama Lia terdiam, ketika ada yang dengan lantang memanggilnya dengan nama asli. Bahkan, Papa Dev pun tak pernah memanggilnya dengan sebutan itu selama ini. Ia pun menoleh, menatap wanita yang ada di hadapannya itu.


"Lastri?" panggil Mama Lia. Matanya tampak berkaca-kaca dengan apa yang Ia lihat. Apalagi, ada Om Edo disampingnya.


"Mba Nur, apa kabar?" Om Edo mengulurkan tangannya.


Mama Lia gemetaran sekujur tubuh. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajahnya pucat pasih, dengan peluh yang mulai membasahi kening hingga pipinya.


"Ma, Mama kenapa?" Dev cemas, dan langsung memegangi tubuh sang Mama yang lemas seketika.


"Siapa kalian?" tanya Dev. Meski Ia pernah melihat Om Edo sebelumnya. Tapi, Ia bertanya akan status mereka di mata sang Mama.


"Tri, kenapa disini?" tanya Mama Lia, dengan segenap tenaga yang tersisa.


"Mba Nur lihat, gadis yang di pelaminan sana? Itu anak ku, Mba. Itu Mei, Wulan Mae syaroh. Ingat?" tanya Bu Lastri, dengan menunjuk putrinya disana.


"Engga... Ngga mungkin. Katanya, Mei dan Aida ikut tenggelam bersama dengan Ayah Aida... Mereka udah ngga ada. Kamu bohong!" sergahnya.


"Mba... Maaf," panggil Om Edo, lalu menggenggam tangan mantan Kakak iparnya itu.


"Jika itu Mei. Mana Nur ku? Nur ku mana!!" pekiknya sekuat tenaga. Membuat seluruh perhatian beralih padanya. Ia pun mulai tampak frustasi, dengan deraian air mata membanjiri pipinya.