Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Perpisahan Mei dan Sam


Makan malam terasa begitu hening. Hanya sesekali terdengar ketika Sam mulai memberi perhatian untuk Mei yang masih sulit menggerakkan tangannya. Itu pun dengan cepat dihentikan, ketika Aida mulai memberi tatapan tajam pada keduanya.


Sama halnya dengan Mami Bianca. Ia tampak lesu dan sayu, tak seagresif biasanya. Menambah sepinya suasana disana.


"Ray?" panggil Sam, yang akhirnya memulai percakapan.


"Ya, ada apa, Sam?" Ray sejenak meneguk segelas air yang ada disampingnya.


"Aku... Aku mau pamit," ucap Sam, sedikit canggung.


"Mau pamit kemana?" Aida menambahi, meski dengan nada datarnya.


"Aku akan pindah, ke rumahku sendiri. Aku, sudah membeli sebuah rumah dari hasil tabunganku bekerja selama ini. Meski, rumah itu tak begitu besar, seperti disini."


"Tapi setidaknya nyaman. Iya kan, Kak?"


"Mei...." tatap Aida, dingin. Mei pun langsung diam, dan menundukkan wajahnya. Ray pun menenangkan sang istri, dengan menggenngam tangannya erat. Tampak jelas oleh mata Mami Bianca, yang hanya bisa menghela nafas kali ini.


"Kau yakin?" tatap Ray pada Sam.


"Ya, aku sangat yakin. Aku sudah persiapkan semuanya. Dan.... Hanya tinggal menunggu restu kalian, agar aku bisa menikahi Mei." tatap Sam.


"Sam, Mei... Kalian?" kaget Mami, ketika mendapati keduanya dengan tatapan penuh cinta.


"Ya, kami akan menikah. Menunggu restu dari Kedua wali kami." ucap Mei, menggenggam tangan Mei dan mengangkatnya pada Mami Bianca.


Mami Bianca hanya mencebik kesal. Pemandangan semakin menyakit matanya kali ini. Belum lagi, Ray dan Aida yang semakin berani bermesraan di hadapannya. Tanpa pernah mau perduli dengan lingkungan disekitar.


"Mei, kamu udah mikir mateng-mateng? Bukan cuma aku, Mei. Tapi Ibu mu di kampung." tukas Aida.


"Mam, ini rumah Ray." tegurnya lembut. Mami Bian pun kembali diam, menghempaskan sendok dan garpunya di piring dengan kesal.


"Jadi, Aida restui kami?" Mei tampak senang, apalagi dibalas dengan anggukan Aida. Meski tampak datar, tapi Mei tetap bahagia. Hanya Mami Bianca, yang menghela nafas begitu jengah dengan keduanya.


"Tapi...." Mei menatap Mami Bianca dengan sedikit ngeri.


"Pokoknya, Mami ngga mau kalau bertambah satu orang kampung lagi disini. No way!" tegasnya, meninggalkan meja makan dengan begitu kasar.


Aida hanya mengedikkan bahunya, dan lanjut menikmati makan malamnya yang sudah dingin itu. Begitu juga dengan Ray. Bukan bermaksud membiarkan Mei dan Sam berfikir sendiri disana. Hanya saja, mereka ingin lihat bagaimana Sam memperjuangkan Mei untuk dirinya.


"Aku... Akan minta Mama Lia menampung Ibu mu dirumahnya." ucap Sam.


"Kau berani, menghadap Dev?" tantang Ray, yang seketika membuat Sam menelan salivanya. "Ya, aku siap." jawabnya dengan yakin.


Ray mengangguk-anggukkan kepalanya, disusul tatapan manis pada kedua adiknya itu. Hanya dukungan untuk mereka saat ini, beserta doa kelanggengan keduanya dengan niat suci mereka.


"Jika ada sesuatu, katakan padaku. Aku akan membantu sebisanya. Kau dan aku, tahu bagaimana watak Dev. Keras, meski terlihat santai."


"Ya, aku sangat faham. Terimakasih." jawab Sam.


Usai makan malam, Mei dan Ray membantu Sam membereskan semua pakaiannya. Belum semuanya, tapi setidaknya cukup untuk Sam bawa pindah malam ini. Sisanya, Aida dan Mei akan mengantarnya besok.


"Aku pamit, jaga diri baik-baik."


"Iya. Kak Sam yang harusnya jaga diri. Disana ngga ada orang lain. Kakak sendirian."


"Aku terbiasa sendiri, Mei. Maka dari itu, aku sangat berharap jika kau segera bersamaku." ucap Sam, dengan mengusap lembut wajah Mei yang makin tersipu malu di buatnya.