Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Lakukan perintah Aida, demi kita


"Hallo, Mas Ray." Mei merebut obrolan mereka.


"Mei, bagaimana Aida bisa ikut?"


"Maafin, Mei. Mei lemah mencegah Aida. Harusnya, Mei yang Kak Dev bawa. Bukan Aida." tangisnya.


"Hey, tenanglah. Jangan menangis. Aku akan semakin cemas, nanti."


"Tapi, Mei cemas sama Aida. Takut, Dia di apa-apain sama...."


"Dev tak akan melakukan apapun, pada wanita yang Ia cintai. Kau tenang saja," Ray berusaha menenangkan Mei, mesku hatinya sendiri terasa begitu hancur saat ini. Tapi, seperti yang Ia bilang jika, Dev tak akan melakukan apapun pada Aida.


"Tenanglah. Aku dan Sam, akan segera pulang menemuimu.."


"Iya," Mei mengusap air matanya.


"Pak, terimakasih..." ucap Mei, yang mengembalikan ponsel pada pelayan itu. Untung saja, di saat seperti ini Nenek lampirnya tak ada. Jika ada, pasti akan menambah ricuh suasana hari ini.


*


Aida membuka matanya, ketika mobil Dev berhenti di garasi rumahnya. Ia pun turun, dan melenggang santai meninggalkan Dev di belakangnya. Seolah tak perduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


"Assalamualaikum, Ma...." panggil Aida pada Mama Lia. Meski Ia sudah begitu ingin, memanggilnya dengan sebutan Ibu.


"Waalaikumsalam. Loh, Aida? Kenapa kesini?" sambut dan peluk Mam Lia padanya.


"Ya... Mulai hari ini, Aida akan rawat Mama. Setidaknya, sampai Mama agak sehat. Aida, lulusan bidan yang bisa merawat." jelasnya, sembari berusaha mencairkan keadaan.


"Aida ngga ribut. Aida hanya ingin disini, sebentar." ucapnya begitu lembut, mengusap lengan sang Ibu. Ya, suasana yang sangat Ia rindukan beberapa tahun lalu. Dan akhirnya, Ia akan nikmati masa itu sekarang. Ibarat sekali gayung Dua pulau terlampaui. Nisa bersama Ibunya, dan Mei menikah dengan Sam. Ia yakin, Dev akan mengembalikan Ia pada Ray.


Dev hanya diam melihat kebersamaan mereka. Menatap Aida dengan segala ketulusannya. Lagi-lagi, Ia hanya bisa terpesona pada wanita itu. Begitu bisa menggetarkan jiwanya yang terasa begitu keras saat ini. Hampa, hancur, dan membeku.


"Aku antar kau ke kamar. Disana, ada baju Fany yang bisa kau gunakan. Nanti, akan ku ajak kau belanja keperluanmu." ajak Dev pada Aida.


"Ya... Sepertinya pakaian Fany muat denganku. Terimakasih," jawabnya, seolah tak ada beban dihati. Fikiran Dev kembali penuh dengan tanda tanya yang begitu besar.


Aida merebahkan dirinya setelah Dev pergi. Ia meraih Hp yang ada di saku celananya. Untung saja, Dev tak meminta nya untuk Ia tahan. Atau belum. Yang jelas, Aida harus memanfaatkan setiap moment emas yang Ia temui.


Nomor Ray Ia tekan, lalu menunggunya mengangkat dengan segera. Sedikit takut ketahuan karena belum tahu bagaimana respon Dev padanya.


"Sayang, kau dimana?" tanya Ray begitu khawatir.


"Mas... Aida baik-baik saja. Tolong, ikuti perintah Aida saat ini. Panggil Bu Lastri, nikahkan Sam dan Mei. Setelah itu, pasti kita akan kembali."


"Bagaimana aku percaya dengan itu? Bagaimana aku percaya, jika Dev akan..."


"Mas... Percaya sama Aida. Mei, akan menjelaskan semuanya. Semua beres, kita kembali. Kita ngga akan pernah berpisah lama."


"Baiklah. Akan ku lakukan mau mu, Sayang. Jaga diri disana. Jika ada sesuatu, bagaimnana cara nya kau harus beritahu padaku." ucap Ray, dengan segala kerinduan yang ada.


"See you, sayang," kecup Aida dari kejauhan.