
"Tuan, mau kemana?"
"Keluar sebentar!" balasnya dengan menaiki motornya pergi.
Ya, kemana lagi Ia, jika bukan menuju tempat Aida berada. Ia masuk dan mencari tempat yang ada dalam foto itu. Untungnya, Aida masih ada disana, dan Dev tengah duduk menunggunya sembari membaca sebuah majalah.
" Topi, Tuan?" tawar seorang penjual. Ray pun segera membelinya tanpa menunggu uang kembalian diberikan. Langsung masuk ke dalam toko pakaian itu menghampiri Aida..
"Hhh, namanya juga males. Mau di apain juga, males. Daritadi, ngga ada nemu yang cocok." gerutu Aida, dengan terus memilih beberapa pakaian di tangannya.
"Mau yang model apa, Kak? Biar saya bantu." tawar sang pramuniaga.
"Bawain aja, yang se deretan ini ukuran M. Beda-beda warnanya."
"Baiklah..." angguk pramuniaga itu padanya.
Aida pun menunggu kembali sejenak, sembari memilih yang lain. Ray semakin dekat, dan kini tengah berada tepat di belakang Aida. Tangan Ray, langsung menggenggam tangan Aida dengan erat. Membuat wanita itu langsung membalik badan karena terkejut.
"Sssst! Jangan bicara apapun."
"Kenapa tahu, Aida disini?" lirihnya.
"Aku tunggu di toilet,"
"Tapi..."
"Jangan banyak alasan... Datang saja," belai nya pada rambut Aida, lalu pergi dengan langkah yang cepat.
Aida pun bergegas menuruti perintah suaminya, dan meminta izin Dev untuk pergi kebelakang.
"Kau mau apa?" tanya Dev dengan dinginnya tatapan itu.
"Kenapa harus bertaya, untuk apa aku ke toilet? Perlukan aku menjelaskan?" tukas Aida.
Dev pun berdiri, merapikan jas dan menggandeng tangan Aida.. "Ayo,"
"Kenapa? Hanya mengawasimu, agar kau tak lari dariku."
Bugghh! Aida melempar tas nya ke dada Dev dengan begitu kesal. Nafasnya pun naik turun menahan emosi dalam dirinya yang seolah tak tertahan lagi untuk di ledakkan.
"Aku tak akan kabur. Camkan itu. Kecuali jika, kau ingin semua orang mengeroyokmu disana." ancam Aida, lalu pergi dengan langkah cepatnya meninggalkan Dev yang mematung disana.
Aida menelusuri semua lorong yang ada di mall itu. Menuju sebuah kamar mandi yang memang letaknya ada diujung sana. Sepi, daj terus berjalan hingga sebuah tangan menariknya masuk ke sebuah tempat sepi. Bahkan membekap mulut nya agar tak spontan berteriak.
"Ini Aku, Nur...." Ray membuka topi, dan tampak lah wajah tampan itu meski disana remang-remang.
Aida meraih wajah itu, dan mengusapnya dengan lembut hingga turun ke bawah. Area mana lagi, jika bukan di jakun indah Rayan yang selalu menggemaskan baginya. Rayan hanya bisa memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan indah yang ada.
"Maaf, ngga izin dulu."
"Hmmmmm..." jawab Rayan, dengan meneguk salivanya. Terasa naik turun dengan kuat, dengan bunyi nya yang begitu eksotis.
Spontan tangan Rayan langsung meraih tengkuk Aida, dan menyerang bibirnya dengan brutal. Aida hanya bisa membalasnya, dengan merangkulkan kedua tangan di leher Rayan. Aida menyudahi aksi mereka, ketika mendengar derap langkah beberapa orang yang lewat.
"Tahan diri. Jangan sampai, rencana kita sia-sia. Aida sudah berkorban seperti ini."
"Aku tahu... Aku hanya... Kenapa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Apa?"
"Ibumu..." timpalnya.
"Hanya tak ingin menambah masalah, itu saja. Toh, dia lupa denganku. Tapi... Sebentar lagi kenyataan akan terungkap. Asal Mei dan Sam telah resmi menikah. Jangan sampai, Dev tahu sekarang."
"Kalian bersaudara?"
"Ya... Aida hanya takut jika Ia akan semakin sulit menerima kenyataan."