Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Mas lucu,


"Dasar cowok! Kalau ketemu cewek yang lebih bening, pasti dilirik. Bohong, kalau katanya aku terima kamu apa adanya. Hoaks!" gerutu Aida, dengan terus berjalan lurus mengikuti nalurinya.


"Aaakh!" pekiknya, ketika tersandung sesuatu yang membuat kakinya sakit.


"Yaaah, putus sendalku." kesalnya. Ia akhirnya melepas sendal, meninggalkannya di sembarang tempat. Ia kembali berjalan, menuju ke warung Nek Mis untuk mengambil sendal yang lainnya.


"Males kerumah. Males kemana-mana. Males, males, males!" pekiknya yang masih kesal hingga ke ubun-ubun. Entah, Ia sadar atau tidak, jika Ia sebenarnya tengah cemburu buta.


Sedangkan dibelakang sana, Tono telah ketinggalan jauh. Serasa kalah langkah panjang nya oleh langkah cepat Aida. Entah, Aida berlari ataupun masih berjalan normal hingga tak juga tersusul.


"Nur! Nur kamu dimana, Nur?" pekik Tono berkali-kali. Namun tak kunjung ada jawaban.


"Nur, dimana? Maafin aku, aku ngga peka sama kamu. Benarkah kamu cemburu? Tapi, jika iya katakan saja. Aku suka jika kamu cemburu, Nur." gerutunya sepanjang jalan.


Bahkan, Ia memperhatikan lautan yang luas itu. Fikirannya nyaris kacau, apalagi terngiang ucapan Mei yang selalu mengganggunya.


"Astaga, kamu ngga mungkin begitu, Nur." lelah dan resahnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, masih menoleh kesana kemari untuk mencari petunjuknya. Hingga Ia, menemukan sepasang sendal Nur yang tertinggal.


"Astaga, Astaga! Nur, kamu kemana? Kenapa sendalmu disini?" fikirannya makin kacau dan gelap. Ia bahkan berteriak tanpa kontrol, memberanikan diri masuk kedalam air laut itu yang sedang pasang itu.


"A-aku bisa. Aku bisa. Nur! Kamu dimana?" Tono akhirnya masuk ke dalam air, bahkan hingga ketempat yang dalam. Di carinya Nur sampai Ia berenang ke tengah. Tapi, tak juga Ia temukan. Ia mulai frustasi, bahkan menangis karenanya.


"Nur, maafkan aku, Nur. Aku janji, aku tak akan menyebalkan lagi. Aku janji, aku tak akan membuatmu marah atau pun cemburu lagi. Aku mohon, muncullah." air matanya menganak sungai.


"Mas! Lagi ngapain?"


"Mas ngapain? Kok berenang. Udah sembuh traumanya?" tanya Aida dengan begitu santai.


Mata Tono memerah, raut wajahjya begitu kesal. Rasanya, Ia ingin menyeret wanita itu dan menenggelamkannya disana.


"Kamu yang kenapa! Kamu pergi begtu aja, ngambekan. Aku kira kamu.... Kamu... Fikiranku udah macem-macem, Nur!" omel Tono, masih bertahan di dalam sana.


"Lah, Aida kenapa? Kok sampai cemas?" Aida berlagak bodoh.


"Kamu ngga tahu betapa cemasnya aku, Nur. Aku sangat takut kehilangan kamu. Bahkan, aku sampai disini demi kamu. Faham ngga kamu tuh!"


Aida hanya tertawa terpingkal. Ia kemudian berlari masuk ke air, dan menyusul Tono di tempatnya.


"Diem, jangan kemana-mana." pekik Aida. Ia berenang, wajahnya tampak sangat ceria. Semakin dekat dengan Tono, dan meraih tangannya disana. Mereka berdiri terapung, ditengah area pantai yang mulai dalam itu.


"Kenapa malah senyum?" tanya Tono sinis.


"Mas lucu." jawab Aida dengan gemas, menggigit bibir bawahnya.


"Perjuangan ku ini, kamu anggap lucu?" sergah Tono, di jawab gelengan Aida.


"Lucu. Coba aja fikir pakai logika. Aida itu relawan, penjaga pantai. Masa iya, Aida bisa tenggelam disini?"


Barulah, Tono dapat berfikir dengan jernih. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, dengan wajah tersipu begitu malu.