Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Ancaman Mami Bianca


Aida menggelengkan kepalanya, lalu menggandeng Tono masuk. Seperti yang Tono minta, jika Ia ingin membeli beberapa pakaian dalam. Aida pun membawanya ke toko underwear.


"Apa carinya, Kak?"


"Pakian dalem cowok, mana?" tanya Aida.


"Bisa, disana. Mau model dan ukuran apa?" tanya sang penjaga toko padanya.


Aida sontak bingung, ketika di tanya ukuran oleh penjaga itu. Ia langsung mencari Tono untuk memilihnya sendiri.


"Mas, ayo sini. Pilih sendiri, Aida ngga ngerti." panggilnya.


"Oh, iya. Maaf," Tono langsung menghampiri, dan memilih beberapa yang Ia inginkan. Termasuk, beberapa celana pendenk santai untuk Ia pakai dirumah.


"Nur, Udah." panggil Tono dengan tas berisi belanjaannya. Nur datang, dan membayar semua yang Tono beli. Lumayan banyak, karena memang Tono tak memiliki apapun untuk dipakai.


"Nur, kemahalan ya? Kenapa ngga dibalikin separuh tadi?"


"Ngga usah bilang gitu. Itu udah dibayar kok. Tinggal pakai aja."


"Maaf, besok aku ganti." ucap Tono, untuk kesekian kalinya.


Nur membalik tubuh, lalu menatap tajam Tono, "Mas, stop bilang itu dong. Kalau emang mau ganti, yaudah, kerja aja. Besok kamu ganti semua uang itu. Aida juga ikhlas kok, nolong Mas. Toh, Mas Tono suami Aida."


"Iya, Nur. Maaf." lagi-lagi Tono meminta maaf.


"Buang rasa ngga enak. Apa yang ada, kita pakai bareng-bareng, dan nikmatin bareng-bareng. Kalau Mas belum ada duit, pakai duit Aida dulu. Ada kok."


"Iya," angguk Tono. Aida pun ingin, agar Tono tak bersikap seperti itu lagi. Aida ingin, agar Tono bersikap seperti biasa saja, sebagaimana mestinya.


**


"Sam, Sam! Apa tak ada kabar sama sekali tentang Rayan? Ini sudah lebih dari seminggu."


"Tante. Sam udah berusaha sebagai mana mestinya. Bahkan bukan hanya Sam, Davis juga tengah berada di daerah, dimana terakhir Rayan ditemukan."


"Dimana itu?" tanya Mami Bianca.


"Di pesisir. Di daerah tempat Rayan jatuh, tak jauh dari sana, ada sebuah kota kecil. Kebetulan, kami membeli Rumah sakit bangkrut disana. Jadi, Davis sekaligus berangkat untuk mengurus proyek." jawab Sam, dengan segala penjelasan yang Ia ketahui.


"Betapa jauhnya kesana, Sayang. Kenapa tak kunjung ada jejak." tangis Mami Bian lagi, yang selalu mengalir ketika teringat Rayan.


Davis Alam Suryono. Salah satu sepupu dari Rayan selain Samuel. Mereka bertiga bekerja sama membangun kerajaan bisnis peninggalan Ayah mereka. Bergerak sesuai ilmu dan bidangnya masing-masing.


Sam kembali ke pekerjaannya. Semenjak Papi dan Maminya meninggal, Ia tinggal serumah dengan Rayan. Mereka berdua yang paling akrab, dibanding bersama Davis. Tapi tetap mereka bertiga, Maskot keluarga besar Hartono yang telah tersebar dimana-mana.


"Nyonya, semua orang meminta keikhlasan untuk Tuan Rayan. Mereka mau, agar kita menggelar acara memperingati....."


"Gila Kamu Tery! Rayan belum meninggal. Rayan masih hidup. Perasaan saya mengatakan itu."


"Tapi, Nyonya."


"Kalau kalian berani menggelar acara itu, saya bakar gedung itu bersama isinya. Yaitu kalian!" ancam Mami Bianca, pada Asisten keluarga itu.


Itulah Mami Bianca, yang bahkan rela melakukan apapun untuk Rayan. Meski anak tiri, tapi Ia sangat menyayanginya. Beberapa orang bahkan sempat bertanya-tanya, cinta macam apa yang Ia berikan untuk anak tirinya itu. Hanya sekedar cinta untuk seorang putra, atau cinta atas nama yang lain.