Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Kalau di sinetron


Aida mengajaknya duduk, meski sedikit berjauhan. Sadar diri, Ia telah memiliki suami dan banyak mata pengintai disana. Davish pun begitu ramah pada Aida. Tatapan nya begitu tulus dan penuh empati. Dan lagi, hatinya memang bergetar hanya dengan suara lembutnya itu.


"Nenek punya riwayat jantung. Tapi belum tahu kenapa, sampai bisa ditemukan di pinggir pantai."


"Boleh, aku bantu menyelidikinya?" tawar Davish.


"Tidak usah, Tuan. Biarlah mengalir sebagaimana adanya. Bukan karena apa-apa. Tapi, menyelidiki begitu, justru akan membuat Nenek ngga tenang. Bukan apa-apa. Nenek sudah dimakamkan. Kasihan, jika harus di bongkar untuk dilakukan visum."


"Ah, baiklah. Aku, hanya memberi saran." jawab Dev. Ia setuju dengan pendapat Aida. Karena Ia pernah mengalami, sakitnya ketika makam Ayahnya harus dibongkar. Padahal, hanya tinggal tulang belulang saja di dalam sana.


Tak lama Dev disana. Ia kemudian pamit setelah asistennya menjemput untuk pulang. Dev pun tak lupa memberikan uang duka pada Aida.


"Eh, ngga usah, Tuan. Ngga perlu, seperti ini." tolak Aida.


"Saya, hanya mengikuti kebiasaan disini saja. Dan, ini tak banyak." jawab Dev.


"B-baiklah, terimakasih."


"Oke, saya pulang dulu. Salam, untuk suamimu." lambai Dev pada Aida. Ia pun naik ke mobil mewahnya dan pergi.


"Siapa, Da?" tanya Bu Reni.


"Bos Rumah sakit, kayaknya."


"Ganteng loh, Da. Kayaknya, dia suka sama kamu."


"Ngga usah ngaco, Bu. Aida udah nikah." sergahnya.


"Da, Da. Itu Tono siapa sih? Nikah juga ngga kenal. Lagian, Dia itu ngga bisa diandalkan. Masa iya, bukannya nolong Nenek, malah lari-lari cari bala bantuan. Lelaki macam apa itu." cibirnya, menggantikan Tante Rum yang hilang seketika.


"Maaf, Bu. Mas Tono itu punya trauma dengan pantai dan laut. Jadi, Mas Tono memilih mencari bantuan." jelasnya. Ia ingin pegi untuk menghindar, tapi ada saja yang selalu mengajaknya bicara.


"Itu, kalau di sinetron. Kalau lupa ingatan itu, dia beraksi dan sembuh ketika keadaan genting. Lah Tono, malah makin diem. Ngga bisa diandelin." sahut yang lain.


"Eh, Buibu! Ini lagi melayat malah gibah. Tebar fitnah pula. Ngga ada kerjaan lain? Tahu apa situ, sama urusan Aida sama Mas Tono? Yang teriak-teriak nyuruh mereka nikah, juga kalian!" omel Mei yang tiba-tiba datang.


Semua diam, duduk dengan manis mendengar omelan Mei. Berusaha sok tenang, padahal wajah memerah seperti kepiting yang baru direbus.


" Mei, udah Mei. Masa ribut. Mas Tono mana?" lerai Aida.


" Disana. Tolong urusin, Ai. Kasihan, hampir pingsan tadi."


"Oh, iya." Aida langsung berlari untuk mengurus sang suami.


"Kan, memang ngga bisa diandelin. Ngubur aja pingsan."


"Dirinya sendiri aja ngga tahu siapa."


"Woy! Bubar.... Bubarrrrr!" amuk Mei.


"Mau ta'ziah, Mei."


"Nenek ngga perlu doa, dari mulut macam kalian. Pergi!" usir Mei dengan beringas. Mereka semua berlarian, meski dengan langkah tersandung-sandung oleh gamis mereka yang menjuntai panjang.


"Maaaas, Mas ngga papa?" tanya Aida, yang membawakan minum untuk Tono.


"Nur, aku hanya lelah." ucap Tono, memegangi dadanya yang masih sering sesak.


"Istirahat dulu. Nanti malam, kita pengajian. Setidaknya, selama Tiga malam."


"Baiklah," angguk Tono, lalu berbaring di lantai beralaskan tikar jerami itu. Aida menungguinya sejenak, sembari terus mengipasi sang suami yang memejamkan matanya.


"Apakah iya, jika kamu gesit, maka Nenek akan masih bisa selamat, Mas? Benarkah yang dikatakan orang, Mas? Semua hanya telat, andaikan lebih cepat."