Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Cincin maskawin


"Nur?"


"Ya, kenapa?"


"Besok aku gajian. Kita, beli ganti mas kawin, ya? Ngga enak, di cemberutin terus sama Tante Rum.


"Dia emang begitu. Senyumnya aja cemberut, gimana cemberutnya?"


"Ngga papa, kan. Yang di ganti mas kawinnya dulu? Cincin kamu, besok lagi?" tanya Tono. Aida hanya mengangguk, mengiklaskan semua. Sebenarnya, Ia pun bisa membeli sendiri. Tapi, nampak nya Tono benar-benar sedang memperjuangkan haknya saat ini.


Di ruang tengah, sembari menonton tv penuh semut. Tono melipat pakaian dan Aida menyetrika beberapa yang kusut. Sedikit sulit, hanya untuk mengajari Tono melipat baju dengan rapi.


"Masa lipet baju lupa?"


"Atau, malah belum pernah?"tanya Tono dengan polosnya. Membuat Aida lagi-lagi menghela nafas dengan panjang dan maksimal.


" Tolongin, Mas. Bawa ke lemari. Kaki Aida kesemutan." pintanya pada sang suami. Ya, Tono lagi-lagi menurutinya dengan baik.


" Nuuur," panggil Tono dengan lembut, dengan kepala yang keluar dari pintu kamarnya.


"Ya?"


"Bobok, yuk? Aku nggantuk?" panggilnya manja.


"Lah, tidur ya tinggal tidur, loh. Ngga usah nungguin Aida."


"Nuuuur,"


"Bisa ngga sih, berhenti panggil Nur? Kesel tauk." liriknya tajam.


"Engga," geleng Tono.


Aida mencebik kesal, dan berdiri mematikan tv nya.


"Lah, kenapa aku nurutin panggilan dia, coba?" garuknya di kepala. Tapi sudah terlanjur, Ia enggan kembali lagi pada tv nya.


Aida membentang selimutnya, kembali memberi batas pada dirinya dan Tono. Meski, sekarang lebih sering tidur berdua daripada terpisah di kursi.


"Nur, emangnya belum bisa tanpa bantal guling?" tanya Tono yang mengelus bantal itu.


"Tapi 'kan? Tapi' kan sudah halal."


"Mau apa?" tatap Aida dengan mata melotot segede jengkol. Lebih menyeramkan rupanya, di bandingkan tatapan yang selalu di berikan Tante Rum padanya.


"Engga!" jawab Tono, langsung menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Serta, membelakangi Nur-nya.


*


"Besok, si Tono gajian kan?"


"Iya, Ma. Kenapa?"


"Mau nagih utang cincin. Masa iya, mas kawin ngutang. Malu-maluin."


"Yang maksa mereka nikah, siapa? Bukannya Mama yang jadi kompor? Kenapa sekarang nagih-nagih? Sengaja, biar dapet barang baru?"


"Kok, Papa nuduh Mama gitu?"


"Memang kenyataan, hayo. Pasti, Mama kalau cincin lama yang di balikin, Mama ngga mau."


"Ih, ya ogah lah. Cincin udah di jadiin mas kawin kok. Masa mau balik ke


Mama." ucap Tante Rum, dengan mengedikkan bahunya.


Om Edo hanya menggelengkan kepala. Ia sebenarnya sudah bicara pada Tono, mengenai uang warisan itu. Tapi, Tono kekeuh tak mau menggunakannya. Bangga, tapi Ia juga tak tega ketika melihat perjuangan pria itu.


" Maaf, Da. Lagi-lagi Om tak bisa tegas. Hanya dengan memberi jalan kerja untuk Tonolah, yang bisa Om lakukan saat ini. Om mohon, jangan sampai Tanta tahu semuanya." fikirnya, sembari terus mengamati setiap inci gambarnya.


"Tono bisa, ini. Besok saja, ku tanyakan padanya. Siapa tahu juga, dengan terus bertanya, ingatannya akan terus terasah." harapnya.


Om Edo membererkan semua. Ia memang tak dapat istirahat, jika semua masih berantakan. Kadang, di jam istirahat Ia menyempatkan untuk mencari info tentang gadisnya yang bernama Tiara itu.


"Kamu kapan wisudanya? Bukankah, sudah waktunya."


"Iiih, Ayah. Wisuda ngga segampang itu. Masih banyak tugas yang harus selesai. Nanti, kalau udah waktunya, juga bakal dikasih tahu." tutupnya, pada panggilan sang Ayah.


"Ya,.Ayah tahu. Ayah juga pernah kuliah dan Wisuda, Ra. Tapi, ngga serumit ini."