
"Kak Sam, dimana?"
"Masih di kantor, Mei. Kenapa?"
"Ibu, setengah jam lagi sampai di terminal. Kita jemput?" tanya Mei, yang tampak tergesa-gesa dengan terus menatap jam di lengannya.
"Ta-tapi..."
"Kau dan Aku saja, Mei. Kalian, belum boleh bertemu hingga besok..." potong Ray, meraih Hp dari tangan Sam.
"Oh iya, lupa..." Mei menepuk jidatnya. "Yaudah, Mei tunggu dirumah ya, Mas."
"Ya, aku segera datang." jawab Ray, lalu mengembalikan Hpnya.
"Kenapa tak boleh?"
"Kau di pingit, Sam. Pulanglah, hafalnya ijab qabulmu." ledek Ray pada sepupunya itu.
Sam hanya menggaruk kepalanya penuh malu. Tertunduk dengan wajah memerah. Siapa sangka, Ia akan melepas masa lajangnya esok hari. Meski, semua di siapkan serba terburu-buru.
Mei bersuka cita. Masuk ke dalam kamarnya dan mempersiapkan semua keperluannya menjemput sang Ibu. Saat Ia keluar, pandangan nya tertuju pada kursi Mami Bian. Ia masih duduk disana dalam segala diamnya. Mei menghela nafas, dan mencoba menghampiri untuk berpamitan padanya.
"Ehm.... Nyonya Mami?" panggilnya lembut.
"Ya?" jawab Mami Bian, masih tampak elegan seperti biasanya.
"Mei, pamit, ya? Mau jemput Ibu."
"Ya, hati-hati..." jawab nya datar, tanpa menatap sama sekali lawan bicaranya.
Mei diam, dan terus diam sembari berjalan menuju pintu keluar. Memikir kan sesuatu yang terasa sangat mengganjal hatinya. Tapi apa? Ringan, tapi mengganggu isi kepalanya saat itu. Bahkan, masih terngiang hingga Ray datang padanya.
"Kenapa melamun?" tegur Ray, mengagetkan.
"Hah, gimana? Maaf, Mas. Mei ngelamun. Yuk, pergi...." ajak Mei, yang membuka pintunya sendiri.
" Untung saja, Sam mempertemukan kami, kemarin. Meski sebentar, tapi melegakan." balas nya tenang.
Mei mengangguk, dan kembali memberi keyakinan padanya. Bahwa esok, keduanya akan bertemu dan bersama kembali seperti sedia kala.
Keduanya tiba di terminal. Bukan tanpa alasan, Ibu Mei memilih Bus untuk sampai ke tempat mereka. Padahal, naik Heli pribadi pun sanggup Ray jemput.
"Daripada terbang, Ibu besoknya meriang. Mending naik bus, capek tapi aman." ucap Bu Lastri kala itu. Hingga mereka hanya bisa pasrah, demi kelancaran rencana yang telah mereka atur begitu matang.
Sebuah bus berhenti. Satu persatu semua penumpang turun dari sana, terutama Bu Lastri. Mei langsung beralari menyambut dan memeluk sang Ibu, yang memang telah begitu lama Ia tinggalkan demi menjaga Aida.
"Ibu...!" pekiknya manja. Sang Ibu pun membalas nya dengan segala rasa rindu yang ada.
"Ya Allah, Bayi Ibu udah dewasa rupanya. Sudah menemukan kehidupan barunya. Dan sebentar lagi jadi istri orang." cumbu sang Ibu, bagai tengah bermain dengan bayinya yang mungil.
Ray pun menghampiri nya. Begitu ramah, seperti yang seharusnya. Bagai seorang wali yang memang harus mengayomi Mei dan Sam saat ini.
" Tono, makasih... "
" Bukan Tono, Bu. Mas Rayan. Itu nama aslinya," tegur Mei.
"Oh... Maaf, salah. Pak Rayan," angguk Bu Lastri.
"Tak apa, senyaman Ibu saja. Tono pun, itu adalah nama asli saya. Marga keluarga."
"Ya, baiklah. Dan sesuai permintaan, semua yang dibutuhkan sudah saya bawa. Termasuk...." ucapan terpotong. Om Edo turun dari bus itu dengan tatapan ragu. Bahkan, takut. Apalagi menatap Ray yang kini begitu Ia takuti dari segala yang Ia hadapi.
"Om? Bagaimana?" tanya Ray, menghampiri dan menjabat tangannya.
"Hanya dengan masih dibiarkan hidup saja, Om sudah sangat bersyukur. Apalagi, masih di izin kan bertanggung jawab dengan semua kesempatan yang kamu berikan, Rayan." ucapnya.
Ia diminta Rayan, menjadi saksi atas segala kejahatan Rum pada Aida. Terutama pada Mama Lia. Hingga rasanya tak ada hukuman yang pantas untuk wanita itu sekarang.