Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Kemesraan ini, jangan lah cepat berlalu.


"Nur kok belum sampai, Mei?"


"Lah, si Nenek. Pake segala manggil Nur. Ngamuk loh, entar." Mei mèmperingatkan Nek Mis.


"Abis, enak aja panggil dia itu. Dari dulu, nenek pengen panggil Nur. Tapi dia selalu ngamuk." tawa Nek Mis, mengingat masa-masa kecil Aida.


Obrolan mereka, lalu menjurus kesana. Hingga dari kejauhan, Mei melihat kedua sejoli itu datang dengan bergandengan tangan.


" Aw... Aw... Awwwwh!" matanya melotot, memperhatikan kedua tangan mereka. "Nek, lihat tuh. Mereka mulai bergandengan tangan tanpa ragu"


"Hah, mana?" tanya Nek Mis, yang beberapa kali mengucek matanya. Wajar, pengelihatannya sudah sedikit rabun. Padahal, itu adalah sebuah moment langka dan manis untuknya.


"Kemesraan ini, jangan lah cepat berlaluu," Mei bersenandung, menyanyikan sebuah lagu lawas yang sering Ia dengar.


"Tumben Mei, nyanyi lagu lama?" tanya Aida, yang telah tiba di depan keduanya.


"Yeah, sesuai keadaan lah ya. Ketika ada dua sejoli saling bergenggaman tangan, mesra, tanpa ada yang berani mengganggunya. Yang lian cuma ngontrak." ledek Mei panjang lebar..


Aida memicingkan mata, Ia lalu melepas genggamannya dari Tono. Meski, sebenarnya Tono masih enggan melepas genggaman itu darinya. Begitu hangat, bahkan mungkin Ia tak ingin membasuh tangan itu kali ini.


" Lepas, ih.. Mandi sana, nanti gantian."


"Iya, Nur." jawab Tono.


Nur ikut masuk dan mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua, karena Nenek dan Mei sudah duluan daritadi.


"Dah ah, Mei pulang. Ngenes Mei disini. Semakin hari, semakin panas rasanya."


"Kamu suka sama Tono? Awas kamu ya, Mei. Jangan macem-macem kamu!"


Mei segera turun dari tempat duduk nya, dan meninggalkan Nek Mis yang masih duduk disana. Santai, menatap langit yang indah dengan jutaan bintang yang terang.


*


"Dev, apa sama sekali tak ada kabar tentang Rayan?"


"Belum ada, Sam. Aku sudah berusaha mencarinya. Bahkan, aku terjun langsung ke kota-kota pesisir pantai. Bahkan, ke pedesaan terdekat. Tak ada tanda-tanda Rayan ditemukan. Utuh, atau....."


"Dev, jaga ucapanmu. Rayan belum mati."


"Sam, kau fikir saja baik-baik dengan nalarmu itu. Rayan sudah dua minggu lebih hilang. Mobil terbakar, dan katanya hanyut. Itu semua sudah diperiksa polisi, tapi tak ada sedikitpun tanda, jika...."


"Dev... Jika kau menyerah, maka pulanglah. Aku akan kesana menggantikanmu."


"Ya, seperti biasa. Tak ada yang percaya padaku." tukasnya, yang langsung mematikan Hp tanpa aba-aba.


Kesal, marah, dan kecewa. Itu yang Dev rasakan. Sulit sekali, untuk membangun kepercayaan semua pihak keluarga padanya. Hanya karena satu kesalahan, membuatnya seolah terbuang dari marga keluarga.


" Aaaargh!" pekiknya. Ingin melempar Hp, tapi Ia sadar jika itu Hp yang baru Ia beli. "Sayang duitnya."


"Rayan, kau dimana? Kenapa tak ada jejakmu sama sekali?" gerutunya, yang mengusap wajahnya dengan begitu kasar.


"Temui aku, Ray. Aku juga ingin di puji mereka. Aku juga ingin di sanjung sebagai anak yang hebat. Seperti kau, dan seperti Sam. Kita bersama bertiga. Tapi, aku selalu jadi yang terakhir."


"Apa kau benar-benar mencarinya, Dev? Kenapa rasa curigaku, begitu tinggi terhadapmu." gumam Sam, yang tengah fokus dengan segala pekerjaan yang Ia hadapi.


Tugasnya menjadi berlipat ganda. Tugasnya bercabang kemana-mana. Ingin mengeluh, tapi tak ada tempatnya mencurah rasa. Semua hanya bisa menuntutnya, untuk menggantikan Rayan dengan sempurna.