Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Jangan egois, bisa ngga sih?


"Lepas, Mei. Lepas!" sergah Sam. Tapi, Mei tetap memeluk dan menarik kaki Sam. Hingga mereka terjatuh bersama di lantai.


"Aakh," desah Mei, dengan tangannya yang terbentur lantai.


"Kak, jangan. Mei mohon," pintanya, dengan menahan rasa sakit yang ada.


Sam tak menggubrisnya. Ia lalu naik lagi ke atas, dan semakin menuju ujung dari tempatnya berdiri.


"Kak Sam!" pekik Mei histeris.


Mei berdiri dengan rasa sakitnya. Ia menyusul Sam naik keatas, menarik dan menyeret jasnya hingga mereka jatuh bersama.


"Turun, Mei!" bentai Sam dengan wajah tampak marah.


"Mei ngga turun, kalau Kakak ngga turun." Mei memeluk tubuh Sam, terlibat percekcokan diatas sana. Namun, akhirnya Mei mampu membawa Sam jatuh lagi bersamanya.


Mei bangkit, meraih kerah jas Sam dengan kasar. Mengguncang guncang tubuhnya beberapa kali dengan brutal, dengan segala emosi yang ada dalam dirinya.


"Jangan egois, bisa ngga sih? Sekali aja, dengerin omongan orang! Mei juga capek, Kak. Capek! Semua orang punya masalah hidupnya sendiri. Emangnya Kak Sam doang, manusia paling malang di dunia ini, Hah! Ngomong, Kak! Ngomong! Jangan diem begini."


Tenaga Mei seolah keluar seutuhnya. Ia tak seperti Mei yang biasanya. Mei yang selau ceria dan manja. Kali ini, Mei dengan berutal seolah tengah menghajar mental Sam dengan membabi buta. Terus menarik jas dan kerah Sam tanpa henti.


" Bangun! Bangun dari rasa sakit. Buktiiin kalau Kak Sam bisa bangkit. Jangan seperti ini. Mana Kak Sam yang dulu? MANA!" pekiknya histeris.


" Kakak gimana mau dingertiin orang? Sama diri sendiri aja ngga faham. Sama orang sekitar aja cuek. Kaka tahu, Mei selalu cari perhatian Kakak. Tapi Kakak ngga pernah respon." tangis Mei akhirnya pecah.


"Mei?" lirih Sam.


"Kakak ngga pernah ngerti, bahasa yang selalu Mei kasih selama ini. Kakak marah, kalau Mei deket Kak Dev. Tapi Kakak ngga pernah larang, atau kasih respon positif ketika Mei mau deket sama Kakak. Mei capek, Kak. Bisa ngga sih, mgertiin orang!" pekik Mei lagi, kembali menarik jas Sam, dan menghempaskan tubuh pria itu di lantai.


Mei terisak, menjauh dari Sam dan nemeluk lututnya sendirian. Tubuhnya juga sakit, apalagi sikunya yang berdarah akibat benturan di lantai yang kasar tadi.


" Mei, maafkan aku," Sam terduduk, dan berusaha menghampiri Mei ditempatnya.


"Maaf, telah membuatmu sakit dan terluka. Aku tak peka, memperjuang kan sesuatu yang sudah tak ada di dunia ini. Tanpa aku sadar, jika ada yang sudah begitu menunggu ku sejak lama."


Sam meraih lengan kiri Mei. Namun, Mei kembali mendesis nyeri dengan lukanya," Hssssh! Sakit. "


" Mei, maaf sekali lagi." tanga Sam berubah arah. Ia tak lagi meraih lengan Mei, melainkan meraih kepala Mei dan langsung memeluknya dengan erat disana.


" Aku ditinggal oleh seseorang yang ku pilih. Tapi bodohnya aku, justru meninggalkan seseorang yang ingin membuatku pulih. Maaf," peluknya dengan erat. Mei terisak dalam pelukan itu. Terasa hangat, apalagi ketika Sam mengusap air matanya dengan lembut.


"Aku, akan menggendongmu kebawah. Keruanganku, dan... Kita sembuhkan lukamu." bujuk nya, lalu membalik arah memberikan punggung nya untuk Mei naiki.