Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Kak Sam mau apa?


Mei diam-diam mengikuti Sam, menaiki setiap tangga yang begitu banyak. Menghantarkan keduanya tepat di atas gedung. Namun, bukan lantai teratas tempat Heli diparkirkan.


Sam berada di ujung pembatas gedung itu. Berdiri dengan angin yang begitu kuat menerpa tubuhnya. Terhuyung, dan masih meragu ketika menatap kebawah.


"Astaga, Kak Sam. Kakak mau apa?"


"Kenapa kamu kemari?" tanya Sam tanpa menoleh padanya.


"Kakak yang kenapa? Ngapain lihat kebawah, kakak mai bunuh diri?"


"Aku capek, Mei. Aku bahkan sudah tak memiliki muka lagi, untuk berhadapan dengan Ray. Bahkan, menatapnya saja segan."


Mei menoleh kanan dan kiri. Ia lupa, jika tas selempangnya dibawa Aida keatas bersamanya, hingga tak bisa meminta tolong pada siapapun saat ini.


" Kak, jangan begitu. Itu dosa, kak. Jangan sia-siakan hidup Kakak. Masih banyak yang sayang sama Kak Sam." bujuk Mei, dengan mengulurkan tangan nya.


"Siapa? Ngga ada, Mei. Fany pergi ketika ingin mengutarakan sayangnya padaku. Aku hanya ingin dia bahagia pun, caranya masih salah, Mei." jawab Sam, lemah.


Mei menggaruk kepalanya. Ia sama sekali tak mengetahui akar permasalahan itu. Siapa Fany, dan apa masa lalu mereka. Tapi yang Mei tahu, Ia tak boleh meninggalkan Sam dan masa seperti ini. Apalagi, jiwa Mei memang sudah terdidik sebagai penyelamat selama ini.


"Apapun yang kita lakukan, berjuang sekeras apapun, masih akan ada yang menganggap kita salah dan gagal. Bangkit, Kak. Bangkit setidaknya untuk diri sendiri." Mei membujuk, dan terus membujuk pada Sam. Memohon dengan segala ketulusan yang Ia miliki.


Sam menoleh, hanya memberikan senyum pahit pada Mei. Menatap semua ketulusan yang diberikan Mei padanya, membuatnya terenyuh. Bahwa masih ada ketulusan di dunia ini.


" Kak, ayolah. Masih ada Mei disini. Kita perbaiki kesalahan itu. Mei bantu." bujuk nya lagi.


Mei semakin mendekat. Namun, Sam justru naik ke tembok pembatas itu. Terpaan angin yang semakin kuat, membuat tubuh Sam oleng dan nyaris jatuh.


" Aaarrhh, Kak Sam! Kak, Mei mohon. Jangan main-main, Kak. Ayo, turun kesini, sama Mei."


"Aku tamat, Mei." Sam mengulurkan senyum sekali lagi, dan hendak menjatuhkan tubuhnya kebawah.


"Kak Sam! Engga, Kak. Engga, jangan!" Mei meraih kaki Sam dan memeluknya erat.


"Mei, hentikan! Kamu ngga tahu rasanya jadi aku. Terjebak dengan masa lalu yang ngga akan pernah ada ujungnya, Mei. Sekarang pergi, dan anggap seolah kita ngga bertemu hari ini."


"Engga, ngga boleh. Kakak ngga boleh begini. Kakak ngga bisa pergi dengan cara begini. Turun Kak, turun. Mei akan terus seperti ini, sampai Kakak turun dari sana. Atau, Kakak bawa Mei terjun ke bawah sana, Kak."


Mei terus menggelendot di Kaki Sam dengan begitu kuat, hingga nyaris tak bisa dilepaskan. Mei lupa, jika Ia baru saja kehilangan sebagian stok makanan nya di kamar mandi.


"Engga, Engga, Engga! Ngga bisa. Kakak ngga bisa pokoknya. Mei akan terus disini sampai Kakak turun."


"Mei, jangan halangi Aku!" Sam menghentak kan kakinya, membuat Mei terlepas dan mundur. Tubuh belakangnya teehempas tembok dengan kuat.


"Aaakh!" pekiknya. Sam tampak terkejut dan merasa bersalah. Namun, Ia tak mungkin mundur lagi kali ini. Ia maju, tap Mei kembali memeluk dan bahkan menarik Kakinya. Lebih kuat, dari sebelumnya.