
Hp Aida berdering. Bukan telepon, tapi hanya alarm nya saja. Waktu sudah menunjukkan pukul Lima pagi, dan Ia harus segera bangun dari tidurnya. Tapi, Ia masih merasakan dekapan Tono dipinggangnya.
"Betah amat," tatapnya pada sang suami yang masih terlelap.
Aida berusaha melepasnya dengan perlahan. Tapi, Tono justru semakin mencengkram pinggangnya. Dan tanpa aba-aba, Tono mengangkat tubuh Aida bagai memindahkan bantal guling, berputar ke posisi belakang.
Buuuughh! Untungnya masih terhempas di kasurnya yang empuk.
"Astaghfirullah, ini orang!" kesalnya. "Dikira aku bantal guling apa?"
Sedikit menjauh, Tono pun menyeret tubuh itu mendekat dan semakin erat dengannya. Memeluknya lagi dengan begitu hangat. Benar-benar seperti tengah memeluk bantal guling baginya.
"Mas, bangun."
"Hmmm,"
"Bangun udah pagi. Aida mau masak. Nanti ngga bisa sarapan."
"Beli aja di warung Buk Ning. Kan banyak, mau menu apa aja ada." timpalnya, bahkan tanpa membuka mata sedikitpun.
Aida hanya menghela nafas panjang. Toh, Tono juga tak melepasnya sedikitpun. Aida akhirnya menerima nasib, lalu memejamkan kembali matanya. Memang nyaman, ketika tidur dipeluk suami seperti itu. Dia belum saja, menemukan sesuatu yang paling nyaman dari tubuh Tono.
"Tidur lagi?" lirik Tono.
"Ya, dari tadi di kekepin. Ngga bisa bangun." jawab Aida.
Tono tersenyum, lalu menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut yang Ia pakai. Toh, hari itu libur, dan Mei juga tak ada. Mereka bebas bangun kapan saja.
Pukul Tujuh pagi. Mei sampai dirumah itu dengan motornya. Menatap keadaan rumah yang bahkan masih terkunci dengan rapi, dan tampak begitu hening.
"Ebuseeeet, Si Enur kemana? Sepi bener?" gumamnya. Ia pun memarkirkan motor, dan mulai mengetuk rumah itu dengan pelan.
"Ai... Mei pulang, Ai. Kamu dimana? Mei laper nih, pengen sarapan." panggilnya. Tapi, sama sekali tak ada jawaban dari dalam.
"Ya, pastinya mereka di dalam. Pintu terkunci dari dalam. Dan mereka mau kemana? Rumah mereka kan disini. Aida tak punya mertua yang harus dikunjungi. Jadi, mereka pasti masih dikamar." celotehnya sendirian.
" Hmmh, halo? "
"Hmmmh, kamu masih tidur, Ai!" pekiknya, memekakkan telinga Aida, dan bahkan membangunkan Tono.
"Hah, siapa? Dimana?" Tono langsung kaget dan mencari sumber suara.
"Iya, baru bangun. Itu pun, karena kamu yang bangunin. Kenapa?" tanya Aida lagi, masih dengan mata yang berat.
"Ai, Mei laper, mau sarapan. Bukain pintunya." rengek Mei dari luar. Aida pun berdiri, dan berjalan membukakan pintu untuk Mei.
"Eitz!" Aida menahan Mei masuk dengan tangannya. "Aku belum masak. Beli makan ke Buk Ning lah. Mau?"
"Astaghfirullah, Aida!! Ngeselin." amuk Mei. Sedangkan Aida hanya tersenyum dengan begitu menyebalkan. Untung saja, Ia meminta dengan memberi beberapa lembar uang. Hingga Mei sedikit reda. Emosinya.
Mei pun kembali pergi dengan motornya, sedangkan Aida masuk dan langsung menuju kamar mandi untuk membasuh muka.
"Astaga...!
" Astaghfirullah, Mas Tono!" kaget Aida, yang langsung membalik tubuhnya.
" Kenapa, masuk ngga ketok pintu?" tanya Tono, yang tengah mandi disana.
" Yang salah siapa? Kalau mandi itu tutup pintunya, kunci dari dalem." balas Aida dengan omelannya.
"Katanya Bidan, udah ngga kaget lah sama beginian. Apalagi, suami sendiri." ledek Tono.
"Nantang, Mas? Nantang, iya? Berani nya nantangin Aida. Udah khatam, udah. Udah sering lihat, bahkan pegang. Dari punya anak kecil, sampai punya orang tua. Hayo, Mas mau apa?" balas Aida, yang menyelonong masuk tanpa menutup matanya lagi.
"Astaga, wanita ini memang pemberani." tatap Tono dengan tajam, dan penuh keheranan.
Untung saja, Tono kala itu masih memakai sehelai kain untuk menutup tubuhnya.