Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Tono atau Rayan?


"Eh, ada demit. Dari kapan nongkrong disitu? Lagi cari bahan gibah?" tanya Mei, berkacak pinggang menghampiri Tante Arum yang berdiri miring bersandar pintu.


"Ngga cari, emang ada. Tuh, temenmu. Yang dengan sombongnya mempertahankan Suaminya. Banggain sana sini. Nyatanya, malah ditinggal pergi." tawanya cetar membahana.


"Mas Tono ngga...."


"Mei, udah." potong Aida. Ia dengan wajah tenangnya, berdiri dan mengayunkan kaki menghampiri Tante Rum.


"Kenapa Tante? Gabut ya? Kirain Aida, Tante lagi sibuk persiapin acara wisuda nya Tiara. Kok malah kesini?" tanya Aida bernada sindiran.


"Kenapa ngomongin wisuda? Ngga usah bawa-bawa Tiara."


"Makanya, ngga usah mancing Aida ngomong. Aida juga punya bahan, kalau cuma sekedar ngajak Tante ribut. Tante bawa Mas Tono, Aida bawa Tiara."


"Tiara bentar lagi wisuda. Nilainya tinggi dan bagus. Ngga kayak kamu, pas-pasan."


Aida tersenyum geli mendengar ocehan itu.


"Ini udah tahun kedua, Aida ninggalin Tiara wisuda duluan. Harusnya, ini tahun ini paling lambat dia selesai. Aida yang ngga sabaran, atau Aida yang kepinteran? Atau malah, Tiara yang terlalu betah menjadi mahasiswi disana?"


"Diam Aida! Sok pinter kamu. Nanti, akan saya bawa Tiara dengan segala kebanggannya." bangga Sang tante.


"Buktiin, jangan cuma omongin. Aida tunggu." tantang nya pada, Tante Rum. Wanita itu memperlihatkan wajah penuh amarah, tapi memilih memutar badan dan pergi meninggalkan Aida.


"Brengsek. Dikata bener-bener malah ngehina orang. Dia kira, Tiara ngga mampu mengungguli dia?" gerutu nya sepanjang jalan.


"Ai, dia pasti..."


"Udah lah, Mei. Kita tahu watak dia kayak gimana. Yaudah, diemin aja. Kita yang tahu, bagaimana keadaannya."


"Iya, Ai. Maaf, hampir aja keceplosan." jawab Mei.


"Iya, lain kali hati-hati." Aida kembali masuk, ketika yakin Tante Rum sudah pergi dari sana.


*


"Saya baik. Hanya, kepala sedikit sakit. Tapi, ini biasa saya rasakan beberapa bulan ini." jawab Rayan.


"Ada yang ingin Bapak tanyakan? Apalagi mengenai pertemuan tadi."


"Saya hanya lupa, mereka semua siapa dan bagaimana."


"Baiklah, saya akan mulai menjelaskan." Mona berdiri, dan mulai meraih Tab yang ada di meja Rayan. Ia duduk kembali, dan semakin dekat untuk menjelaskan siapa saja yang Rayan temui barusan.


Dari segala mereka yang ada. Sebuah nama sedikit terngiang.


"Tuan Damar, dari WM property. Baik, sopan, dan sudah begitu lama bekerja sama dengan HM Group. Tapi..."


"Jelaskan," angguk Rayan, berusaha mencerna semua ucapan Mona.


"Beliau sangat ingin menikahkan Anda dengan putrinya. Adelia Damari."


"Hmmm? Aku menerimanya?"


"Sejauh ini, Anda menolaknya. timpal Mona, yang memang begitu jujur dengan Pimpinannya itu.


Mona menutup Tab kembali. Tak ada yang terlewat satupun, bahkan untuk beberapa saingan bisnis Rayan. Ia terkenal tak takut dengan musuhnya. Hanya saja, yang menakutkan adalah yang berkedok sahabat, atau rekan, tapi menusuk dari dalam.


"Anda bahkan tak pernah pacaran. Dari beberapa wanita yang dekat, merekw mundur perlahan. Karena Mami Bianca yang selalu menghalangi."


"Itu alasan, Sam tak mengizinkan membawa Nur?"


"Salah satunya." angguk Mona lagi.


Rumit. Sangat rumit bagi seorang Tono yang Amnesia, dan harus kembali menjadi Rayan. Bergelimang harta, namun juga musuhnya. Tak seperti Tono. Meski pas-pasan, tapi begitu tenang dan bahagia.


"Welcome back ke takdir nyatamu, Ray. Ini lah, yang harus kamu hadapi saat ini."