
"Kau pulang tengah malam lagi?" sambut Ray, ketika Sam masuk ke dalam rumah nya.
"Kau menguntitku?"
"Aku hanya bertanya. Kenapa, kau darimana?"
"Ray, aku punya urusan ku sendiri. Aku juga butuh privasi, Ray." ucap Sam. Tatapannya, menggambarkan sesuatu. Meminta agar Ray tak terlalu mencampuri urusannya.
Ray hanya tersenyum. Ia merangkul pundak Sam, dan mengajaknya duduk dengan santai di sofa..
"Kau tak tidur? Ini sudah tengah malam. Atau, ada sesuatu?"
"Hanya ingin tanya, bagaimana Fany? Aku mencari fotonya di kenangan kita, tapi tak ada."
"Kenangan?"
"Ya, aku menemukan beberapa album di lemari. Tapi tak ada satu pun foto tentangnya."
"Aaah, kau membuangnya." ucap Sam, tampak sedikit gugup.
"Untuk apa?" Ray menyipitkan matanya.
"A-aku tak faham dengan itu. Hanya kau... Kau yang tahu," gugupnya bertambah, bahkan wajahnya sedikit pucat. Ia tak terlihat seperti Sam pada biasanya saat ini.
Ray tak bahyak bertanya lagi. Ia menelengkan kepalanya, meminta Sam kembali ke kamarnya. Sam pun menurut, dan langsung berlari naik tanpa mau menoleh lagi.
"Aku membuangnya? Tidak, Sam. Kau yang nencurinya." senyum Ray, diujung bibirnya.
Ray segera kembali kekamar. Ia menagap Aida yang sudah begitu lelap di ranjangnya. Ia membelai rambutnya dengan lembut, dan sesekali mengecupnya dengan penuh cinta hingga Aida membuka matanya.
" Ada apa? "
" Tidak, tidurlah." peluknya dengan erat.
Sam merebahkan tubuhnya. Membuka dompet dengan foto Fany di sana. Ia memeluk foto itu, lalu meringkuk memeluk bantal gulingnya. Terasa, seperti sebuah tangan memeluknya dari belakang. Terasa dingin, membuat bulu kuduk Sam merinding.
"Fany," lirihnya.
"Aku rindu kak Sam. Bukankah, Kak Sam suka jika Fany peluk?"
"Nyata? Fany selalu nyata dalam fikiran Kak Sam. Kenapa Kakak gemetar, kakak takut?" ucap nya lembut.
Sam tak berkata apapun. Ia hanya tetap diam dengan hati yang perih, tanpa mampu membalik badan dan membalas pelukan itu. Bayangan itu terasa nyata, sesekali menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Sam. Sam sadar jika itu hanyq halusinasinya. Tapi, Ia tak in ingin melewatkan moment yang baginya indah itu.
Tahu kah, betapa tersiksanya Sam saat ini?
Bahkan sam kembali menitikan air matanya, tanpa mampu bersuara sama sekali.
"Fany... Hikss!" tangis Sam, dalam tidurnya. Sadar hanya mimpi, Ia bagai tak ingin terbangun lagi.
"Kak Sam! Kak sam!" Mei mengetuk pintu kamar itu.
Sam membuka matanya. Terasa begitu lengket dan berat. Bahkan, Ia merasa matanya sedikit sembab.
"Siapa? Ada apa." jawabnya dari kamar.
"Mas Tono, eh Mas Ray panggil. Katanya suruh keluar, sarapan bareng." ucap Mei.
"Ya, sebentar lagi keluar." jawabya datar.
"Okey, Mei duluan," balas Mei. Ia pun berlari turun, menghampiri yang lain di meja makan.
"Bisa pelan ngga? Kamu itu udah dewasa, jangan seperti anak kecil lagi," tegur Mami Bian, dengan tatapan nya yang tajam.
"Lari dari atas ke bawah, apanya yang anak kecil? Emang harus, kayak Tante yang sok anggun dan berkelas. Tapi, diri sendiri merasa terkekang?" lawan Mei.
"Kamu!" Mami Bian berdiri, dengan menyentilkan dua jari pada Mei. Bukan takut, Mei justru berkacak pinggang seolah menantangnya.
"Mei, udah." tegur Aida.
Keributan terhenti ketika Sam turun. Namun, Ia seolah tengah mencari sesuatu. Seperti ada yang hilang dan begitu penting baginya.
"Kau cari apa?" tanya Ray.
"Ti-tidak, aku tak mencari apapun. Ayo, sarapan." ajak Sam, dengan wajahnya yang masih tampak gamang.