
"Kenapa Nenek pergi cepet banget, Mas? Aida belum siap. Aida ngga punya siapapun lagi, sekarang."
"Kamu masih punya aku. Aku yang akan menemani kamu, menggantikan semua yang meninggalkan kamu. Aku janji."
Aida menggeleng meski masih tenggelam dalam pelukan suaminya. Ia masih ragu. Pasalnya, Tono masih belum kembali ingatannya. Dan jelas, belum ada petunjuk, siapa Ia sebenarnya. Hingga masih besar kemungkinan, jika Ia juga akan pergi nantinya.
" Apapun yang terjadi, Nur. Aku akan tetap ada bersamamu." usap Tono di rambut yang terikat asal itu. "Hampiri Mei. Tenangkan dia dan bawa pulang. Aku, akan ikut bersama ambulance."
"Iya," angguk Aida. Ia pun berjalan menghampiri Mei, lalu membujuknya untuk pulang bersama.
"Kita persiapkan tempat untuk Nenek. Setelah itu, langsung kita makamkan. Jangan nunggu lagi." ucap nya, berusaha selalu tenang.
"Belum siam, Ai. Bisa ngga, besok aja." pinta Mei, masih sesegukan.
"Ngga boleh. Kasihan Nenek. Yang paling baik adalah, ketika jenazah segera di makamkan." bujuk Aida. Memang, Aida lebih kuat dari Mei. Semua orang mengakuinya.
Kali ini, giliran Aida yang menyetir motor itu. Untung saja, dirumah Nek Mis sudah ada beberapa orang tetangga yang datang. Mereka sangat berbela sungkawa, atas apa yang terjadi.
"Sabar, Nur." peluk Bu Ning, istri Mang Usman. "Ini, udah jalannya Nek Mis. Ngga ada yang bisa hindarin itu."
"Iya, Bu. Aida cuma syok, seakan masih ngga rela kalau Nenek cepet banget perginya. Apalagi, Mei."
"Iya, Ibu faham. Biar mereka sering berantem, tapi mereka saling sayang." usap nya di bahu Aida.
Ruang tamu telah kosong, dan sudah dibentang tikar. Bu Ning memang memegang kunci cadangan rumah itu, sejak Aida jarang kesana. Dan Nek Mis, sering tidur diwarungnya.
Aida masuk. Mei membantunya mengganti pakaian. Aida mengambil sebuah selendang yang sering dipakai Nek Mis ke pengajian, dan Ia pakai di kepalanya..
"Waktu itu nenek bilang, katanya ada surat buat Ai. Tapi Mei kurang tahu, disimpan dimana. Mei ketiduran waktu itu." lapor Mei.
Bunyi Ambulance pun terdengar mulai mendekat. Makin lama semkin jelas menuju rumah duka. Semua berdiri menyambut, tapi Aida tak kuat dan hanya diam ditempat.
" Bahkan, kalian pun belum juga datang kemari. Keterlaluan." gerutunya, mengingat Om Edo dan Istrinya.
Jenazah dibawa masuk. Tono yang mengangkatnya. Aida hanya menatapnya dengan tatapan kosong, dan air matanya seolah telah mengering. Bahkan hanya mengganti selimut Nenek pun tak mampu.
"Nur, Nenek mau langsung dimakamkan?" tanya Tono.
"Iya, Mas. Pemandian udah siap. Mas mau mandiin?"
"Nur aja. Mas, belum berani."
"Yaudah. Mandi aja dulu, terus ikut shalat jenazah. Anterin Nenek, karna Aida ngga sanggup rasanya"
"Baiklah," angguk Tono, menuruti semua kemauan istrinya.
Ya, seperti yang telah direncanakan. Semua urutan pelaksanaan sesuai dengan rancana. Tono mengantar jenazah Nek Mis, dan mengangkatnya dibagian paling depan. Padahal, itu adalah tugas Om Edo sebagai anak kandungnya.
"Keterlaluan." pekik Aida dalam hati, menahan perih sekali lagi.
Aida kemudian kembali masuk. Ia menyambut para tamu yang datang untuk melayat. Dan memang banyak, karena Nek Mis memang sangat dikenal sebagai sesepuh dikampung itu.
"Hay, kamu ingat saya?" sapa seorang pria begitu ramah.
"Oh, Anda tuan yang menyelamatkan saya tempo hari. Saya ingat." jawab Aida.
"Ya, saya turut berduka cita dengan semua yang terjadi. Semoga, amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan yang maha esa." jawab Dev, yang selalu terkesima pada sosok Aida.