Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Semua menangis


"Nur, maaf. Aku telat, tapi.... Nenek, ku temukan tergeletak di pantai, Nur."


"Hah! Apa? Jangan main-main, Mas. Ini Nenek loh yang diomongin."


"Nur, karena ini Nenek, makanya aku ngga main-main, Nur. Kita bertemu di Rumah sakit. Mang Usman membawanya."


Aida tak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung menutup Hpnya dan menarik Mei yang masih duduk memeluk berkasnya.


"Ikut aku sekarang." ucap Aida, dengan air mata yang sudah menganak sungai.


"Ai... Ai, kamu kenapa, Ai?"


"Pulang, Mei. Kita ke Rumah sakit." Aida berlari cepat mendahului Mei. Ia menaiki moto itu, tapi kuncinta di tarik oleh Mei.


"Mei, apaan sih, Mei. Aku harus cepet ini."


"Tenang dulu, dan jawab. Ada apa?" tanya Mei yang memang harus tegas kali ini.


"Nenek, Mei. Mas Tono menemukan Nenek tergeletak di pantai. Nenek... Nenek ngga tahu kenapa."


"Astaghfirullah, Nenek." Mei ikut syok karenanya.


"Kita haru ke Rumah sakit. Mas Tono nunggu kita disana. Ayo Mei," Aida memohon dengan air mata yang terus mengalir.


"Ke Rumah sakit, oke. Tapi, Mei yang bawa, Aida jangan. Kamu cemas, ngga akan aku biarin bawa motor sendiri."


Aida kemudian mengontrol emosinya. Mengusap air mata dan menghela nafasnya yang terasa perih dan berat itu. Ia lalu mengangguk, mengisyaratkan pada Mei jika Ia telah siap Ia bawa.


Keduanya berusaha tetap tenang selama perjalanan. Terutama Mei, yang menjadi supir Aida saat ini. Perasaan mereka sama, tapi Mei harus lebih kuat dari Aida dalam hal ini. Teringat seperti, kejadian yang sama sepuluh tahun lalu. Ketika Ayah Mei yang ditemukan ditepian pantai tanpa nyawa.


"Mei, cepetan, Mei."


"Iya, bentar, Ai. Sabar dong. Mas Tono juga disana, kan."


*


"Dokter, bagaimana Nenek saya?" tanya Tono, pada dokter yang memeriksanya..


"Pasien mengalami benturan yang cukup kuat. Jantungnya pun seperti sempat megalami nyeri sebelumnya."


"Ya, memang Nenek memiliki riwayat sakit jantung." jawab Tono.


"Semua upaya telah di lakukan. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Nenek Mis, telah meninggal dunia. Bahkan, dari sebelum dibawa kemari." jelas sang dokter.


Tono mengusap wajahnya dengan kasar, menjambaki rambutnya beberapa kali dan beberapa kali membenturkan kepalanya di dinding, hingga Aida datang dan menghentikan aksinya.


" Mas," panggilnya dengan berlari sekuat tenaga.


" Nur?" tatapnya nanar.


"Nenek mana? Nenek baik-baik aja kan?" tanya Aida, tapi Tono bergeming. Ia hanya terus menatap wajah Aida yang penuh harap, akan kabar baik mengenai neneknya.


"Mas, jawab. Nenek mana?" rengek Aida yang air matanya mulai tumpah lagi.


Tono diam, hanya diam dan langsung memeluk istrinya dengan erat. Pelukan itu, cukup menjawab semua pertanyaan Aida.


"Engaaaaak! Ngga mungkin. Nenek ngga mungkin pergi, Mas. Nenek ngga boleh pergi." racau Aida, yang masih belum bisa menerima kabar itu.


Tak lama kemudian, Mei pun masuk. Ia menyaksikan keduanya berpelukan. Dan terjawab pula tanpa ditanya, bagaimana Nek Mis saat ini.


"Engga. Engga, engga, engga! Neneek!" lari Mei ke ruangan observasi, dimana Nenek baru saja ditangani. Bahkan, infus pun belum terpasang di tangan keriput itu.


Mei beberapa kali mengguncang tubuh Nek Mis. Berharap agar Ia masih dapat bangun menemuinya.


"Biasanya, Nenek paling kesel kalau Mei giniin. Kenapa sekarang diem aja?" tangisnya makin pecah, mengisi ruangan yang harusnya senyap itu.