
Aida membawa suaminya pulang. Mei membantu memasak air hangat untuk membasuh tubuh Tono dan langsung memberikannya pada Aida.
"Mei buatin teh hangat juga, mau?" tawar Mei. Tono hanya mengangguk lemah dengan sesekali memijat kepalanya.
"Nur?"
"Kalau belum siap cerita, ngga usah cerita dulu. Yang penting istirahat aja."
"Engga, aku harus bicara."
"Katakan," ucap Aida sembari mengelap sekujur tubuh Tono yang dingin.
"Aku selalu terngiang-ngiang ketika aku hanyut. Terombang ambing oleh air lautan yang dalam. Kepalaku sakit, seperti baru saja terjun dari tebing yang amat tinggi. Seperti, tebing yang ku lihat tadi.".
"Lalu, ada lagi?"
"Mereka berteriak, RAYAN! itu yang terngiang di kepalaku. Entah memanggilku, atau ada orang lain selain aku ketika tenggelam."
"Jangan dipaksa ingat, Mas. Nanti sakit lagi."
"Semua spontan, Nur. Aku tak pernah memaksanya. Itu menyakitkan."
"Yaudah, yaudah. Mas capek, besok libur dulu kerjanya. Jangan sampai...."
"Engga, Nur. Ngga bisa. Aku harus kerja, bagaimana pun keadaannya. Besok, pimpinan akan datang, dan kami akan menemuinnya. Demi masa depan kita, Nur."
Aida menatap tajam suaminya. Tampak jelas, betapa besae harapan Tono pada rumah tangga mereka.
"Baiklah. Tapi janji, harus istirahat malam ini." bujuk Aida.
Teh hangat pun telah terhidang, dan Tono menyesapnya agar sedikit meringankan rasa dingin. Aida menyelimutinya dengan rapat, lalu meninggalkan Tono keluar..
" Apakah, harus terbentur lagi? " fikirnya. Tapi, Aida tak akan pernah menyetujui niatnya itu."
*
"Mona, malam ini berangkat?"
"Iya, Pak. Badai sudah berhenti, jadi kita bisa berangkat. Mari," ajak Mona, menarik koper milik Sam. Mereka berangkat bersama, menuju bandara yang hanya Lima belas menit dari hotelnya.
Tanpa perlu berlama-lama, keduanya sudah naik di dalam pesawat. Terbang menuju kota pesisir, dan akan mulai kembali menyisir tempat dimana Rayan mungkin di temukan.
Tak sampai Dua jam, mereka telah tiba di Bandara berikutnya. Hanya tinggal Satu jam lagi perjalanan darat, agar sampai ditempat yang mereka tuju.
Ketika kejadian itu, memang semua keluarga ada kota pesisir. Mereka tengah menghadiri acara keluarga, sekaligus Rayan yang baru saja mengesahkan kepemilikan Rumah sakit atas nama nya. Tapi, kejadian itu datang dan membuat liburan itu hancur. Semua keluarga harus pulang, meninggalkan Dev karena Ia ada urusan lain disana.
Mobil Rayan, dan semua yang ditemukan. Itu dalam kondisi terbakar habis. Nyaris dinyatakan meninggal, tapi tak ada satu pun pertanda yang meyakinkan semuanya.
"Sampai, Pak." ucap Mona, mengagetkan Sam dalam lamunannya.
"Iya, kita dimana?"
"Di vila. Vila tempat Dev tinggal. Kita akan tinggal disini."
"Dev membeli vila? Terniat sekali Dia. Apa ingin tinggal disini?"
"Saya tidak tahu, Pak. Mari turun, dan istirahat. Saya juga lelah," ajak Mona. Memang, wajah yang biasa mulus itu, tampak sangat kusut kali ini. Rambutnya yang biasa di urai panjang pun, hanya Ia ikat dengan asal.
Mereka masuk. Vila Dua tingkat itu, tampak begitu mewah ditengah semua bangunan sederhana yang ada. Hawa disana begitu tenang, dengan deburan air pantai yang terasa merdu di telinga.
"Dingin. Ya, dingin karena baru saja hujan dan badai." lirih Sam, mengusap-usap lengannya yang berjas hitam tebal.