Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Memaafkan, atau meninggalkan?


"Kau, mengingat sesuatu? Apa yang kau ingat?" tanya Sam, tampak begitu agresif dengan cerita Ray.


"Tidak, hanya mengingat bulan nya yang indah saja. Setelah itu, tak ingat lagi. Hanya bangun, dan melihat cahayaku." jawab Ray.


"Ah, baiklah. Aku, kembali pada Mei."


"Jaga baik-baik Mei, Mas." pinta Aida.


"Ya, meski akhirnya kepalaku nyeri hanya karena dia." jawab Sam, tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar kamar itu.


"Mas, ayo ganti pakaiannya." Aida membantu Ray berdiri. Tangan dan kakinya dingin, dan wajahnya masih pucat.


"Pulang," ajak Ray, ingin menyudahi pesta itu.


"Kenapa? Aida hubungi Sam dulu...."


"Tidak, pulang berdua." ajak Ray. Justru, Ia menghubungi Dev.


"Kau masih di parkiran?"


"Ya, kenapa?"


"Tunggu, aku kesana. Antar kami pulang."


"I-ya, baiklah." jawab Dev. "Tumben, meminta aku mengantarnya?" fikir Dev.


Ia duduk kembali di dalam mobilnya. Memainkan Hp dan membuka beberapa foto kenangan. Tampak dari kejauhan, ketika Aida menggandeng Ray keluar. Ia segera keluar dan menyambutnya.


"Kenapa pulang? Pesta masih lama?" tanya Dev, memapah Ray yang masih lemah.


"Aku tak sakit. Hanya, kepala ini yang terasa seperti melayang-layang. Sesekali terasa berat." jawab Ray. Ia masuk kedalam mobil, dan duduk bersandar dengan nyaman disana.


"Sam mana?"


"Biar dia mewakili ku dalam pertemuan itu. Kita pulang,"


"Baiklah," balas Dev yang langsung memacu mobilnya.


Sepanjang jalan, mereka hanya diam. Hanya Aida, yang terus memantau kondisi suaminya. Dev, hanya melihatnya dari kaca depan. Memuji keberuntungan Ray sekali lagi, yang mendapatkan kesempurnaan untuk kesekian kalinya.


"Mas Dev, terimakasih. Aida sama Mas Ray, masuk dulu."


"Ya, maaf aku tak bisa membantumu. Mama Lia, butuh aku."


Aida pun merasakan, betapa dingin hubungan Dev dan Ray. Tak seperti ketika Dev bersama Sam. Padahal, mereka sama-sama sepupu dari keluarga besar ini.


"Mas istirahat, Aida ganti baju dulu." ucapnya, membawa Ray ke kamarnya.


"Nur, bisa kah aku minta sesuatu?"


"Ya?"


"Ambilkan sebuah buku di perpustakaan. Ada di sudut paling bawah meja."


"Tersembunyi sekali? Buku apa?" tanya Aida, penasaran.


"Tak apa, ambil kan saja."


"Baiklah." Aida pun pergi, setelah mengganti pakaiannya. Berjalan sedikit jauh dari kamar, menuju sebuah perpustakaan. Begitu banyak buku yang disusun rapi. Menggoda Aida untuk duduk dan membaca salah satu dari mereka.


"Oh, tidak bisa. Mas Ray butuh buku itu." tegurnya pada diri sendiri. Aida mulai mencari, semua ditempat yang Ray infokan padanya. Terdapat sebuah buku tebal di sana.


"Wah, ini buku apa? Seperti diary." tatapnya penasaran. Tapi, Ia segera kembali dan memberikan nya pada Ray.


"Mas, ini buku apa?"


"Ketemu? Tutup pintunya dengan rapat." pinta Ray. Ia pun mengulurkan tangan, dan meminta buku itu padanya.


"Aku sudah mengetahuinya, Nur. Siapa yang membuat aku begini. Itu menyakitkan, meski akhirnya mempertemukan kita."


"Lalu, bagaimana? Mau memaafkan, atau meninggalkan?"


"Kita lihat nanti. Aku, kumpulkan dulu semua buktinya. Aku hanya ingin, kau dapat menjaga dirimu sendiri dan tak gampang terpengaruh orang lain."


"Iya, Aida akan berusaha." ucapnya lembut.


*


"Mas Sam, Ai mana?" tanya Mei, yang tengah menikmati makanannya..


"Pulang, bersama Dev."


"Kok, Kita ngga diajak?"


"Biar lah, Mei. Sesekali Ia bersama Dev. Agar Ia sedikit ingat, bagaimana kenangan bersama sepupunya yang itu." jawab Sam. Ia pusing, dengan segala ocehan Mei ditelinganya.