
"Ibu kira, biaya kuliah Aida itu kecil? Rum sampai tahan ngga jadi beli mobil demi dia. Masih juga salah ibu bilang Nur kejam." Tante Rum mengomeli mertuanya. Membahas masa lalu dan terus menerus menabuh genderang perang untuk mereka berdua.
"Dan giliran lulus.... Kerja ngga mau, nikah sama Amrul ngga mau. Malah nikah sama pemuda kere itu. Yang nama sendiri aja ngga tahu. Mana balas budi dia?" imbuh Tante Rum yang semakin larut dalam kekesalannya.
"Lalu, apakah Ibu boleh meminta Hak kepada anak Ibu yang kamu nikahi? Bahwa dari sedikit hartanya, ada hak ibu sebagai yang melahirkannya, Rum. Apalagi, itu anak lelaki."
"Anak lelaki bahkan tak perlu wali! Ketika Ia menikah, Ia harus menafkahi istri dan anaknya. Tapi, itu pun sudah ditambah keponakannya. Serakah!" tunjuknya pada Nek Mis, mertuanya.
"Ya, segampang itu kamu menunjukku serakah. Tapi, kamu sendiri lebih mengenaskan dari aku. Pergilah, aku tak tahu apa yang kamu minta, Rum."
Nek Mis memutar tubuhnya untuk kembali ke dalam. Berusaha tak terbawa perasaan oleh kedatangan menantu laknatnya itu. Ia sudah lelah bertengkar, bahkan tak Ia sapa bertahun-tahun. Bahkan, hanya bertemu di jalan saja Ia jarang tersenyum. Orang lain pun sudah tak heran lagi dengan pemandangan itu.
Seolah Nek Mis berbohong. Tante Rum menerobos masuk ke dalan warung itu. Ia mencari di sekitar lipatan kusri, laci, dan semua yang Ia curigai.
"Hey! Ngga sopan kamu! Ibu panggilin orang kampung, biar kamu di tangkap!"
"Panggilin aja, kalau tenaganya kuat. Dikira kampung kesini ngga jauh?" tantang Tante Rum dengan wajah jahatnya.
Nek Mis hanya bisa diam dan pasrah. Melawanpun, Ia akan kalah tenaga dengan menantunya itu. Jantung nya saja saat ini berdebar begitu kencang, bahkan sudah tak jelas lagi ritmenya. Bahkan, nafasnya terasa begitu sesak.
Tante Rum berhenti setelah tak menemukan apapun. Ia berjalan keluar dengan sok elegan, seolah tak terjadi apapun.
"Puas?" tanya Nek Mis padanya.
"Jangan pernah kamu berfikir, kamu dapat masuk rumah itu lagi setelah sekian lama pergi." ancam Nek Mis, dengan nafas yang makin tersengal.
"Perluku sama Aida. Bukan sama Ibu." jawabnya sombong.
Tante Rum sudah akan melangkahkan kakinya. Tapi, Nek Mis menggenggam lengannya dengan kuat dan menahannya pergi. Berusaha menahan tubuh bongsor itu dengan tubuh kecilnya yang keriput dan lemah.
"Jangan macam-macam kamu, Rum." tatapnya tajam.
"Kunci udah di tangan Rum. Ibu jangan halangi lagi. Lepaskan Rum, Bu."
"Langkahi dulu mayat Ibu, kalau kamu nekat merampok." ucap Nek Mis.
Tante Rum hanya menatapnya sinis. Ia tak perduli apapun yang dikatakan oleh mertuanya itu. Ia berusaha melepas genggaman tangan renta itu dan ingin segera lari. Tapi sayangnya, tangan terlapas dan jatuh ketempat yang salah.
Dukkk! Kepala Nek Mis terbentur kursi yang terbuat dari papan itu..
"Astaga!" pekik Tante Rum, melihat banyak darah mengalir dari dahi Nek Mis.
"Rum, sakit Rum. Tolong Ibu," mohonnya pada sang menantu. Tapi, Tante Rum justru pergi dan berlari meninggalkan nya disana. Entah berlari langsung pulang untuk kabur, atau lari sembari memikirkan cara untuk menyamarkan kematian Nek Mis.
"Sudah mati, atau masih hidup. Bahaya, kalau sampai buka mulut perkara tadi." fikirnya yang tengah kacau.