
Hari telah berganti. Di pagi yang indah itu, mereka sarapan bersama. Bersenda gurau, sembari terus meledek sang pengantin baru. Mama Lia pun sengaja menginap, agar masih bisa meluapkan segala rindu pada putrinya.
Sebuah suara membuyarkan keceriaan mereka. Adalah suara Mami Bianca, yang turun menyeret sebuah koper besar di tangannya.
"Mas, Mami?" tatap Aida, pada sang suami.
Rayan pun menghampirinya, dan membantu sang Mami turun hingga ke bawah. Wajahnya tampak begitu lesu, seakan tak ada lagi semangat hidup dalam dirinya saat ini.
"Mau kemana?" tanya Rayan, meski masih terdengar begitu dingin.
"Mau pergi," jawab Mami Bian. Tertunduk, bahkan tak sanggup lagi menatap wajah Rayan kali ini. Apalagi, semua orang yang ada disana. Ia merasa terhakimi dengan tatapan yang diberikan.
"Pergi? Pulang kerumah Mama mu?"
"Entah, aku tak tahu. Bahkan, aku tak punya tujuan saat ini. Aku bahkan begitu takut, hanya untuk kembali pada wanita yang ku panggil Mama itu." jawabnya, penuh rasa kecewa.
"Aku merasa, jika aku kembali, aku hanya akan menyerahkan nyawaku saja. Aku bahkan, tak mampu membayangkan, apa yang terjadi selanjutnya. Aku takut," imbuhnya, berbicara dengan bibirnya yang gemetar dan air mata yang mulai mengalir.
Rayan tahu persis, ketakutan Sang Mami saat itu. Ia bahkan pernah mendapatinya pulang dengan wajah yang lebam dari sana. Entah apa saat itu, yang tak dapat Ia turuti untuk sang Mama. Rayan pun belum sempat untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.
"Bianca?" panggil Mama Lia.
"Ya, ada apa? Mba Lia mau menghinaku, saat ini?"
"Ngga ada sama sekali, niatan ku menghinamu, Bi. Meski kamu, selama ini tak menyukaiku. Tapi aku tak pernah berminat membalasmu sedikitpun." jawab Mama Lia.
"Aku sakit, melihat kebahagiaan kalian. Sakit sekali rasanya. Kalian mendapat semua yang kalian inginkan. Tapi aku? Aku bahkan tak tahu, akan pulang kemana saat ini. Kesana kemari, hanya rasa takut yang menghantuiku. Bahkan, aku takut ketika Mama menghadangku di jalan, dan bahkan membunuhku disana."
Ucapan Mami Bian, menggambarkan betapa sadis Mama nya. Ya, Mama yang telah memaksanya menikah dengan seorang pria tua tanpa adanya rasa cinta. Untung saja, ada Rayan yang menguatkan hatinya untuk tetap bertahan disana.
Agaknya, Mami Bianca sudah begitu yakin dengan keputusannya untuk pergi. Ia menyeret kopernya kembali. Rayan hanya diam, bahkan terlalu sulit untuk mengucapkan selamat tinggal. Biar bagaimana pun, Mami Bian adalah wanita yang mengurus hidupnya selama Sepuluh tahun ini. Dengan seluruh kasih sayang yang Ia berikan.
"Tunggu...." ucap Rayan.
Mami Bianca yang sudah ada diujung pintu, akhirnya berhenti. Namun, tak berani membalik tubuhnya menatap sang putra.
"Apakah, ada sesuatu yang kau bawa?" tanya Rayan.
"Masss," tegur Aida padanya.
"Rayan boleh periksa tas Mami. Hanya foto kita, dengan Papi yang ada di dalam. Tapi sumpah, Mami bahkan tak berani membawa apapun dari rumah ini." tangisnya, melepas koper itu dari genggaman tangannya.
"Biarin di bawa, itu kan Hak Mami." Aida kembali membujuk suaminya itu.
Rayan hanya diam. Ia menggandeng tangan Aida, dan membawanya kepada sang Mami.
"Mami melupakan sesuatu, yang harusnya Mami bawa." ucap Rayan.
"Apa?"
Rayan kemudian memeluknya. Pelukan yang begitu hangat dari sang putra untuk sang Mami. Begitu hangat, seolah meleburkan semua kesalahan yang telah Ia perbuat selama ini..
"Rayan sayang Mami," ucapnya dengan lembut.
Mami Bian semakin tersedu. Ia meraih wajah Rayan, dan mengecupi pipinya bertubi-tubi.
Ia sangat sadar, telah salah menafsirkan segala rasa cinta nya selama ini.