Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Sikap Om Edo


"Sam?" panggil Mami Bianca di sela sarapan. Bahkan, makanannya pun belum sama sekali tersentuh olehnya.


"Ya, Tante?"


"Kenapa ngga ada perkembangan sama sekali? Ini udah mau Dua minggu. Bagaimana kinerja kalian sebenarnya?"


"Tante... Tante tahu sendiri, semua sudah Sam kerahkan. Bahkan, Davish sudah mencarinya sendiri, bahkan terjun langsung ke lapangan. Ia bekerja mengontrol pembangunan, sembari terus mencari Rayan." balas Sam.


Sam itu begitu sibuk, menggantikan semua pekerjaan yang seharusnya di kerjakan Rayan. Tapi, kini Ia sendiri harus turun tangan sembari terus mencari kabar. Pekerjaannya menjadi bertambah berkali-kali lipat dari seharusnya. Apalagi, ditambah dengan segala tingkah Tante yang memekakkan telinganya.


"Davish? Pekerjaan dia itu ngga pernah beres, Sam. Kenapa harus dia? Tante malah jadi berfikir macam-macam dengannya."


"Tan... Sam mohon, percaya untuk kali ini dengan Sam. Dia juga tak bekerja sendiri. Banyak yang menemani dan mengawasi. Tak mungkin dia macam-macam."


"Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, Sam."


"Ya, termasuk Ibu tiri yang mencintai anak tirinya sendiri." cibir Sam dalam hati. Ia kesal terus di desak. Seolah Ia tak memiliki hak untuk menjalani kehidupan normalnya seperti selayaknya.


"Lusa, Sam akan ke lokasi proyek. Sam akan cari juga ke selauruh penjuru. Bila perlu, Tante ikut dan cari sendiri disana." kesalnya, membersihkan kotoran di wajah dan beranjak pergi.


"Sam, Tante belum selesai bicara! Ngga sopan kamu!" panggil Mami Bian dengan suara lantangnya.


*


"Hari ini, bawa motor sendiri aja. Ngga usah nebeng-nebeng lagi." ucap Aida yang membereskan pakaian Tono.


"Tapi, Om Edo nyuruh bareng."


"Nurut Om Edo apa nurut Aida?" tanya wanita itu, mengagetkan jiwa raga Tono yang awalnya tenang.


"Mulai kelihatan, galaknya." ucap Tono mengelus dada.


"Aida cuma males, nanti dikatain lagi sama Nenek lampir." balasnya dengan wajah masam. Sangat malas meski hanya untuk menyebut nama itu meski sekali saja.


"Sekali ini saja. Hanya sekali lagi. Besok, aku akan bawa motor sendiri."


Suara klakson berbunyi. Tono cepat-cepat menyelesaikan sarapan. Ingin berdiri, namun di tahan oleh Aida. "Biar, sesekali dia masuk menjemput."


"Tapi, Nur. Kasihan, kalau nunggu kelamaan."


"Biarin. Biar dia masuk kesini."


"Aida," tegur Nek Mis padanya.


Aida bergeming. Ia menyuapkan sesendok makanan di mulutnya dengan wajah begitu tenang. Tak peduli, ketika Tono dan Nenek saling melempar pandangan penuh tanya.


"Sesekali dia masuk. Cium tangan ke ibunya. Jangan pas ada kabar, baru dia dateng. Kabar apa yang ditunggu? Giliran kabar buruk, sok perduli nanti."


"Aida, jangan begitu." bisik Tono padanya. Dan benar saja, Om Edo akhirnya masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu depan.


"Assalamualaikum," ucapnya begitu manis.


"Waalaikumsalam, Do. Sarapan?" tawar Nek Mis pada purtranya. Dan entah kapan, terakhir Ia melakukan itu.


"Iya, Bu." datangnya, lalu mencium tangan sang Ibu. Serasa haru, karena Nek Mis tampak begitu merindukan putranya itu.


"Tono, udah siap? Yuk, berangkat." ajaknya pada suami Aida itu.


"Iya, Om." Angguk Tono, yang lalu mengulurkan tangan pada istrinya.


"Aku berangkat dulu," pamitnya, dan dibalas Aida meski hanya dengan berdehem saja.


Aida melanjutkan sarapan, ketika sudah mendengar motor itu benar-benar pergi dari rumahnya.


"Aida, terimakasih." ucap sang Nenek penuh haru. "Akhirnya dia datang, dan mencium tangan nenek setelah sekian lama. Nenek bahagia sekali."


"Ya, meski untuk itu, Ia harus terpaksa." jawabnya datar.