Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Aku lemah, Nur


"Aku berangkat. Dan kau, aku minta kau menginap dirumah saja."


"Apa? Aku harus menginap dan satu rumah dengan Tante Bian? Jangan ngawur kamu, Sam. Ogah!" balas Dev.


"Aku hanya tak mau, dia berbuat aneh-aneh nanti."


"Ya, Dia memang aneh. Nanti, aku akan kesana. Mama Lia, sedang tak enak badan. Aku harus membawanya ke dokter keluarga."


"Baiklah," balas Sam. Ia dan Mona, siap masuk ke dalam pesawat, diiringi lambaian tangan dari Dev.


"Kau menyukainya?" tanya Sam pada Assisten itu.


"Ehmm, tidak, Pak."


"Jangan terlalu percaya semua ucapan Dia. Kau tahu, jejak digitalnya bagaimana.".


"Ya, saya tahu." balas Mona.


Sayangnya, kabar cuaca di tempat tujuan sedang tidak baik. Hingga mau tak mau, pesawat harus menunda penerbangannya. Sam dan Mona, beristirahat sejenak di sebuah hotel terdekat dari sana.


"Mungkin, akan tertunda besok pagi, Pak." terang Mona.


"Haish.. Menyebalkan! Tapi tak apa. Setidaknya aku bisa istirahat disini, semalam. Tak ada gangguan dari Tante Bian malam ini."


Mona mengangguk, lalu pamit untuk kembali ke kamarnya. Sam merebahkan diri di ranjang yang empuk itu. Menikmati dinginnya malam dengan. Suara gerimis yang merdu. Begitu nyaman, hingga terpejam meski hari masih sore.


**


Hujan dan angin semakin deras. Perasaan Aida makin tak tenang. Ia hanya terfikir Tono, yang harus menerjang badai di pinggiran pantai yang Ia lewati. Aida faham benar, meski Tono sudah mendingan sejak berani masuk air laut, tapi untuk ini Ia pasti sakit lagi.


"Terus gimana? Mau dijemput?"


"Mau ngga mau, Mei. Bisa antar aku? Maaf, harus merepotkan lagi."


"Apa sih, Ai. Ngga usah bilang gitu. Tono itu Kakak ku, ngga mungkin ku biarin ketakutan ditengah jalan." balas Mei. Ia pun memasuk kan tas dan beberapa perlengkapan nya ke dalam warung. Lalu, segera menguncinya dengan rapat didalam sana.


Mei mengenakan mantel, karena Ia menyetir motornya. Aida menolak, karena ingin fokus mencari Tono di sekitaran pantai dan jalanan. Ya, sepanjang jalan Ia mencari, namun tak ada tanda-tanda. Angin membuat pandangan semakin buram, sangat sulit untuk melihat dari kejauhan.


"Ai, Ai! Itu bukan? Aku kayak faham sama motornya." tunjuk Mei, setelah berhenti secara mendadak.


"Astaghfirullah, Mas Tono!" Aida memekik, lalu spontan turun dari motornya. Ia berlari menghampiri motor itu, motor yang terparkir terpat di bibir pantai. Aida faham benar, jika disana arusnya begitu deras. Apalagi, saat hujan dan badai seperti ini.


"Mass! Mas Tono!" panggil Aida lagi. Tapi tak ada jawaban.


Ia terus mencari, tak perduli hujan mengguyur tubuhnya. Hingga di balik batu besar, Ia menatap seorang pria. Terdiam diasan memeluk kedua lututnya. Tatapannya kosong ke depan, tepat menatap sebuah tebing tinggi yang sebenarnya begitu jauh disana.


"Mas!" panggil Aida sekali lagi. Ia kemudian menghampiri, dan langsung memeluknya disana.


"Mas kenapa? Ada sesuatu? Bilang ke Aida."


"Nur, ini menakut kan, Nur. Sangat menakutkan. Kenapa aku lemah, hanya karena hujan badai seperti ini? Apakah, saat itu juga sempat terjadi badai?"


"Engga, Mas ngga lemah. Mas hanya belum sembuh dari trauma. Coba bilang ke Aida, apa lagi yang Mas ingat saat ini?" bujuknya, tanpa melepas pelukan dari sang suami.


Tono tampak menggigil kedinginan. Bibirnya membiru, dan giginya mengerutuk. Telinganya seakan familiar dengan suara-suara itu. Kulitnya seakan masih ingat, ketika Ia kedinginan dan nyaris membeku rasanya. Dadanya begitu sesak, dan sulit Ia kembalikan ritma nafasnya agar normal.