Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Motor tua peninggalan ayah


Sebuah motor tua, dikeluarkan dari dapur nenek. Apalagi kalau bukan peninggalan Ayah Aida di masa lampau. Memang masih terawat, karena Nenek Mis selalu memanggil Mang Usman si supir angkot untuk selalu merawatnya.


Tono pun memanaskan motor nya, dan beberapa kali memuji mesin Honda Rx king yang masih begitu terawat itu.


"Woow, mantap sekali." Tono mengelilingi bodi motor, dan terus mengagumi motor antik.


"Udah, jangan di elus-elus mulu. Udah malem juga," tegur Aida, yang datang dengan wajah masamnya.


"Sekedar mengagumi, Nur." jawab Tono, yang langsung langsung berdiri dan menggaruk kepalanya.


"Heleh, Ai cemburu tuh. Pengen di elus juga." sahut Mei, yang mendadak masuk dari pintu belakang.


"Heh! Ngomong apa sih? Iri apaan? Iri kok sama motor." tukas Aida.


Mei hanya menjulurkan lidahnya, lalu menghampiri Nenek Mis untuk membantunya mempersiapkan dagangan esok hari. Sedangkan Aida, naik motor bersama Tono pergi kerumah Om Edo.


"Nanti, kalau disana, jangan banyak tanya ya?" pinta Aida.


"Kenapa? Bukankah, aku harus mengakrabkan diri?"


"Jangan, lebih baik jangan. Turutin omongan Aida. Daripada makin lama disana, cuma karna nunggu kalian ngobrol."


"Iya," jawab Tono yang kemudian fokus menyetir. Itupun, sesuai dengan arahan yang diberikan Aida padanya..


Mereka telah tiba. Dan rumah Om Edo memang tak begitu jauh dari rumah Nenek Mis. Padahal Tono fikir, rumah mereka begitu jauh, jika di cerna dari jarangnya sang anak dan menantu mengunjungi nenek di rumahnya.


"Lumayan gede rumahnya. Orang kaya kah?" tanya Tono, sembara menyetandarkan motornya.


"Arsitek. Lumayan kaya, apalagi masuk kerja karna bantuan orang dalem." jawab Aida dengan datar. Ia menyeret Tono masuk secara tiba-tiba. Untung saja motor sudah berdiri dengan sempurna di parkirnya.


"Assalamualaikum," ketuk Aida di pintu rumah itu. Padahal, bel tersedia disana.


"Waalaikumsalam. Eh, kamu? Ngapain kesini lagi? Mau bayar utang?"


"Kenapa kamu? Suruh tuh, suami keremu belikan. Sangking kerenya, motor museum keluar lagi." cibirnya sinis.


Mata Aida membelalak. Ingin sekali lagi rasanya melawan. Tapi, Tono menarik dan melerainya, "Katanya jangan lama-lama?"


"Iya, maaf." jawab Aida, lalu menerobos masuk dan berjalan menuju bekas kamarnya.


Aida di dalam sendirian, tanpa Tono diperbolehkan masuk kedalam. Tante Rum pun menungguinya tepat di depan pintu, seolah tengah menjaga nya dari incaran maling yang mengincar hartanya.


"Kamu itu orang asing. Identitas aja ngga punya. Mana bisa di percaya," tatapnya tajam, dengan bibir merah yang nyaris meleber kemana-mana.


"Iya, Bu," angguk Tono yang lalu duduk kembali diatas motornya. Dan kemudian, Om Edo datang.


"Loh, Tono kesini? Sama siapa?" sapa nya ramah. Seolah, tak ada terjadi apapun diantara mereka.


"Antar Aida, Om. Katanya mau ambil pakaiannya."


"Kok ngga di suruh masuk, Rum?" tanyanya pada sang istri yang masih patroli.


"Tadi ngga ada yang jagain. Yaudah, masuklah." balasnya yang lalu meninggalkan pintu masuk.


Om Edo mempersilahkan Tono masuk dan duduk. Tono menuruti Aida untuk tak banyak bertanya, dan menjawab pertanyaan Om Edo seadanya. Ia pun diam, ketika Ok Edo pamit untuk mengganti pakaiannya.


" Wah, Design apa itu?" lirik Tono pada sebuah design artisektur. Rumah sakit tampaknya. Terlihat dari beberapa ruangan yang ada.


Tono menghampirinya, memperhatikan ada sesuatu yang salah disana.


"Bangunannya, kurang......" ucapannya terpotong. Justru mengambil penghapus, penggaris dan pensil yang tersedia.


Apa yang akan Tono lakukan kali ini?....