
"Nur kenapa?" tanya Tono, yang menghampiri istrinya selepas membereskan pakaiannya di lemari.
Seperti kegiatan rutinnya, ketika Aida menyetrika dan Tono melipat pakaian yang lain. Lalu, Tono akan mengambil pakaian rapi itu dan memasukkan nya ke dalam lemari. Sedangkan Mei, Ia kembali dengan tidur lelahnya.
"Ngga papa, Mas."
"Wanita itu, kalau udah bilang ngga papa, biasanya ada apa-apa." Tono pun duduk di hadapan sang istri yang menopangkan dagu nya diatas bantal yang Ia pangku.
"Kadang ada rasa takut dan cemas. Itu yang membuat Aida sulit dan berfikir rumit untuk pernikahan kita."
"Apa yang Nur fikirkan?" Tono mulai menatapnya secara intens. Jarinya mengangkat dagu Aida yang mulai tertunduk lesu.
Entah mulai darimana, Aida akan meluapkan keluh kesahnya. Memulai dari segala ketakutan yang Ia rasakan. Terutama, jika Tono kembali pada ingatannya.
" Gimana kalau misal, Mas udah menikah. Mas punya anak, terus Mas inget semua dan ninggalin Aida begitu aja?"
"Satu keyakinanku, jika aku belum pernah menikah. Entah, kalau pacaran."
"Terus, kalau pacar Mas minta Mas kembali, gimana? Aida bisa apa?"
"Ya, kamu istriku, kenapa bertanya tentang pacarku? Misal pacar, kami bisa putus. Dan pastinya, aku pilih kamu sebagai istriku."
"Gimana kalau Mas anak orang kaya? Terus, keluarga ngga setuju sama kita?"
"Hey, hey, hey. Kok fikirannya jauh banget kesana? Tumben Nur seperti ini. Mana Nur nya Mas Tono yang Selalu cuek, jutek, dan ceria?"goda nya pada sang istri.
" Wanita kuat pun, akan galau pada waktunya." timpal Aida, masih dengan segala galaunya.
Malam ini terasa hening karena Aida. Seolah kehilangan sebuah cahaya yang biasanya bersinar dengan begitu terang.
"Nur Aida Rindayani. Kamu itu istriku. Malaikatku. Apapun dan bagaimana aslinya aku, kamu adalah istriku. Ngga ada yang bisa merubah itu. Dan jika aku ingat, dan aku kembali pada keluargaku. Maka aku akan membawamu. Entah cepat, atau lambat."
"Entah, aku juga tak tahu. Hanya, naluri ku adalah untuk melindungimu." balas Tono, mengusap pipi Aida yang mulus berseri itu. Dan semakin berseri, dengan segala rayuan sang suami yang begitu manis.
"Tidur," ajak Aida dengan lembut dan manja.
"Yuk," Tono perlahan berbaring di samping Aida. Mereka tidur tanpa pembatas lagi, bahkan begitu dekat dan saling berpeluk erat.
"Hangat sekali, begitu nyaman dan menenangkan. Teringat pelukan Ayah kala itu. Ketika aku sakit, dan memang hanya ayah yang ada disampingku. Memelukku yang menggigil kedinginan," rasa Aida saat ini.
*
"Selamat pagi...." teriak Mei yang baru bangun, bahkan masih dengan piyamannya.
"Mei, pagi-kok." tegur Aida.
"Soalnya, kalian diem-diem aja. Biasanya, pagi-pagi ada aja bahan ributnya. Sepi." keluh Mei.
Aida hanya menggeleng, menyiapkan sarapan untuk sahabatnya itu. Sedangkan Tono, sudah sarapan lebih dulu karena harus buru-buru berangkat kerja.
"Dah, jangan banyak protes. Sarapan sana, aku mau ke warung. Mau mulia ku buka lagi, lumayan buat tambahan biaya hidup. Sama...."
"Hah, sama apa?" Mei membulatkan matanya.
"Cari duit buat bulan madu." tawa Aida menyeringai, membuat Aida langsung melipat dagunya. Bibirnya pun dimanyunkan dengan begitu kesal. Ditambah, ketika Tono keluar dan pamit dengan istrinya.
"Sayang, Aku kerja dulu," kecup Tono, dikening sang istri. Aida membalasnya mesra, dengan mengusap bahu Tono yang seluas samudera.
"Teros aja, terooos! Udah sayang-sayangan lagi. Aaah, mengkesal!" gerutu Mei.