Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Aida disini, Bu.


Hampir setengah hari Aida dan Mei berada dirumah Dev. Mereka menghabiskan waktu dengan Mama Lia dengan begitu bahagia. Ya, Aida seolah tengah melepas rindunya pada sang Ibu. Meski Ibu nya pun tak memahami akan keberadaan anaknya disana.


"Aku membencinya. Tapi tak ku pungkiri, jika aku sangat merindukan nya. Semua rasa itu telah ku tahan selama ini, bertopeng kuat dan arogansi ku terhadap semuanya."


"Aida, kenapa? Kok ngelamun?" tanya Mama Lia.


"Eng-engga, Ma. Cuma sedang menikmati makanan nya. Enak banget. Mengingatkan Aida, sama masakan seseorang."


"Ya, nama Aida juga mengingatkan Mama sama seseorang. Entah, bagaimana keadaan nya sekarang." tatapan Mama Lia, berubah menjadi murung. Seolah, Ia benar tengah kehilangan sosok itu.


"Apa itu Aida, Bu? Aida disini, Aida anak Ibu. Jika rindu, kenapa Ibu tak merasakan nya?" fikir Aida, dengan segala rasa perih di hatinya. Mei menggenggam tangannya dengan erat. Ia merasakan, apa yang Aida rasakan saat ini.


"Sabar," tatap Mei pada sahabat nya itu. Aida hanya bisa kembali mengangguk. Menghela nafas dan berusaha untuk tegar meski sulit. Ia kembali mengingat janjinya, agar tak mempersulit kehidupan Ray dan Dev untuk berikutnya.


"Aida, pulangnya aku antar atau di jemput?"  tanya Dev.


"Katanya, Mas Ray mau jemput. Tapi ngga tahu, jam berapa." jawab Aida.


"Biasanya, kalau Ray bilang mau jemput, maka dia akan jemput. Jadi, Aida istirahat dulu dikamar." ucap Mama Lia.


"Antar ke kamar Fany, Dev." pinta Mama, pada sang putra.


"Yes, Mam." balas Dev.


Sejak sang Papa meninggal, mereka hanya tinggal berdua di rumah itu. Sama halnya, seperti Mama Bian dan Ray. Tapi, Mama Lia tak aneh seperti Mama Bian yang terobsesi dengan anak tirinya sendiri.


Dev membawa Aida dan Mei kekamar   mendiang Fany. Mereka dibiarkan istirahat di sana selama yang mereka mau.


"Anggap saja kamar sendiri." ucap Dev.


"Iya, Mas Dev. Terimakasih," jawab Mei, dengan riang dan ceria. Dev pun pergi. Ia kembali ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaan di sana.


"Kau pulang, Sam?" sapa Ray, yang juga telah tiba dirumah lebih dulu dari nya.


"Ray?" tatapnya, agak canggung. "Ehm, aku baru pulang. Aku ke makam Mama dan Papa. Maaf, tak mengajakmu."


"Ya, padahal aku gabut hari ini. Andai, kau mau mengajak ku bermain."


"Bermain? Hhh, kau seperti anak kecil, Ray." ledek Sam.


"Ayolah, kita bermain. Kata Dev, kita sering bermain Air soft gun. Benar?"


"Be-benar. Kau, mau main itu?"


"Ya, ayo. Kita hampiri Aida dan Mei dirumah Dev. Sekalian, mengajaknya bermain bersama. Pasti ramai dan menyenangkan." senyum ramah Ray padanya.


"Kau gila? Dev menyukai istrimu, tapi kau biarkan pergi dengan nya?"


"Tak apa. Aida tak akan tergoda. Dia milik ku." jawab Ray, dengan penuh percaya diri.


Sam hanya menggelengkan kepalanya. Tak habis fikir, dengan keputusan gila yang diambil Ray untuk Aida dan sepupunya itu. Padahal, bisa saja Dev membawa pergi Aida untuk dirinya sendiri.


Ray telah berkemas. Ia membawakan beberapa pakaian ganti untuk istrinya. Berlebih, untuk persiapan Mei juga disana. Perhatian nya juga begitu tulus, pada gadis jomblo itu.


"Kau sudah beritahu Dev?"


"Belum, aku ingin memberi kejutan padanya. Tak salah kan?"


"Tidak," geleng Sam. "Ayo pergi, hari semakin sore. Tak enak, ketika sedang asyik main dan harus terhenti karena gelap.".