Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Mencintai anak tiri, membuang anak kandung


Dev mulai gelisah. Ia menggoyangkan kaki nya beberapa kali, dengan terus menatap jam tangannya. Ia pun segera berdiri dan membayar belanjaan, membawa paper bag nya segera menyusul Aida ke toilet. Tak perduli, jika nanti akan menjadi pusat perhatian orang-orang disana.


"Mau kemana?" tanya Aida, yang akhirnga menemukan Dev lebih dulu darinya.


"Lama sekali?"


"Ya, wajar lah kalau lama. Mas saja yang tak pernah mengerti perempuan."


"Kau mengguruiku?"


"Engga, capek... Ayo, pulang." Aida meraih paper bag nya dan berjalan meninggal Dev yang turut di belakangnya. Melenggang dengan santai dan ceria, seolah tak ada beban dalam hidupnya. Tak seperti seharusnya seorang tawanan.


"Kau mau makan?" tawar Dev, memasuki mobilnya dan mulai menyetir keluar dari parkiran Mall.


"Engga... Mama Lia menunggu dirumah."


"Baiklah," jawab Dev.


Perjalanan kembali hening. Keduanya tak saling bicara meski hanya sedikit senda gurau. Terasa begitu kaku, dengan segala keterpaksaan yang mereka jalani.


"Kau mau Hp lagi?"


"Untuk dibuang lagi?" tukas Aida.


"Tidak," balas Dev.


"Untuk apa? Nomor Mei dan yang lain pun sudah tak punya. Hanya sekedar ingin menghubungi suamiku pun kau larang. Yasudah, diam saja."


"Setidaknya, kau tahu dunia luar."


"Untuk apa? Untuk apa jika aku hanya dikurung di dalam. Tak perlu, sudah. Aku lelah. Segera pulang dan aku akan mengurus Mama."


Dev hanya menghela nafasnya panjang, lalu mempercepat laju kendaraannya. Mereka pun dengan cepat tiba dirumah, di sambut Mama Lia yang tengah duduk santai diluar.


"Ma, kenapa disini? Udah mau malam, ngga bagus udaranya." ucap Aida, yang lalu menggandeng tangannya masuk ke dalam.


"Aida akan nginep disini beberapa hari. Tenang aja," jawabnya. Membantu Mama Lia duduk dan segera mengambilkan obatnya. Begitu telaten, mengurus semua keperluannya yang lain.


"Ini Fany?" tatap Aida pada sebuah foto disana. Seorang gadis cantik dengan senyumnya yang manis, ditambah gingsuklnya yang menjadi ciri khas.


"Ya, dia anak yang ceria. Sayang, usianya tak lama. Kadang rindu, bahkan teramat rindu hingga sesak di dada." ucap Mama Lia, mengusap dada nya wajahnya mulai sedih lagi.


"Menyayangi anak sambung dengan begitu tulus. Tapi, anak kandungmu sendiri entah bagaimana kabarnya. Kau tak perduli." gerutu. Aida dalam hati.


"Enaknya menjadi anak sambung," celetuk Aida.


"Kenapa?" lirik Mama Lia.


"Ah, tak apa. Aida hanya menyesalkan nasib saja." gelengnya. Berusaha kembali tersenyum seolah tak terjadi apapun. Bukan tidak, hanya menunggu waktu yang tepat.


Hari memang sudah malam. Mama Lia sudah waktunya beristirahat di kamarnya. Aida keluar dan mengambil makan malam, segera menyantapnya sendiri, tak mau melihat Dev yang sebenarnya juga ada disana. Segera Ia selesaikan, dan segera pula Ia kembali ke kamarnya.


"Kau fikir, aku hantu?" gerutu Dev disana.


*


"Sayang, kamu baru pulang? Kamu dari mana?" Mami Bianca yang menyambutnya. Mengenakan sebuah gaun tidur dengan lengan tipis dan blezernya yang melambai-lambai.


"Mam... Kenapa memakai pakaian begini, keluar? Banyak pelayan disini." tatap Ray di sekelilingnya. Dan lagi, Mei juga belum pulang hingga sekarang untuk mengurusi pernikahnnya dengan Sam.


"Tak apa. Mami dengan putra Mami sendiri. Dan pula, para pelayan sedang istirahat di kamarnya." Mami menggandeng tangan Ray dan mengajaknya naik keatas.


"Biar Ray urus diri Ray sendiri. Mami, kembali saja ke kamar." tolak Ray, dengan melepas tangan Sang Mami dari lengannya.


"Istrimu tidak ada. Biar Mami yang bantu. Mami..."


"No, Mam! Biar... Biar Ray sendiri. Mami pergi, dan sampai jumpa di meja makan," tatapan Abi menunduk. Apalagi dengan gaun yang Mami Bian pakai.


Bagaimana lagi? Bayangkan rasanya ketika ditinggal istri disaat sedang cinta-cintaya. Namun, ada saja yang mau menganggunya dirumah. Ray pun masuk, dan segera meminta Mei untuk segera pulang kerumah.