Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Tolongin Aida, Mas.


Mei pulang kerumah. Tak ada juga Aida disana. Ia bahkan berkeliling untuk bertanya keberadaan sahabatnya itu.


"Tadi Mamang anter, sampai depan warung. Masa ngga ada?" tanya Mang Usman.


"Kalau ada, Mei ngga nyari, Mamang."


"Haduh, kemana Neng Aida nih. Ayo mamang bantu cari." ajak Mang Usman. Ia segera naik motor bututnya, agar dapat mencari ke daerah yang lebih jauh. Sedangkan Mei, mencari disekitar perkampungan.


"Tante Rum? Tapi, masa mau nanya ke dia? Males bangt, ish." tolaknya dalam hati. Tapi, apa boleh buat. Ia harus tetap kesana untuk mengobati rasa penasarannya.


Motor telah terparkir di halaman rumah Om Edo. Om Edo yang tengah mengurus peliharaan nya, kemudian menghampiri Mei dengan ramah.


"Ada apa, Mei? Tumben kemari. Aida mana?" tanya nya.


"Ehm, sebenernya, Mei kesini buat cari Aida, Om. Daritadi, Mei cari dia, tapi ngga ketemu." jawab Mei.


"Lah, dia kemana? Kok bisa ngga ada?" kaget Om Edo. Ia mulai memasang wajah cemasnya, lalu bersiap membantu Mei mencari Aida. Tapi, tiba-tiba Tante Rum keluar dengan wajah sinisnnya.


"Ngapain pula, ikut nyari dia? Dia udah mutus hubungan kita, Yah. Ngga ada urusan lagi, Aida sama kita." ucapnya. Melangkahkan kaki, mendekati Suaminya yang tengah memakai sepatu.


"Itu keponakanku. Tak ada yang bisa memutus hubungan kami."


"Lagian, paling minggat. Dia lagi nyari suaminya, kali. Yang pergi, tanpa kabar dan pesan apapun."cibirnya.


"Jangan asal ngomong ya, Tante peyot. Mas Tono, biarpun ngga pernah balik, tapi dia kasih nafkah buat Aida."


"Heleh, berpaaan. Paling buat ucapan selamat tinggal."


"Tiga ratus juta. Pernah lihat ngga uang segitu? Engga kan? Gadai rumah sono, biar dapet duit segitu." balas Mei.


Mata Tante Rum terbelalak sebsar biji jengkol. Bahkan, Ia sampai batuk gara-gara tersedak oleh cemilannya. Air matanya pun mengalir dengan deras disana.


" Tolongin! Ambilin minum, kek. " omelnya pada sang suami.


"Bohong kamu!" sergahnya pada Mei.


"Terserah. Aida ngga butuh pengakuan, kalau dirinya kaya raya sekarang. Bye!" Mei melengos pergi, meninggalkan sepasang pengantin lawas itu. Ia kembali menyusuri setiap jengkal perkampungan, demi mencari sahabatnya.


**


"Aida, makan dulu." Tawar Tasya, yang masuk membawa makanan.


"Sya, Amrul mau nikahin aku."


"Ya, aku tahu." jawabnya datar.


"Lalu, kenapa kamu diem aja? Kenapa...."


"Kamu ngga tahu, rasanya jadi aku, Da. Menikah dengan lelaki, yang terobsesi dengan wanita lain. Dia tampak  sayang dan perhatian. Tapi, dia menganggap aku ini kamu, Da. Bahkan, diatas tempat tidur. Dia memakai tubuhku, tapi berfantasi jika dia sedang bermain bersama kamu. Sakit, Aida!" bentaknya, dengan berurai air mata.


" Sya. Penyakit itu, harusnya kamu obati. Bawa dia ke psikiater. Lawan, jangan begini. "


" Lawan? Lawan kamu bilang? Dan setelah itu, Amrul akan menceraikan aku. Membuang ku dan ngga akan pernah menafkahi anak ini. Ngga bisa, Da. Biarin, dia nikah sama kamu. Asal aku tetap jadi istri dia."


"Sya, jangan begitu. Ini ngga boleh, Sya."


"Makan. Setelah itu, aku bantu kamu dandan." suapnya pada Aida.


Aida pun pasrah, dan menuruti perintah Tasya padany. Bukan tak ingin menolak suapan itu. Tapi, Aida butuh energi. Rencananya adalah lari saat ijab qabul. Atau, berharap sebuah keajaiban datang untuknya. Dari Mei, atau pun Tono. Suaminya.


Note; buat Readersku tersayang, alur memang lambat ya🙏🙏 otor memang kalau bikin cerita, alurnya lambat😁 otor selesein atu2. Ntar malah kagak jelas kemana2.


Buat ingatan, berangsur pulih sih. Dari sikap, spontanitas, dan semuanya berangsur pulih. Besok biar kepalanya digetok kek di sinetron, biar mendadak sembuh. Wkwkkw. Sehat selalu buat kaliab😘