
"Mas?" panggil Aida, yang berhenti di tengah perjalanan nya menuruni tangga.
"Ya, sayang... Ada apa?"
"Kenapa Mas bawa dia?" tatap Aida, begitu penuh benci pada Om nya itu. Meski Ia tahu, dalang dari semua itu adalah istrinya.
"Dia kunci nya, Nur. Kunci dari semua kesalahfahaman kalian. Tak ada yang saling meninggalkan diantara kalian," jawab Ray. Ia pun melangkahkan kakinya lagi, turun menuju semua yang ada disana.
Dengan langkah bergetar, Aida kini ada di tengah mereka. Menatap Mama Lia dengan segala amarahnya.
" Mana Nur ku, Edo! Kenapa tega kamu, bilang dia udah meninggal? Kenapa!" Mama Lia, bahkan tak segan beberapa kali memberi pukulan di dadanya, secara membabi buta.
"Ma, Ma! Tenang dulu, Ma. Tolong, jelasin ini. Mama punya anak, selain Dev dan Fany?" tanya Dev, tampak gamang dengan semua keadaan itu.
"Iya, Mama punya. Tapi... Tapi Dia bilang Nur Mama sudah meninggal. Kamu jahat, Edo!"
"Berarti, Dev masih punya adik? Katakan, dimana Adik ku sekarang!" Dev yang emosi, langsung mencengkram Om Edo sejadi-jadinya, serasa ingin menumpahkan segala amarah yang ada saat itu juga.
Om Edo semakin ketakutan. Nafasnya begitu sesak hingga rasanya dunia begitu gelap baginya.
" A-Aida. Nur Aida... Itu, adikmu. Itu anakmu, Mba. Waktu itu, Aida ngga jadi ikut ayahnya karena Ibu tahan. Ibu ngga mau, kalau Aida pergi jauh dari dia dan menemui Mba disana. Dan lagi, semua karena Rum."
"Ngomong apa Rum? APA! Ya Allah. Ngga ada habisnya dia,"
"Aku pergi memang karena kemiskinan, Edo... Tapi bukan karena aku ingin cari yang lebih kaya dan yang lain. Aku pergi, karena ingin memperbaiki kehidupan kami. Tega, kalian!"
Untungnya, perselisihan itu terjadi di tempat yang sedikit berbeda. Hingga Mei dan Sam masih bisa berusaha fokus dengan tamu mereka. Meski, Mei sebenarnya cemas dengan Aida.
" Kau dengar, sayang? Bukan Ibu, yang pergi dari mu. Meski memang pergi, tapi sebenarnya demi kamu." bisik Ray pada istrinya. Ia berusaha meluruskan segala salah faham yang ada. Apalagi, Aida memang sempat begitu membenci sang Ibu sejak lama.
"Aida? Aida adik ku? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa semua ini....... Aaaarrrrrggghhh!"
Dev memekik membabi buta. Mengamuk dan merusak semu yang ada di dekatnya.
"Dev, sudah Dev. Jangan seperti itu, Mama mohon." pinta Mama Lia.
Aida menatap Ray, dan Ray melepas genggamannya. Memberi isyarat, bahwa Aida di petbolehkan memeluk untuk menenangkan Kakak nya itu.
"Silahkan. Kau dalam pengawasanku," ucap Ray. Aida pun berlari, dan langsung memeluk Dev. Tangis mereka pecah bersama, seolah tengah dalam sebuah rasa kecewa yang sama.
"Ketika kau merasa takdir mempermainkan mu. Tahu kah kamu, jika permainan itu akan memiliki pemenangnya. Kita ngga ada yang menang. Tapi, kita menemukan sebuah titik pertemuan yang sama." ucapnya pada Dev, yang membalas pelukan erat itu.
"Kau adikku... Ya, kau adik ku. Aku tak mau tahu darimanapun kau. Tapi, kau memang adik ku." ucap Dev. Menegakkan kepala Aida dan menatapnya tajam dengan segala air matanya.
"Kau bukan Fany. Ya, bukan. Tapi kau Aida. Kau adik ku," peluknya lagi dengan erat. Ray pun menatap haru pada keduanya. Tak ada lagi cemburu dihatinya. Untuk apa cemburu? Mereka adalah saudara sekarang.