Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Kau lebay, Ray


"Psssttt!" panggil Tono dengan mata genitnya.


"Apa? Kan udah tadi. Nanti mereka dateng, ngga mungkin minta waktu lagi." balas Aida. Usai memasang dasi, Ia mengusap-usap bahu dan dada Tono dengan lembut.


"Hati-hati disana. Cepet sembuh, terus jemput Aida. Kalau ngga lupa." ucap Aida.


"Justru ingatanku akan semakin terang ketika semua terjadi." timpal Tono. Mengusap dan mencium rambut Aida yang harum, yang akan Ia rindukan besok.


"Assalamualaikum!" panggil Mei.


"Yuk, keluar." gandeng Tono. Aida segera membuka pintu, dan menyambut Mona dan Mei masuk. Mereka mengobrol sejenak, dan lagi-lagi Mona menjelaskan semuanya.


"Bukan tak mengizinkan. Hanya saja, kami justru ingin menjagamu. Selama kami berproses mengobati Tuan Rayan, kami harus menyembunyikan mu terlebih dahulu. Dan saya, belum bisa memanggil Nyonya, Sekarang." ucap Mona dengan segala rasa hormatnya.


"Ini nomor saya. Hubungi jika ada sesuatu. Ada alasan, yang belum dapat saya jelaskan," Mona memberi sebuah kartu nama pada Aida.


"Boleh, saya mengantar?"


"Tapi, hanya sampai perbatasan. Untuk ke kota dan ke Bandara, biar kami berangkat bertiga. Tak apa?"


"Baiklah, tak apa."


"Ngga usah, Nur. Aku semakin tak tega pergi." sambung Tono. Betapa rumit, hanya melepaskan kepergian itu saja.


"Iya, Ai. Jangan deh. Kita dirumah aja. Nanti, malah kamu sedih lagi." bujuk Mei.


"Baiklah. Kali ini, Aida yang menurut." angguknya.


Mona pun berjabat tangan dengan Nyonya baru nya itu. Bahkan, Ia memeluk dengan segala rasa empatinya. Tono sekali lagi mengecup kening istrinya, dan menjabat tangan Mei untuk menitipkan yang tercinta padanya.


" Mungkin, aku disana banyak harta. Tapi, Nur adalah hartaku satu-satunya disini." ucapnya pada Mei.


"Huuuhuuuu, jadi Mei yang terharu." peluknya pada Tono. Dan Ia mendapat usapan lembut di rambutnya.


"Ai ngga cemburu?" lirik nya pada Aida.


"Engga, kalau sama kamu." ucap Aida. Kini tak menangis lagi, karena sudah mulai ikhlas melepasnya pergi.


Mei tahu, mereka semua mempertanyakan apa yang terjadi. Apalagi Tono, yang tampak jauh berbeda dark hari biasanya.


Lambaian tangan mengiringi kepergian Tono. Aida tersenyum dengan begitu manis, bersama segala harap dalam hatinya. Yaitu, kesembuhan dan jemputan Tono padanya.


"Masuk yuk, Ai." bujuk Mei.


"Da, Tono mau di bawa kemana?"


"Di bawa ke, Rumah sakit yang lebih baik, Bu. Supaya cepet sembuh." jawab Aida.


"Itu siapa? Kok seragamnya sama? Keluarganya?"


"He'em, keluarga Mas Tono." ucap Aida. Masih tetap nyaman dengan panggilan itu di bibirnya. Meski Ia tahu, gosip mengenai Tono akan tersebar meski Ia tutupi.


"Tinggal menunggu, Nenek lampir kemari. Persiapkan mental dari sekarang." senyumnya sengit.


*


"Mona, apa lama untuk sampai di rumah?"


"Beberapa jam, Tuan. Biasanya, Anda memilih memakai Helikopter pribadi Anda agar lebih cepat."


"Aku? Punya Heli? Wow," kagumnya pada diri sendiri.


"Ya... Dan Anda sendiri yang bisa memakainya." jawab Mona.


Mereka sampai di vila. Tampak Sam sudah menunggu dengan duduk santai di sofa mewahnya. Tangan kirinya tengah menelpon, dan tangan kanan sibuk dengan laptopnya.


"Sam," panggil Rayan, mulai tampak terbiasa dengan segala De javu nya.


"Hey, kau sudah siap? Mana istrimu?"


"Tak ku ajak. Aku, hanya takut jika tak bisa melepasnya."


"Kau lebay, Ray. Biasanya, kau tak begitu. Meski tak pernah pacaran, tapi kau selalu cuek dengan wanita." balas Sam. Masih tak menyangka dengan perubahan Rayan yang tampak begitu hangat.