Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Kakak Ipar, nih!


Ketiganya berpelukan. Mama, Dev dan Aida. Menangis dengan segala rasa bahagianya. Sebuah keluarga yang tercerai berai dipertemukan dengan sebuah pembenaran.


"Yang kamu pakai, itu cincin Mama. Dan ini, cincin Ayahmu. Jujur, Mama ada sempat ke kampung, beberapa lama setelah insiden itu terjadi. Tapi Tantemu hanya mempertemukan Mama dengan cincin Ayah, dan bilang kamu ngga ketemu."


Mama Lia menceritakan kisah memilukan, yang Ia rasakan puluhan tahun lalu itu. Pergi untuk membantu perekonomian keluarga, tapi terfitnah oleh dengan keji hingga membuat semua orang membencinya. Belum lagi, dengan kabar bohong yang tercipta.


" Mama ngga cari tahu lagi, pembenaran kabarnya?" tanya Aida, yang berbaring dipangkuan sang Ibu dengan begitu nyaman. Dan Dev, disebelah Mama nya dan menyandarkan kepalanya dengan manja.


"Kamu tahu Tantemu. Mama begitu sakit, bahkan rasanya dunia seketika terhenti dan tak mungkin berputar lagi. Frusatasi, dan semua rasa putus asa menjadi satu nyaris membunuh diri ini."


"Maaf, Aida sempat benci Mama. Benci banget, karena Mama pergi tinggalin kami yang...."


"Mama pasti akan berfikiran hal yang sama, jika jadi kamu." balas Sang Mama.


Setelah segala rasa putus asanya. Mama Lia pergi kembali ke kota yang lebih jauh. Disanalah, bertemu Papa Dev dan bekerja menjadi pengasuh Fany.


"Aku awalnya tak suka, ketika ada wanita lain masuk dan mencuri perhatian keluarga. Papa, Fany. Namun, Mama membuktikan kasih sayangnya. Memang tulus," kecup Dev, pada sang Mama.


Ketiganya tampak begitu bahagia, sampai tak ada orang yang berani mengganggu moment indah itu.


" Mas, ngga gabung?" goda Mei pada Ray. Ia pun telah melapas segala riasannya, dan duduk santai membuka beberapa kado yang tersedia bersama Sam di dekatnya.


"Biarkan, mereka butuh waktu bertiga. Sebelum aku mengambilnya kembali dalam pelukanku. Akan ku lepaskan semuanya," tawa Ray terbahak-bahak. Entah, apa yang ada di fikiranya. Mei dan Sam hanya bisa beradu tatap keheranan.


"Jangan saling lirik. Sok-sok'an ngga tahu." tegur Ray, menyadari kelakuan kedua adiknya itu.


"Apa sih, Mas Ray...." Mei mengerutkan dahinya, menepuk bahu Sam sekuat tenaga.


"Mas yang paling deket," balas Mei.


"Ayo, Sam..." goda Ray, dengan mengedip-ngedipkan matanya genit.


"Ray, sudahlah. Aku bisa kena pukul lagi,"


"Ah, kau ini. Lemah sekali di hadapan istrimu," ledek Ray. Ia pun berdiri, lalu menghampiri Sang istri ditempat nya.


"Sayang, sudah?"


"Kenapa, Mas?" tanya Aida, bangun dari pembaringannya.


"Kenapa? Tak bisa kah kau memberi kesempatan untuk kami meluapkan rasa rindu?" tukas Dev.


"Rindu kau bilang?" Ray melotot, dan menarik tangan Aida untuk berdiri di sampingnya.


"Kau sudah mengambilnya dari ku beberapa hari. Yang harusnya rindu itu aku. Tak tahu kah kau, bagaimana rasa nya rindu itu disini!" tunjuk Ray, tepat di dadanya.


"Dia yang menyerahkan diri padaku. Lagipula, aku tak tahu jika itu adik ku. Jika aku tahu, aku... Aku pasti akan memperlakukannya dengan begitu baik. Maaf," sesal Dev.


Aida hanya tersenyum. Ia menatap semua ketulusan itu dari Dev. Bahagia, meski tak bisa bermanja seperti yang seharusnya dan Ia inginkan.


" Udah, Mas. Biar begitu, itu Kakak ipar loh..." tegur Aida dengan lembut. Membuat Dev berbangga diri dan menaikkan kerah bajunya sedikit sombong.


"Iya Ray. Kakak Ipar nih," ucapnya. Terbang setinggi bintang diangkasa. Apalagi, Ia memang tengah begitu bahagia saat ini.