Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Kencan pertama


"Tono, ini gaji kamu." panggil Pak Habib padanya..


Jelas Tono teramat senang. Apalagi, ditambah beberapa bonus yang Ia dapatkan ketika lembur. Cita-citanya membeli cincin untuk Nurnya, akhirnya bisa terlaksana.


"Besok ngga usah nguli lagi."


"Apa?" tanya Tono kaget. Bukan hanya dia, tapi yang lain juga. Apalagi mereka tahu, kerja Tono begitu baik.


"Besok ngga usah nguli." tegas Pak Habib..


"Loh, ngga bisa dong, Pak. Salahnya Tono apa? Kerjanya bagus, dan...."


"Dia ngga nguli. Tapi dia naik pangkat jadi pengawas." jelas Pak Habib, ketika di demo para sahabat Tono.


"Apa?" tanya Tono lagi, semakin kaget dengan ucapan itu.


"Kamu jadi pengawas, Tono." sahut salah seorang sahabatnya.


"Pengawas? Pengawas proyek?" tanya nya lagi.


Pak Habib mengangguk, lalu Ia menjelaskan mengenai alasannya. Kinerja yang baik, dan memang keterampilannya mengecek semuanya. Entah lagi, bagaimana jika mulai mendekorasi ketika sudah hampir jadi. Semua selalu menjadi pengawasan Pak Habib selaku penanggung jawab disana.


"Kamu hafal betul, bagaimana seharusnya Rumah sakit ini dibangun. Seperti, kamu yang merancangnya." puji Pak Habib.


"Hanya kebetulan. Saya, memperbaiki gambar dan pola yang Om Edo buat." jawab Tono.


Pak Habib pun semakin yakin, jika Tono memiliki bakat terpendam dalam dirinya.


"Mungkin saja makin kesini, ada sedikit ingatan yang pulih. Benar kan?"


"Be-benar, Pak." angguk Tono, dengan hati yang sungguh berdebar. Ia pun segera pamit pulang, membereskan semua alatnya. Ia tak sabar, memberitahu Aida akan kabar gembira itu.


"Pasti, Nur akan senang." harapnya. Motor Rx king nya pun kembali di pacu. Dengan cepat, Ia menuju kediaman Amrul, karena Aida pasti masih ada disana.


"Da, kamu belum pulang?"


"Belum, Bu. Kenapa?"


"Tono sebentar lagi pulang, sambutlah. Ngga baik, kalau dirumah ngga disambut sama istri."


"Haruskah?" tanya Aida.


"Bukan begitu, Bu. Tapi nanti, Mas Tono yang jemput Aida kesini. Kami pulang bareng-bareng kok."


"Ooooh, gitu." jawabnya panjang.


Mereka bersenda gurau kembali. Bercerita apa yang ingin mereka ceritakan. Hingga tiba-tiba, sebuah panggilan terdengar ditelinga Aida.


"Pssst, Psssst. Nur, aku pulang. Pulang yok," panggil Tono dengan begitu lembut. Ia menyelinap di balik bilik yang dibuat untuk pembatas memasak dan pesta.


"Eh, kok manggilnya gitu? Kenapa ngga masuk dari depan aja?"


"Engga. Aku mau narik kamu langsung pulang. Ayok?" ajak Tono lagi.


Aida menengok kanan dan kiri. Semua ibu-ibu menatapnya dengan senyum gemas, tapi mengangguk membiarkan keduanya pulang..


"Yaudah, ayok." ucap Aida. Ia keluar, menghampiri sang suami, lalu naik keatas motor legend itu berdua menuju kerumah.


"Ada apa, Mas daritadi senyum-senyum?" tanya Aida, yang perlahan turun dari motornya.


"Aku, gajian. Ini," Tono memberikan amplopnya. Lagi-lagi, Aida bersyukur dengan semua pemberian Tono padanya.


"Terimakasih," ucap Aida, lalu melangkah pergi. Tapi, Tono menahannya.


"Apa?"


"Aku, naik jabatan." ucap Tono.


"Hah, naik? Naik jadi apa, kok bisa?" kaget Aida.


"Jadi pengawas. Tapi katanya, mungkin masih. Bisa naik lagi." jawab Tono, dengan wajahnya yang merona bahagia.


"Alhamdulillah. Bangganya, sama suamiku ini," Cubit Aida pada pipi Tono. Yang tadinya merah, makin menjadi merah padam karena tersipu malu. Entah, bagaimana jika Aida mengecup pipinya.


Aida lalu menggandengnya masuk, menyiapkan air mandi dan makan sore untuknya. Pasti sangat lapar, dapat dilihat dari wajah dan perutnya yang mengempis.


"Makan dulu, ya? Aida mau mandi dulu. Bau asep, seharian masak." pamitnya. Tapi, Tono mencegah dengan menggenggam lengannya. Mengajak nya duduk berdampingan, dan memberikan suapan mesra padanya.


"Kita, ngga pernah kencan 'kan? Mumpung ngga ada Mei, kita kencan yuk? Dirumah aja, nonton tv berdua." ajak Tono. Aida hanya melongo menatapnya.